BHARATANEWS.ID | KOTA BOGOR – Forum Kabuyutan Pakwan Padjajaran (FKPP) mendesak Pemerintah Kota Bogor agar tidak lagi menunda penerbitan Peraturan Wali Kota (Perwali) sebagai aturan pelaksana Peraturan Daerah (Perda) Kota Bogor Nomor 10 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Perilaku Penyimpangan Seksual (P4S).
Bagi FKPP, hingga lima tahun setelah Perda tersebut disahkan, belum terbitnya Perwali dinilai menjadi tanda tanya besar atas keseriusan pemerintah dalam menjalankan regulasi yang telah disepakati bersama DPRD Kota Bogor. Tanpa aturan pelaksana, menurut mereka, implementasi Perda berpotensi tidak berjalan secara efektif.
Ketua FKPP, Lufti Suyudi, menegaskan Kota Bogor bukan sekadar wilayah administratif, melainkan tanah warisan Pakuan Pajajaran yang dibangun di atas fondasi agama, kesusilaan, dan kearifan lokal Sunda.
“Karuhun Sunda menitipkan ajén, lain ngan ukur sajarah. Aya tata krama, aya tatali paranti, aya kahormatan kulawarga. Nilai-nilai éta anu ngajadikeun Tatar Sunda miboga jati diri. Ulah nepi ka jati diri éta luntur ku lantaran aturan nu geus aya teu dipigawe sacara nyata,” Tegasnya.
FKPP berpandangan, Perda P4S merupakan komitmen pemerintah dalam menjaga nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat Kota Bogor. Organisasi tersebut juga menyatakan bahwa perilaku yang mereka nilai bertentangan dengan norma agama dan kearifan lokal Sunda, termasuk LGBT menurut pandangan FKPP, tidak sejalan dengan nilai budaya yang diwariskan di Tatar Pakuan. Karena itu, mereka meminta pemerintah segera melengkapi Perda tersebut melalui penerbitan Perwali agar memiliki arah pelaksanaan yang jelas.
Lufti menilai, Perda yang telah disahkan tidak boleh berhenti sebatas produk hukum di atas kertas tanpa langkah konkret dalam pelaksanaannya.
“Budaya Sunda ngajarkeun silih asih, silih asah, silih asuh, ngajaga martabat kulawarga, jeung ngajaga kahormatan lembur. FKPP berpandangan bahwa perilaku yang bertentangan dengan nilai agama dan kearifan lokal Sunda seperti LGBT itu tidak memiliki tempat sebagai nilai yang patut dikembangkan di Tatar Pakuan. Justru karena itu, Perda P4S harus benar-benar dijalankan,” Imbuhnya.
FKPP juga mempertanyakan kapan Pemerintah Kota Bogor akan merealisasikan amanat Perda tersebut melalui penerbitan Perwali.
“Kami henteu naros naha Perda-na aya atanapi henteu. Perda-na parantos aya. Anu ayeuna dipertanyakan ku rahayat nyaéta, iraha Peraturan Wali Kota diterbitkan? Tanpa Perwali, bagaimana arah pelaksanaan Perda itu akan diwujudkan secara terukur?,” Ujarnya.
Menurut Lufti, penerbitan Perwali bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif, melainkan bentuk konsistensi pemerintah dalam menghormati keputusan yang telah ditetapkan bersama DPRD serta menjawab harapan masyarakat agar Perda tersebut benar-benar memiliki daya laksana.
“Bogor teh lain kota nu teu boga akar. Ieu Pakuan. Lamun urang ngahargaan karuhun, mangka urang oge kudu ngahargaan aturan anu geus dijieun pikeun ngajaga akhlak, martabat kulawarga, jeung kahormatan lembur. FKPP mendesak Pemkot Bogor agar tidak menunda lagi penerbitan Perwali sebagai pelaksanaan Perda P4S,” Pungkasnya. (*)






