BHARATANEWS.ID | KOTA BOGOR — Beberapa titik gorong-gorong di Jalan Babadak, Kelurahan Sindang Rasa, kembali mengalami kerusakan. Padahal salah satunya belum genap berumur satu tahun sejak dibangun.
Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Lurah Sindang Rasa, Badru. Ia mempertanyakan pelaksanaan proyek yang dinilai tidak disertai kajian teknis yang mendalam. Hal itu disampaikan pada Rabu (11/03/2026).
Badru menjelaskan, secara pelaksanaan proyek tersebut telah dikerjakan sesuai dengan gambar perencanaan. Namun terdapat sejumlah faktor yang tidak diantisipasi sejak awal, di antaranya kendaraan bertonase berat yang melintas saat kondisi beton masih prematur, faktor curah hujan, serta kajian teknis yang dinilai belum matang.
”Terkait dengan kegiatan tersebut, sebetulnya pihak pelaksana sudah melaksanakan kegiatan tersebut sesuai dengan apa yang ada di dalam gambar. Akan tetapi, ada hal-hal yang tidak diantisipasi sebelumnya. Salah satunya adalah terkait dengan tonase kendaraan yang lewat ke jalan tersebut. Karena jalan tersebut merupakan akses utama menuju perumahan, sehingga kendaraan-kendaraan seperti mobil bak dan truk sering melintas di sana. Padahal kondisi bangunan baru itu belum mencapai umur beton yang maksimal, tapi sudah dipaksakan untuk dilalui. Kedua, faktor alam juga berpengaruh, seperti curah hujan yang cukup tinggi akhir-akhir ini. Namun yang paling krusial menurut saya adalah masalah spesifikasi atau spek,” jelasnya.

Menurutnya, dinas terkait dalam hal ini Dinas Perumahan dan Permukiman (Perumkim) seharusnya melakukan kajian kondisi lapangan terlebih dahulu sebelum menentukan spesifikasi teknis proyek.
”Seharusnya, dinas terkait dalam hal ini Perumkim, sebelum meluncurkan program atau menentukan spek, harus melihat dulu kondisi geografis dan budaya masyarakat di lapangan. Jangan hanya ‘copy-paste’ dari spek tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Ia kemudian mencontohkan praktik pembangunan di negara maju yang menurutnya didahului kajian teknis yang detail sebelum pekerjaan dimulai.
”Saya kasih contoh, kalau di luar negeri seperti Jerman, surveinya itu sangat detail. Mereka melihat siapa yang lewat, berapa beratnya, baru ditentukan ketebalan beton dan jenis besinya. Di kita, sepertinya hal itu belum maksimal dilakukan. Akhirnya apa? Bangunan baru sebentar sudah rusak lagi,” paparnya.
Badru juga mengungkapkan bahwa pihak kelurahan sebelumnya telah menegur kontraktor pelaksana proyek. Perbaikan sempat dilakukan, namun kerusakan kembali terjadi.
”Kami dari pihak Kelurahan sudah menegur pihak kontraktor atau CV-nya, dan mereka sempat memperbaiki, tapi ya rusak lagi karena memang dasarnya speknya tidak kuat menahan beban kendaraan yang ada di sana,” tambahnya.
Ia berharap ke depan perencanaan pembangunan di tingkat kota, khususnya oleh Dinas Perumkim, dapat dilakukan lebih cermat dengan menyesuaikan spesifikasi teknis terhadap kondisi lalu lintas kendaraan di lapangan.
”Harapan saya ke depan, tolonglah para perencana di tingkat Kota, khususnya di Dinas Perumkim, untuk lebih teliti lagi. Gunakan U-ditch yang lebih tebal, gunakan besi yang lebih besar jika memang jalurnya padat kendaraan berat,” pungkasnya.
Penulis : Irpan Alkeysar






