Kelas Sosial Dan Gaya Hidup

2417
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BISNIS –¬†Permintaan konsumen akan produk (barang/jasa) tergantung dari kemampuan dan keinginannya dalam membeli. Konsumen dapat saja menunda atau bahkan menghilangkan pengeluaran-pengeluaran, ketika dianggap bukan saat yang tepat untuk membelanjakan uangnya.

Ada orang yang menikmati setiap aktivitas belanjanya, sehingga mengeluarkan uang pada aktivitas ini merupakan hal yang menyenangkan. Orang yang memiliki perilaku akan uang seperti ini dinamakan spendthrifts. Kebalikannya adalah tightwads, mirip2 pelit, membelanjakan uang itu rasanya bagaikan sebuah penderitaan. Kabarnya, pria itu lebih dominan tightwads dibandingkan wanita yang lebih dominan spendthrifts.

Orang-orang yang optimis akan masa depan perekonomiannya, cenderung akan kurang memikirkan untuk menabung dan akan lebih berani untuk menambah utang, bahkan cenderung membeli barang2 yang mencerminkan kenyamanan hidup di atas standard (discretionary items). Orang-orang yang pesimistis akan masa depan perekonomiannya, akan cenderung berperilaku sebaliknya.

Resesi ekonomi global telah banyak mengubah gaya hidup para “fashionistas” menjadi “frugalistas” yang lebih memikirkan manfaat jangka panjang dan jumlah uang yang dapat ditabung/disimpan.

Sederhananya, setiap anggota masyarakat itu terbagi dua secara relatif, yakni orang yang berpunya (the haves) dan yang tidak berpunya (the have-nots). Kelas sosial menyatakan seberapa banyak seseorang dalam memiliki dan menggunakan segala sumberdaya yang bernilai. Ada status sosial yang diperoleh seseorang karena faktor keturunan (warisan keluarga) yakni ascribed status, ada juga yang karena hasil kerja kerasnya (achieved status).

Komponen-komponen kelas sosial secara garis besar terdiri dari prestise pekerjaannya dan pendapatan yang akan mencerminkan untuk apa uang dibelanjakan,lebih penting dibandingkan seberapa banyak uang dibelanjakan.
Budi Setiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here