RE-FOCUSSING: KEMANDIRIAN ENERGI

11674
BERBAGI

Oleh: DR. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng. IPU.

Accurate, Perfect dan Professional (APP) merupakan tiga karakter kunci strong leadership yang mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin visioner termasuk sikap pantang menyerah dan berfikir jauh kedepan. Sikap dan karakter inilah yang memungkinkan organisasi memiliki lompatan dalam penguasaan Iptek, inovasi, daya saing dan kemajuan peradaban. Terobosan yang dimiliki, mampu mematahkan setiap rintangan yang menghambat pencapaian tujuan organisasi yang dipimpinnya.

Persaingan ketat negara-negara di dunia untuk meningkatkan daya saing dalam memenuhi kehidupan yang berkelanjutan terlihat ketika negara-negara itu giat menggali dan menguasai Iptek, riset dan inovasi. Inovasi yang menjadi jargon dalam pemanfaatan hasil penelitian tidak ada implikasi nyata jika tidak didukung oleh energi yang cukup. Energi telah menjadi variable penting dan bahkan telah menjadi “darah yang mengalir” untuk menumbuh-kembangkan inovasi. Kelangkaan energi diyakini menghambat pertumbuhan ekonomi, dinamika industri akan mengalami stagnasi, bahkan negara akan menjadi miskin tak berdaya. Oleh karena itu energi menjadi barang yang mahal dan penting, hingga dapat menjadi biang sengketa oleh berbagai negara. Tidak menutup kemungkinan berbagai pertempuran antar negara dipicu oleh sengketa energi ini. Tak terpungkiri bahwa negara yang semakin maju, akan memerlukan pasokan energi yang semakin tinggi.

Pada umumnya energi dapat dibagi kedalam tiga jenis utama, yaitu energi tak terbarukan, energi terbarukan dan energi baru. Energi tak terbarukan terdiri dari energi yang bersumber dari fosil, diidentifikasi bahwa energi ini akan habis dalam waktu dekat. Energi terbarukan yakni energi yang tidak pernah akan habis sampai kapanpun karena dapat memperbaharui dirinya secara berkelanjutan seperti tenaga surya, bio energi, arus laut termasuk energi angin. Sedangkan energi baru adalah energi yang ditemukan jauh setelah pemanfaatan energi tak terbarukan dan energi terbarukan sebagai akibat dari kebutuhan yang selalu meningkat untuk pertumbuhan, kesejahteran dan kelangsungan hidup manusia di dunia. Energi baru yang memiliki kapasitas besar adalah energi nuklir.

Meskipun di Indonesia mengalami penurunan pemakaian energi dibanding dengan prediksi dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) tetapi diyakini bahwa hal ini akan berjalan sementara waktu dan selanjutnya akan meningkat dalam waktu yang tidak terlalu lama. Hal itu karena adanya trend kebutuhan energi dunia yang meningkat pesat. Disebutkan bahwa peningkatan permintaan energi lebih rendah dibandingkan peningkatan 3,4 persen per tahun terhadap ukuran yang diacu dari Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) dunia, tetapi dalam jumlah sebagaimana terlihat dalam “Energi Outlook” yang dilaporkan oleh British Petrolium menegaskan bahwa kebutuhan energi dunia semakin meningkat. Hal ini telah dilansir dalam laporan itu yang menyebutkan prediksi peningkatan sebesar 30 persen dalam kurun waktu 20 tahun kedepan, dengan peningkatan kebutuhan rata-rata sebesar 1,3 persen per tahun. Permintaan sumber daya energi itu antara lain disebabkan oleh faktor kepedulian manusia terhadap lingkungan hidup dan semakin tingginya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam laporan yang mengemukakan tentang permintaan terhadap migas, dan batubara dikemukakan tetap menjadi primadona dan merupakan sumber energi dominan hingga tahun 2035 mendatang. Disebutkan juga bahwa kebutuhan gas bumi diperkirakan meningkat lebih cepat dibandingkan minyak atau batubara karena akselerasi tingkat pemakaian Liquid Natural Gas (LNG) yang mengacu pada tren harga gas bumi Amerika Serikat. Meskipun demikian, prediksi permintaan minyak meningkat namun tidak setinggi gas bumi, dan pemanfaatan batubara dunia akan menuju titik puncak pada sekitar tahun 2020.

