Beranda Berita Utama Kisah Nenek dari Pekalongan yang Menjadi Penjaga Pintu Palang Kereta di Desa...

Kisah Nenek dari Pekalongan yang Menjadi Penjaga Pintu Palang Kereta di Desa Kampil

280
0
BERBAGI

BHARATANEWS.ID|PEKALONGAN _ Merasa terpanggil untuk menjaga keselamatan warga, maupun pengguna jalan yang setiap hari melintasi perlintasan kereta api tanpa palang pintu.

Perlintasan kereta api di Desa Kampil, memang tidak dilengkapi palang pintu, padahal tiap hari ramai oleh warga maupun pengguna jalan yang melintas.

Seorang nenek bernama Kasturah (56), warga di Desa Kampil, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah rela menjadi penjaga perlintasan kereta api tanpa dibayar maupun mengharapkan upah.

“Saya menjadi penjaga perlintasan kereta api tanpa palang pintu karena tidak tega, apabila ada warga yang melintas menjadi korban kecelakaan di perlintasan tersebut,” kata Kasturah saat ditemui, Minggu (2/2/2020).

Kasturah menceritakan kalau ia menjadi penjaga perlintasan kereta api, karena menggantikan suaminya Andimal (58) yang sejak dua tahun lalu meninggal dunia.

“Dulu sebelum suami saya meninggal, suami saya menjadi penjaga perlintasan kereta api di sini.”

“Pasca meninggalnya suami saya, ketika saya tidur pasti selalu bermimpi bertemu suami dan suami saya bilang ‘bu tolong dijaga perlintasan kereta api tanpa palang pintu api neng kono’ dan itu hampir satu minggu saya bermimpi itu,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan pekerjaan yang dilakukan itu memang benar-benar ikhlas.

Dirinya juga tidak pernah meminta untuk digaji. Namun, ada beberapa warga yang melihat ia karena kasihan lalu mengasih uang

“Meskipun sedikit yang penting ihklas dan saya hanya bisa membantu memberikan aba-aba ketika akan ada kereta api yang lewat,” jelasnya.

Nenek Kasturah (56) Seorang Penjaga Palang Pintu Kereta Api, warga Desa Kampil, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan

Saat disinggung mengenai, datangnya kereta api yang mau melintas dirinya mengaku sudah mempunyai firasat dalam hati.

“Kalau tanda ada kereta api mau melintas itu sudah ada. Secara kasat mata dari jauh sudah kelihatan, namun saya juga sudah memiliki firasat tersendiri sehingga ketika akan ada kereta api maka warga saya minta berhenti,” tuturnya.

Saat musim hujan seperti ini, banyak pengguna jalan yang terpleset di perlintasan kereta api dikarenakan perlintasan yang licin.

Dia menambahkan ia menjaga perlintasan kereta api tanpa palang pintu dari pagi hari hingga malam hari.

“Saya mulai menjaga dari pukul 07.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB, setelah itu istirahat sampai pukul 14.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB,” tambahnya.

Keberadaan nenek Kasturah yang menjadi relawan penjaga perlintasan kereta api tanpa palang pintu ditanggapi positif oleh warga maupun pengguna jalan.

Bahkan, semua mengaku terbantu dengan aksi nenek Kasturah. Alhasil, warga maupun pengguna jalan kerap memberikan uang sekedarnya untuk membantu nenek Kasturah.

“Adanya mbah Kasturah sangat membantu warga sekitar mas. Anak saya, kalau berangkat dan pulang sekolah sering lewati perlintasan kereta api di sini. Saya ucapkan terimakasih kepada mbah Kasturah yang sudah membatu kelancaran arus lalu lintas di perlintasan kereta api tanpa pintu,” kata Safitri (30) warga sekitar.

Hal serupa diungkapkan oleh Eko (44) warga Bojong mengatakan aksi yang dilakukan Kasturah, sangat menguntungkan bagi pengendara motor yang akan melintasi di sini.

“Walaupun saya tidak asli warga sini, saya sangat diuntungkan dengan adanya nenek Kasturah.”

“Harapan saya, ada palang pintu sederhana atau manual agar keselamatan warga yang melintas di sini lebih merasa aman,” tambahnya. (Indra Dwi Purnomo)