Beranda Berita Utama Ramadhan Tanpa Ibu

Ramadhan Tanpa Ibu

2098
0
BERBAGI

BHARATANEWS.ID | OPINI – Hanya dalam hitungan jam, Saya, Kamu dan seluruh umat Islam yang lain akan memasuki Ramadhan. Pada bulan ini, setiap Muslim diwajibkan untuk berpuasa menahan nafsu dari menjelang fajar (Imsak), hingga terbenamnya Matahari (Azan Magrib Berkumandang) serta menjalankan ibadah lainnya yang nilai pahalanya pun berkali-kali lipat.

Karena itu, ibadah ini sangat membutuhkan dukungan kolektif dari semua pihak mulai dari keluarga, sahabat, lingkungan masyarakat, pemerintah dan swasta agar tercipta kondisi bulan Ramadahan yang sejuk dan damai.

Tetapi ada salah satu sosok yang bagiku sangat berperan penting dalam menciptakan suasana Ramadhan yang aman, tentram dan damai yakni Ibu. Mengapa Ibu? Karena Ibu adalah salah satu sosok yang akan sangat sibuk dan mendedikasikan dirinya untuk kegiatan ibadah puasa bagi dirinya dan juga bagi keluarga.

Ramadhan kali ini, Ibu tak lagi mampu untuk menyajikan hidangan khasnya di bulan Ramadhan. Tak bisa menyantap lagi masakan dari tangan ibu saat sahur.

Wanita kelahiran Kasaka, 1965 itu meninggal pada Minggu 11 Desember 2018 di Rumah Sakit Bahteramas setelah terbaring sakit selama kurang lebih 6 bulan. Hingga kini, saya merindukannya. Dan tentu saja saya semakin menyadari bahwa rasa rindu itu tidak akan berhenti di hari-hari selanjutnya

“Deniiiiiiiiiiii..Sahur…Sudah mau imsyak…” aku rindu suara itu saat ibu membangunkan Saya beserta kedua saudaraku untuk bersantap sahur bersama. Ibu tak lagi disini, Aku hanya bisa melantunkan do’a semoga Allah memberikan tempat yang layak disisi-NYA.

Rasanya tidak benar kalau berbicara, memanggil, bahkan terus-menerus menangisi orang yang sudah meninggal. Namun sejujurnya logika ini kadang tidak bisa diterima ketika rindu menyeruak dalam jiwa. Apalagi jika orang yang telah tiada dan dirindukan itu bernama ibu.

Saya yakin, banyak anak di dunia ini yang mengalami pengalaman kehilangan sosok seorang ibu.

Dulu, kata orang-orang semakin engkau dewasa, semakin mampu engkau mengontrol dirimu sendiri. Tapi rupanya itu tidak berlaku ketika kita mengalami kehilangan. Lagi-lagi kalau yang hilang dan pergi adalah seorang ibu.

Tidak bermaksud membuat orang yang masih memiliki ibu lantas mengasihani kami yang sudah kehilangan ibu. Tapi mungkin bisa memberikan suatu perenungan, untuk benar-benar memuliakan ibu jika dia masih ada di samping kita. Jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Kepergian ibu meninggalkan kekosongan yang tidak terjelaskan. Banyak hal yang terpikirkan, tapi sulit diungkapkan. Namun yang paling tidak tertahankan adalah rindu.

Bicara soal rindu, sejak kehilangan ibu, rasa rindu bisa muncul tiba-tiba di mana saja dan di situasi apa saja. Aneh, tapi begitulah misteri rasa rindu itu. Tidak peduli di keramaian, dijalan sekalipun, kalau mengingat ibu, pasti rindu. Sehingga kadang-kadang harus pintar-pintar menyembunyikan emosi.

Tidak hanya rindu, sering kali pula, kami yang telah kehilangan ibu berandai-andai.

Seandainya ibu masih ada, mungkin kami akan sering bercerita bersama. Seandainya ibu masih ada mungkin akan lebih banyak hal berbeda yang terjadi. Seandainya ibu masih ada, mungkin aku akan…,Juga seandainya ibu masih ada, mungkin banyak hal-hal berat yang bisa dilalui dengan lebih ringan. Sedalam itulah kehadiran seorang ibu dalam hidup anak-anaknya.

Untuk kita yang merindukan ibu yang sudah tiada di momen hari Ramadhan ini. Jangan malu untuk bersedih namun jangan pula terpuruk dalam kesedihan. Rindu tidak dilarang, tapi ingatlah bahwa ibu tidak pernah menginginkan anak-anaknya menangis dan larut dalam kesedihan. Hapuslah air mata dan berbahagialah untuk ibu!

Jika ibumu masih ada di dunia, jangan pernah sia-siakan kesempatan yang ada untuk memuliakannya, ibu layak menerima segala kebaikan dan kebahagiaan. Saya bangga terlahir dari Ibu Wa Ode Fariku Binti La Ode Dinani.

Penulis: Denyi Risman, S.Si (Jurnalis Bharatanews.id)