Ditegaskan dalam laporan itu, energi baru dan terbarukan akan mengalami peningkatan pesat hingga empat kali lipat dalam dua dekade ke depan, dengan tingkat pertumbuhan sebesar 7,6 persen per tahun. China diperkirakan menjadi pusat pertumbuhan energi terbarukan mengalahkan pertumbuhan gabungan antara Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Menipisnya Cadangan Energi

Peningkatan kebutuhan energi yang sedemikian tinggi seiring dengan bertambahnya penduduk, aktivitas transportasi serta dinamika industri mengakibatkan menurunnya ketersediaan dan cadangan energi konvensional sehingga terganggu ekosistem. Hal ini akibat dari dinamika pembangunan yang memanfaatkan sumber-sumber energi sebagai motor penggerak. Akibatnya, pencarian sumber-sumber energi baru giat dilakukan oleh berbagai negara untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut, terlebih di negara berkembang yang sedang menggalang kekuatan untuk bersaing dengan negara maju.

Indonesia, proyeksi kebutuhan energi telah dirilis dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang menegaskan kritisnya kebutuhan energi pada tahun 2025 dan tahun 2050. Diperkirakan jika pertumbuhan ekonomi bisa dijaga di level 7% maka kebutuhan energi menjadi 412 MTOE pada tahun 2025 dan menjadi 1030 MTOE pada tahun 2050. Sememtara itu posisi Indonesia pada tahun 2015 sebesar 166 MTOE. Ini berarti bahwa kebutuhan energi meningkat sekitar 246 MTOE selama kurun waktu 2015 sampai 2025 dan sekitar 618 MTOE selama kurun waktu 2025 hingga 2050. Dari perkiraan itu dapat diperkirakan bahwa kenaikan kebutuhan energi sekitar 24.6 MTOE setiap tahun, atau sebesar 286.1MWH.

Energi Baru dan Terbarukan.

Melihat kelangkaan energi ini maka sejumlah perguruan tinggi dan lembaga litbang didorong oleh pemerintah untuk meneliti, mengembangkan dan menguasai teknologi energi untuk kepentingan pembangunan, terutama untuk meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), biogas, fuelcell, pembangkit tenaga arus laut, gelombang laut, dan tenaga surya. Program-program Riset hilir, Science Technology Park, Pusat Unggulan Iptek, dan bahkan pengembangan program studi dan Politeknik dikembangkan untuk mendukung pengembangan iptek energi. Sejumlah Lembaga litbang seperti BPPT, BATAN, LIPI, BIG termasuk Perguruan Tinggi ternama mengerahkan kemampuannya untuk meningkatkan ketersediaan energi. Tidak sedikit dana pemerintah digunakan untuk mendorong riset dibidang energi ini.

Namun faktanya energi terbarukan yang sedang dikembangkan ini sebagian besar tidak dapat digunakan sebagai based load sehingga tidak dapat diandalkan untuk membangkitkan industri. Karena itu para peneliti terus melakukan upaya untuk mencari solusi terhadap energi dengan kapasitas besar, stabil dan handal, diantaranya adalah energi nuklir.

Saatnya Menggunakan Energi Nuklir.

Tak terpungkiri bukti menurunnya cadangan energi fosil memiliki korelasi terbalik dengan trend pemanfaatan nuklir sebagai pembangkit yang kian diminati banyak negara untuk mendorong kesejahteraan dan daya saing. Sementara, pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) ini diiringi dengan pesatnya inovasi dalam tingkat keamanan, sehingga International Atomic Energy Agency (IAEA) memberi jaminan keamanan yang sangat tinggi terhadap PLTN ini.

Telah banyak fakta kuat bahwa PLTN merupakan pembangkit yang relatif tidak mencemari atmosfir dan menimbulkan efek rumah kaca, pemanasan global dan hujan asam, bahkan memberikan benefit yang nyata terhadap kelangsungan lingkungan hidup dibanding dengan pembangkit konvensional seperti minyak, gas, dan batubara. Skala pembangkitan yang besar dan stabil menjadikan pembangkit energi nuklir sangat diminati negara maju. Karen itu energi nuklir dapat diperankan sebagai based load energi, berguna untuk membangkitkan industri yang bekerja secara terus menerus dengan daya yang besar.

