BHARATANEWS.ID | KOTA BOGOR โ Ketegangan sosial di Kota Bogor kembali mencuat seiring dengan aktivitas yang melibatkan kelompok jawara silat. Garda Jawara Silat mengadakan konsolidasi terbuka pada malam hari tanggal 28 Agustus 2024 di Gedung Kemuning Gading.
Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk pihak Kesbangpol Kota Bogor, perwakilan Kecamatan Bogor Utara, tokoh masyarakat, budayawan Kota Bogor, serta beberapa organisasi masyarakat seperti Laskar Merah Putih Indonesia, Pemuda Pancasila dan lainnya.
Konsolidasi ini diadakan sebagai tanggapan terhadap reaksi masyarakat Kota Bogor yang masih menentang pembangunan Masjid Miah.
Ketua Laskar Merah Putih Indonesia Korwil 3 Jawa Barat, H. Komarudin, menegaskan bahwa tujuan utama mereka adalah membela agama, bangsa, dan negara, dan bukan hanya soal mempertahankan lahan.
“Saya rasa kita sama tujuannya, membela agama, bangsa, dan negara. Bukan soal membela tanah saja, ini kewajiban kita,” kata H. Komarudin.
ย Ia juga menegaskan bahwa dirinya, baik secara pribadi maupun sebagai bagian dari organisasi, siap turun tangan untuk menyikapi situasi ini.

Seorang jawara silat Kota Bogor, Ismail Al Jufri, menekankan bahwa pembangunan masjid yang baru hanya akan memecah belah umat, mengingat sudah ada masjid di sekitar lokasi. Ia juga mengingatkan agar masyarakat waspada terhadap paham-paham tertentu yang dapat memicu konflik.
“Segala sesuatu di bid’ahkan, di sekitar kan sudah ada masjid, tapi mereka bikin lagi masjid. Ini kan memecah belah umat. Saya khawatir, ini bisa memicu keributan seperti yang terjadi di Timur Tengah,” ujar Ismail Al Jufri. “Kita harus hati-hati, paham-paham Wahabi harus dipersempit,” tambahnya.
H. Jumpa Tarigan, seorang tokoh masyarakat sekitar, turut menyampaikan kekhawatirannya bahwa ajaran tertentu bisa menimbulkan konflik di kalangan masyarakat Kota Bogor.
“Permasalahan ini bukan hanya untuk kami, tapi untuk seluruh masyarakat Kota Bogor, karena ajaran mereka ini bisa membuat konflik di kehidupan keluarga masyarakat Kota Bogor,” kata H. Jumpa Tarigan.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan ormas yang telah mendukung mereka dalam menghadapi situasi ini.
” Terima kasih kepada rekan-rekan ormas yang mendukung kami, karena Permasalahan hambal bukan untuk kami, tapi untuk masyarakat Kota Bogor, karena ajaran mereka ini bisa membuat konflik di kehidupan keluarga masyarakat Kota Bogor, dan sebelumnya sudah pernah terjadi di Tanah Baru,” Tukasnya.
Konsolidasi ini menegaskan posisi kelompok-kelompok masyarakat tertentu yang menolak pembangunan Masjid Miah, dan menunjukkan bahwa isu ini berpotensi memicu ketegangan yang lebih besar di Kota Bogor.






