Jadi Wilayah Terluar, Kepulauan Riau Rawan terhadap Radikalisme dan Terorisme

26
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Letak geografis Kepulauan Riau yang mencapai 96 persen terdiri dari laut membuat tingkat kerawanan terhadap masuknya paham radikalisme dari luar cukup mengkhawatirkan.

Ditambah lagi, Kepulauan Riau merupakan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia. Hal ini yang perlu disikapi dengan serius agar ancamanterorisme tidak terjadi di Kepri.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius saat ditemui di Mapolda Kepri, Kamis (22/2/2018) mengatakan, wilayah Kepri kerap dijadikan pintu keluar. Hal itu diungkapkan Suhardi seusai memberikan pembekalan upaya pencegahan dan penanganan organisasi radikal dan aliran sesat serta ancaman terorisme.

Bahkan, berdasarkan hasil penanganan yang dilakukan Densus 88 dan dari data BNPT, tingkat kerawanan Kepri terhadap masuknya paham radikal sebesar 85 persen.

“Apalagi di Kepri pernah terjadi beberapa kali kasus ditangkapnya organisasi radikal yang ingin menghancurkan negara tetangga. Salah satunya akan melakukan pengeboman di Marina Bay Singapura, tempat titik kumpulnya orang-orang yang ingin ke Suriah, hingga sebagai jalur lintas pengiriman bantuan pemberontak di Indonesia, seperti di Poso,” ungkap Suhardi.

“Hal ini membuktikan kalau Kepri sangat rawan penyusup terorisme dan melalui pertemuan ini, setidaknya dapat memberikan pemahaman dan berbagi ilmu pengetahuan dalam antisipasi perkembangan paham radikal, aliran sesat, dan anti-Pancasila yang belakangan mulai kembali mengancam situasi kondusif Indonesia,” kata Suhardi.

Suhardi mengaku, saat ini pihaknya juga masih melakukan penyisiran dan pendalaman dari kasus-kasus sebelumnya di Kepri. Sebab, tidak menutup kemungkinan masih ada sisa pengikut organisasi radikal dan aliran terorisme.

“Hal ini juga terpantau dari beberapa medsos yang mulai terlihat ke arah organisasi paham radikal ini,” ujar Suhardi.

Sementara itu, Kepala Imigrasi Kelas I Khusus Batam Lucky Agung Binarto mengatakan, dalam penanggulangan bahaya teroris di Tanah Air, khususnya di Kepri, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan instansi terkait.

“Kami terus melakukan pemantauan, baik kepada WNA yang masuk ke Kepri maupun WNI yang keluar dari Kepri menuju ke Singapura dan Malaysia. Apabila ditemukan hal yang mencurigakan, atau orang-orang yang dicurigai BNPT, kami langsung melakukan pemeriksaan dan kemudian menyerahkan kepada pihak kepolisian,” ucap Lucky di Mapolda Kepri.

Lucky mengakui, sepanjang tahun 2017, Imigrasi Batam telah menggagalkan belasan WNI yang terlibat organisasi radikal, yang akan bepergian meninggalkan Indonesia melalui jalur Batam.

“Lebih kurang belasan WNI yang kami gagalkan terindikasi terlibat organisasi radikal dan aliran sesat. Namun, angka pastinya saya lupa, yang jelas belasan sepanjang 2017,” tutur Lucky.

Adapun Kapolda Kepri Irjen Didid Widjanardi mengaku, saat ini wilayah hukum Polda Kepri terbilang aman dan kondusif, meski sebelumnya sempat terjadi penangkapan sejumlah orang yang terlibat organisasi radikal.

“Babinkamtibmas yang kami miliki terus melakukan sosialisasi hingga ke lingkungan RT dan RW, meski belum optimal. Namun, kami yakin hal ini mampu menciptakan rasa aman dan kondusif di Kepulauan Riau,” kata Didid.

Bahkan, sejumlah program yang berkaitan dengan pemusnahan organisasi radikal, aliran sesat, dan anti-Pancasila terus dilakukan, salah satunya yaitu Quick Wins.

“Quick Wins adalah penertiban dan penegakan hukum bagi organisasi radikal, aliran sesat, dan anti-Pancasila,” ungkap Didid.

“Selain penyuluhan, Polda Kepri juga melakukan patroli di kawasan perairan Kepri dan pelabuhan-pelabuhan, dengan menggunakan 11 kapal motor yang disiapkan dari Ditpolairud Polda Kepri,” ujarnya. (Kompas.com) (Rifaqih Hidayatullah).