Namun sejumlah keuntungan itu tidak akan dapat dicapai jika tidak dilakukan melalui kajian yang teliti, pengelolaan yang tertata dan terprogram secara baik, jaminan keamanan serta penerapan system yang prima. Penggantian bahan bakar nuklir, daur ulang radionuklida, pengendalian rekayasa, perlindungan keselamatan perorangan, dan system pengendalian harus dilakukan sesuai prosedur yang ditetapkan secara internasional karena sesungguhnya kecelakaan nuklir dapat terjadi lebih disebabkan oleh kesalahan manusia atau bencana alam.

Karena itu, pemimpin yang visioner dengan leadership tinggi sangat diperlukan dalam membangun dan mengoperasikan PLTN.

Pemimpin Visioner dan Strong Leadership untuk Perencanaan dan Pembangunan PLTN

Pemimpin visioner memiliki pandangan terstruktur terhadap visi dan misi yang akan dicapai oleh organisasi atau kelompok demi keberhasilan capaian dan tujuan. Kepercayaan diri yang berakar dari kematangan visi ini membuatnya menjadi sosok yang tidak ragu-ragu dalam bertindan dan menghadapi risiko. Kalkulasi yang accurate, perfect, profesional dan teliti menjadikan kemampuannya dapat dihandalkan, bahkan dengan inner sense yang tidak semua orang miliki kepemimpinannya mampu menerobos rintangan yang menghambat. Human skill yang dimiliki pemimpin visioner mampu mencapai tujuan dengan proses problem-solving. Visi pemimpin visioner bukan hanya sekedar slogan belaka dalam awang-awang namun mampu membuktikan dalam aksi nyata yang diserap oleh anggota organisasi melalui kerja sama dan sinergi.

Perumusan visi yang jelas dan komitmen yang kuat mampu “menghipnotis” anggota organisasi. Pemimpin visioner merupakan sosok yang profesional meyakini nilai-nilai luhur terutama ketika energi menjadi penting untuk kemajuan peradaban.. Mampu meningkatkan net-working dengan menjalin hubungan yang efektif dengan berbagai kalangan, kolega dan juga bawahan melalui motivasi dan partisipasi secara natural dan spontan. Pemimpin visioner memiliki kemampuan berkolaborasi, menjalin kemitraan dan mampu membagi visi serta makna dengan kolega lain. Mereka mampu menunjukkan rasa hormat kepada setiap orang dan cermat dalam mengembangkan semangat tim.

Pikiran yang kreatif melalui paradigma baru serta inspirasi dalam melakukan kegiatan mampu memberikan dorongan motivasi kepada anggota untuk mencontoh aksi pemimpinnya. Meningkatkan professional skill para pegawai bisa dilakukan dengan memberi menularkan kemampuan pemimpin kepada karyawan, yang berguna untuk mendukung keberhasilan pekerjaan, seperti bagaimana menjadi disiplin atau wawasan dibidang networking. Pemimpin yang baik selalu mengembangkan kemampuannya dan mau mengakui kesalahan. Hal inilah yang akan berguna bagi pengembangan diri menjadi semakin profesional.

Dampak dari karakter menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual membuat pemimpin visioner mampu mewujudkan rasa integritas pribadi yang memancarkan energi positif bagi para anggotanya. Pemimpin yang visioner mampu mengubah paradigma lama, dan menciptakan strategi yang “di luar kebiasaan”, mengubah pemikiran konvensional dengan pemikiran yang lebih sistematis dan terencana.

Sebagai pemimpin visioner selalu melatih dirinya dalam menghadapi berbagai situasi yang membutuhkan keputusan yang cepat. Dengan keputusan itu, pemimpin visioner mudah melihat dan membaca pergerakan, baik itu dari pelanggan, kompetitor, dan mitra bisnis.

Sejumlah karakter, sikap dan perilaku pemimpin visioner dan strong leadership diatas sangat diperlukan bagi pembangunan PLTN pertama di Indonesia.

Penulis adalah Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, bidang Relevansi dan Produktivitas. Dosen Senior Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.