BHARATANEWS.ID | BOGOR – Satlantas Kota Bogor akan menggelar Operasi zebra lodaya selama 12 hari, dan dimulai dari tanggal 03 Oktober di enam titik jalan raya wilayah Kota Bogor, Jumat, (30/11/2022).
Dalam rangka mewujudkan peningkatan tata tertib berlalu lintas dan menjadikan Kamseltibcarlantas (keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas) yang presisi. Satlantas Kota Bogor juga akan menggelar operasi zebra di semua titik dan akan dimulai pada Oktober mendatang dengan mengedepankan preemtif dan preventif.
Adapun 7 kriteria pelanggaran yang dapat berpotensi untuk ditindak adalah :
- Pengendara yang menggunakan ponsel saat berada di jalan raya.
- Anak dibawah umur yang mengendarai motor.
- Berbonceng tiga atau berboncengan lebih dari satu.
- Pengendara yang tidak melengkapi perlengkapan dalam berkendara, 4 roda wajib safety belt dan pengendara roda dua wajib memakai helm SNI.
- Pengendara yang mengkonsumsi minuman keras / alkohol.
- Pengendara yang melawan arus.
- Pengendara yang kebut-kebutan dan melebihi batas kecepatan.
Dalam penyampaiannya saat diwawancarai oleh awak media Bharatanews.id. Kasatlantas Polresta Bogor Kota, Kompol Galih Apria, S.I.K, M.I.K, menjelaskan, operasi tersebut akan digelar di seluruh titik yang ada di wilayah Kota Bogor.
“Semua di enam titik, bogor selatan, utara timur, barat tengah. Kita mobile semua,” jelasnya.
Dirinya juga menjelaskan bahwa pengemudi yang ugal-ugalan akan jadi prioritas sesuai hukumnya dengan at line mobile, dan tidak mengizinkan adanya pengendara dibawah umur.
” Jadi yang ngebut ngebut memang kita prioritas kekumnya itu seperti itu, tapi itupun menggunakan atline mobile,” jelasnya.
” Dewasa itu kan 17 tahun berartikan, kalo dia SMP, SD dia tidak bisa mengendarai mobil atau pun motor, tambahnya.

Tidak hanya itu, Kasatlantas juga menerangkan bagiamana cara mereka untuk mendeteksi para pengendara yang terindikasikan adanya pengaruh minuman keras saat berkendara, dengan mempersiapkan dua alat test penggunaan alkohol. Yaitu yang satu dengan cara alat tiup dan satu lagi dari alat deteksi ludah.
“Kita udah punya alat untuk test penggunaan alkohol itu, baik dari secara alat tiup sama alat deteksi dari ludah. Jadi kita minta meludah terus dimasukan indikator kertas, kalo biru berati ada kandungan alkohol. Akan tetapikan tidak serta merta pengendara motor kita periksa itu, misalnya dia yang melawan arus, yang terlibat kecelakaan atau misalnya gak pake helm ugal-ugalan nah itu kita akan sarankan untuk di cek itu,” terangnya.
“Adapun kita lebih ke arah preemtif sama preventif jadi kum itu ataupun penindakan ataupun tilang itu adalah jalan terakhir dalam pelaksana zebra kali ini,” kata Kasat.
Dalam kesempatannya Galih juga membeberkan nanti di hari senin akan ada kegiatan acara gelar pasukan sebelum melaksanakan gelar operasi zebra, pihak kepolisian juga akan mengundang anak-anak, pelajar, orang tua, dan guru-guru untuk ikut mendeklarasikan stop dan cegah anak mengendarai kendaraan.
“Nanti pada waktu apel gelar pasukan, hari senin nanti Insyallah, kita akan undang anak-anak, pelajar yang usianya masih dibawah, orang tuanya juga kita akan undang di haru senin itu sama guru-gurunya sebagai pengganti orang tua, kita undang, kita akan deklarasikan, kita akan janji bersama bahwa mulai hari ini stop dan cegah anak untuk mengendarai motor. Karena bukan hanya saja berpotensi untuk membuat kecelakaan dan merugikan dirinya sendiri tetapi berpotensi untuk memberikan gangguan pengendara lain,” beber Galih.
Ia pun memberikan alasannya sebagai bentuk cara perhatiannya untuk anak yang dibawah umur, jika pendewasaan mereka memang masih sangat rentan dan berpotensi menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan atau bahkan lebih buruk lagi. Hal itu yang menjadikan anak-anak sebagai prioritasnya untuk diperhatikan.
“Karena anak pada saat dibawah usia 17 tahun, kedewasaannya masih kurang, rentan kedewasaannya dia masih belum bisa, sehingga itu yang harus kita prioritaskan agar anak selamat. Bukan berati kita membatasi gerak dari titik satu ke titik lain, tapi memang untuk anak, saat ini dia secara psikis, mental, maupun moril, maupun fisiknya dia masih belum memadai terhadap dia menggunakan kendaraan motor tersebut sendiri.
Terakhir, Kompol Galih juga berharap dalam gelaran operasinya itu, masyarakat bisa patuh dalam aturan berlalu lintas, serta melengkapi sarana perlengkapan dalam berkendara agar meminimalisir kecelakaan yang ada, apalagi sampai kehilangan nyawa.
“Artinya jadikan patuh berlalu lintas itu bener bener menjadi nafas, ketika kita mau berangkat tentunya kita harus menggunakan sarana perlengkapan, berkendara, baik dari sisi helmnya sebagai pelindung, dari sisi kendaraannya pun harus prima, dilengkapi dengan spion sebagai tambahan kendaraan berkendara, yang kita upayakan adalah untuk mencegah terjadinya kecelakaan, dan mengurangi fatalitas korban fatalitas kecelakaan, jangan sampai sesuatu yang terburu buru, terus dia ngebut karena terburu buru itu dia engga menggunakan atau dia lepas helm dan sebagainya itu sayang gitu, karena sampai sekarang ini banyak sekali kejadian-kejadian yang meninggal dunia waktu berkendara, itu harapan kita,” Pungkas Galih Apria. (Aal)






