Beranda Bogor Mencetak Generasi Peduli Lingkungan, Laskar Kancil Gelar Aksi “Gerebeg Sampah Dapur Warga”

Mencetak Generasi Peduli Lingkungan, Laskar Kancil Gelar Aksi “Gerebeg Sampah Dapur Warga”

0

BHARATANEWS | BOGOR — Komunitas Laskar Kancil menggelar kegiatan edukasi kebersihan di kawasan Paledang, Kota Bogor, Sabtu (30/11/2025). Acara yang berlangsung di Warung Erek Mantarena sejak pukul 08.30 WIB itu meliputi grebek dapur, pemilahan sampah, pembuatan ecobrick, serta diskusi ramah tamah bersama tokoh komunitas peduli lingkungan. Hadir di antaranya pendiri Komunitas SABTU (Sinergi Sahabat Bogor Bersatu) Ifki Sukarya dan Ketua MPC (Masyarakat Peduli Cidepit) Awi Imam, serta ketua RW 01, 02 dan 03 kelurahan Paledang

Kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian berbagai kelompok masyarakat yang selama ini aktif dalam isu kebersihan dan pemberdayaan lingkungan.

Uniknya, Laskar Kancil merupakan komunitas yang anggotanya terdiri dari anak-anak usia dini yang sejak awal dibina oleh Komunitas SABTU untuk peduli pada kebersihan lingkungan.

Pembina Laskar Kancil, Dedi, menjelaskan bahwa aksi “Gerebek Dapur” dilakukan secara edukatif. Anak-anak mendatangi dapur warga untuk melihat langsung kondisi kebersihan, sambil membantu mengambil dan memilah sampah rumah tangga.

“Intinya kami ingin menumbuhkan kepedulian sejak dini. Anak-anak melihat bagaimana sampah dihasilkan dan bagaimana seharusnya dikelola,” ujar Dedi.

Salah satu anggota Laskar Kancil, Reva, yang kini duduk di bangku kelas 7, turut membagikan pengalamannya. Ia menceritakan bahwa dalam kegiatan gerebek dapur, para anggota sempat mewawancarai warga mengenai kebiasaan pemilahan sampah—apakah sampah organik dan nonorganik sudah dipisahkan atau masih tercampur.

Reva bergabung dengan komunitas ini sejak dua tahun lalu karena ingin lebih memahami persoalan sampah dan mencari tahu bagaimana cara mencegah masalah lingkungan seperti banjir. Ia mengaku masih sering melihat warga yang membuang sampah sembarangan.

“Saya sebenarnya ingin menegur, tapi kadang takut orangnya marah. Tapi kalau ada yang bisa ditegur dengan baik, ya ditegur,” ujarnya.

Usai gerebek dapur warga, para anggota Laskar Kancil melakukan pemilahan sampah menjadi tiga kategori: bernilai ekonomis, residu, dan organik.

Nuraeni, PIC program Lingkungan NU Dijaga, menerangkan bahwa sampah organik diarahkan ke bank sampah, sementara residu digunakan untuk pembuatan ecobrick.

“Botol-botol ecobrick ini nantinya bisa dijadikan pot atau bangku. Selain memanfaatkan residu, ini sekaligus edukasi lingkungan bagi anak-anak,” kata Nuraeni.

Komunitas Sabtu memiliki tiga pilar program: Kampung Nu Endah, Lingkungan Nu Dijaga, dan Warga Nu Berdaya

Ketua Komunitas Sabtu, Ifki Sukarya, menjelaskan bahwa gerakan lingkungan ini sudah dimulai sejak 2017. Berawal dari observasi permukiman, ia melihat tingginya sampah kemasan yang dibuang sembarangan oleh anak-anak. Hal itu mendorong lahirnya Laskar Kancil pada 2018.

“Lebih dari 200 anak telah kami didik. Kini banyak yang menjadi duta lingkungan di sekolahnya. Ini bukti bahwa mereka bisa menjadi agen perubahan,” kata Ifki.

Menurutnya, generasi anak saat ini harus dididik dengan pola dan pendekatan yang sesuai dengan zamannya.

“Harapan kami, Laskar Kancil bisa berkembang ke lebih banyak wilayah dan menginspirasi terbentuknya gerakan serupa di daerah lain,” ujarnya.

Ketua Umum MPC, Awi Imam, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, memberikan apresiasi besar terhadap upaya edukasi lingkungan sejak dini yang dilakukan Komunitas Sabtu dan Laskar Kancil. Menurutnya, pola pembinaan yang dimulai dari anak usia dini merupakan langkah strategis untuk membangun karakter bangsa.

“Pembangunan karakter anak dari usia dini sangat penting, khususnya terkait kesadaran menjaga kebersihan lingkungan. Kebiasaan kecil seperti memilah sampah dan tidak membuang sampah sembarangan akan membentuk karakter mereka ketika dewasa kelak,” ujarnya.

Ia menilai bahwa Indonesia tertinggal dalam hal pendidikan lingkungan yang terstruktur.

“Kita sudah lebih dari 70 tahun merdeka, tetapi belum punya sistem pendidikan lingkungan yang masif, berkelanjutan, dan terintegrasi. Anak-anak kita banyak yang tidak mendapatkan pendidikan dasar tentang sampah dan lingkungan. Karena itu kegiatan seperti ini sangat berharga,” tegasnya.

Awi Imam juga menyatakan bahwa apa yang dilakukan Laskar Kancil harus menjadi contoh bagi wilayah lain. Ia bahkan berkomitmen untuk mendorong kegiatan serupa di daerahnya, khususnya di Kelurahan Kebon Kelapa.

“Saya akan membawa semangat ini ke warga Kebon Kelapa. Gerakan kecil seperti ini bila dilakukan terus-menerus akan menjadi budaya baru yang baik. Kita butuh generasi muda yang peduli lingkungan, bukan sekadar tahu teori, tetapi punya kebiasaan nyata menjaga kebersihan,” tambahnya.

Ia berharap Pemerintah Kota Bogor dan para pemangku kebijakan turut mendukung gerakan akar rumput seperti ini agar bisa berkembang lebih luas dan berkelanjutan.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menumbuhkan generasi muda yang peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Melalui aksi kecil yang konsisten, Laskar Kancil dan komunitas pendukungnya bertekad menghadirkan perubahan nyata di Paledang dan sekitarnya. (jat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here