Ketika Para Napi Bom di Indonesia Dipertemukan dengan Korbannya

126
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Pemerintah Indonesia mempertemukan para narapidana (napi) Bom Bali, Bom Kuningan dan lainnya dengan para korban yang selamat. Para napi akan meminta maaf atas serangan yang mereka lakukan.

Sekitar 120 militan yang direformasi meminta maaf kepada puluhan korban. Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris mengatakan para korban selamat yang dipertemukan dengan para napi itu termasuk korban Bom Bali 2002 dan Bom Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada tahun 2004 atau dikenal sebagai Bom Kuningan.

Pertemuan direncanakan berlangsung tiga hari di sebuah hotel di Jakarta yang dimulai Senin (26/2/2018). Namun, pertemuan ini tertutup bagi media kecuali pada acara di hari terakhir.

”Banyak narapidana militan telah berubah dan mengambil jalan yang benar bersama kami dengan memanfaatkan pengalaman mereka untuk mencegah orang lain melakukan kekerasan,” kata Idris kepada The Associated Press. ”Fakta-fakta ini telah mengilhami kita untuk mendamaikan mereka dengan korbannya.”

Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar dan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, telah memenjarakan ratusan militan sejak pengeboman di Bali yang menewaskan lebih dari 200 orang, yang kebanyakan orang asing.

Upaya meyakinkan militan yang dipenjara untuk meninggalkan kekerasan memiliki hasil yang beragam. Di penjara-penjara yang penuh sesak, sebagian napi militan mampu berkomunikasi dengan pendukungnya di luar untuk melakukan serangan baru.

Sedikitnya 18 mantan tahanan militan telah terlibat dalam serangan di Indonesia sejak 2010, termasuk serangan bom bunuh diri dan serangan bersenjata pada Januari 2016 di Jakarta Pusat yang menewaskan delapan orang, termasuk penyerang.

Febby Firmansyah Isran, yang menderita luka bakar hingga 45 persen di tubuhnya akibat pengeboman di Hotel J.W. Marriot di Jakarta tahun 2003, mengatakan sulit untuk melakukan pertemuan dengan napi yang melakukan serangan bom. Kemarahannya telah memperburuk kesehatannya.

Namun, atas desakan istrinya, Isran bersedia menghadiri pertemuan tersebut. Dia mengatakan bahwa dia menerima apa yang terjadi padanya sebagai takdir Tuhan.

”Saya telah memaafkan mereka, memperbaiki proses pemulihan saya dan membuat saya tenang,” kata Isran, yang mendirikan kelompok pendukung untuk korban pengeboman.

Kelompok tersebut kini memiliki 570 anggota, sekitar 60 di antaranya menderita cacat fisik total.

Menurut Idris keluarga dari orang-orang yang tewas dalam serangan bom menderita secara psikologis dan mengalami kesulitan ekonomi.

Namun, acara yang disponsori pemerintah tersebut ingin mendorong dukungan bagi militan yang menolak kekerasan dan mencoba menjadi bagian dari masyarakat arus utama setelah dibebaskan dari penjara.(SINDOnews) (Muhammad Fadhil)