Siswa SMAN 7 Bogor Dicekoki Minuman Keras Dan Dipukuli Oleh 20 Orang Seniornya

1486
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Berawal dari postingan Samsul dengan Akun bernama ‘Samidi’ di Facebooknya yang menceritakan bahwa Anaknya yang bersekolah di SMAN 7 Bogor telah dipaksa untuk nongkrong sesuai pulang sekolah, dicekoki minuman keras, diajari tawuran dan dipukuli oleh 20 orang seniornya, kejadian tersebut kembali mencoreng nama dunia pendidikan di Kota Bogor serta menjadi bahasan hangat masyarakat Kota Bogor.

Samsul Anam warga Sinargalih RT 2/7, Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat mengatakan, dirinya sudah melaporkan kejadian tersebut ke Pihak Sekolah untuk mengusut pelaku yang telah memperlakukan hal buruk kepada LJ, anaknya yang menduduki kelas X.

“Saya masih menunggu langkah pihak sekolah, belum melaporkan ke kepolisian karena masih menghargai pihak sekolah. Harus ada langkah terhadap anak-anak yang terduga melakuka bullying,” kata Samsul, Selasa (12/09/17) siang.

Samsul mengatakan pada Senin 9 September 2017, sekitar pukul 21:00 WIB LJ belum pulang ke rumah, padahal LJ tidak pernah pulang telat.

Saat Samsul menelpon LJ, LJ seperti ketakutan, dan Samsulpun merasa heran serta curiga ada sesuatu yang sedang menimpa anaknya.

“Waktu LJ pulang, dia cerita disuruh minum sqma kaka kelasnya, dipukuli, ditendang oleh kaka kelasnya sendiri yang berjumlah 20 orang. Ini satu hal yang perlu direspon oleh masyarakat, ini mengarah kekriminal berat,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Kepsek Bidang Humas, Agus Setiadi mengatakan, orang tua korban sudah diundang resmi pukul 10:00 WIB tadi, kepala sekolah juga sudah mengumpulkan jajaran sekolah untuk bertemu dengan orang tua murid termasuk Babinkamtibmas dan Babinsa untuk berunding.

“Intinya tadi orang tua melaporkan, pihak sekolah mengcroscek. Saya akan menemui ketua RT setempat untuk mengecek apakah anak-anak sekolah ada di taman Palupuh pada malam hari. Saya akan ke rumah korban akan mengajak ngobrol anaknya, kalau semua langkah croscek sudah dilakukan dan aksi bullying terbukti,” ungkapnya.

Menurutnya perihal sangsi, sekolah mempunyai aturan, anak-anak yang terlibat akan dipanggil. Akan diberikan tindakan tegas, kalau terbukti aksi tersebut. Sekolah SMA N 7 jam pulang sekolah pukul 15:30 WIB, kemudian diberikan toleransi sampai 17:00 WIB dengan pengawasan security.

“Kalau ada kejadian seperti bullying Biasanya terjadi diluar jam belajar, sulit untuk mengawasi pada jam itu,” (dikutip dari bogorone.co.id)

Berikut isi pesan orang tua korban yang dibuat dalam status facebooknya.

Bapak dan ibu sekalian, teman-teman FB saya, terutama yang tinggal di Bogor, dan terutama sekali yang anaknya sekolah di SMA 7 Kota Bogor, saya mau bercerita sedikit mengenai kejadian yang baru saja menimpa anak saya.

Tadi anak saya pulang sekitar pukul 10 malam. Sampai di rumah, dia bercerita bahwa dia, bersama beberapa temannya yang masih duduk di kelas 1, dipaksa oleh kakak kelasnya, kelas 3, untuk minum—ya, meminum minuman keras. Selain dipaksa untuk minum, beberapa anak ini juga di-bully, ditendang-tendang, dipukul-pukul. Mereka, kakak kelas yang memaksa itu, yang berjumlah sekitar 20 orang, banyak yang membawa senjata tajam, sebagai senjata untuk mengancam.

Bapak dan ibu, saya, sebagai orang tua, yang menjaga anak saya sedemikian rupa dari minuman keras dan narkoba, sungguh tidak terima anak saya diperlakukan seperti itu, dipaksa untuk meminum minuman keras. Kemarahan saya sudah di ubun-ubun. Orang lain seenaknya merusak anak saya. Dan ini, tentu, tidak hanya menyangkut anak saya saja, tetapi puluhan anak yang akan menjadi korban berikutnya, dirusak mentalnya, dijebak untuk masuk ke dunia kejahatan, dunia kriminal. Saya akan mengkasuskan hal ini. Dua puluh anak yang melakukan perbuatan jahat itu harus dikeluarkan dari sekolah. Dan kalau sekolah tidak berani melakukan itu, saya akan berusaha agar SMA 7 dibubarkan saja.

Sebenarnya, maaf, saya sudah mendengar dari berbagai sumber tentang kenakalan anak-anak SMAN 7 Kota Bogor. Tapi, saya pikir hanya kenakalan ala anak-anak: tawuran dan sejenisnya. Kalau tawuran, saya masih mentolerir. Bahkan ketika anak saya bilang bahwa dia dimintai uang setoran tiap bulan oleh “suatu mafia” (geng di sekolah itu), saya biarkan, biar anak saya mengatasinya sendiri. Namun kalau sudah ada paksaan untuk minum, dipaksa minum di bawah ancaman, saya anggap sebagai tindakan kekerasan, suatu kejahatan, dan berarti saya sedang berurusan dengan penjahat, bukan lagi berurusan dengan anak-anak nakal; ini sudah menjadi sebentuk mafia. Sekolah tidak boleh tunduk atau takut dengan ancaman mafia itu. Ini harus diatasi. Harus dibuat jera.

Besok saya akan menghubungi beberapa media lokal Bogor, untuk mem-back up dan kemudian mem-blowup-nya. Selanjutnya ke Polresta, untuk memproses ini secara hukum, memberi efek jera kepada dunia pendidikan yang di dalamnya banyak pelaku kriminalnya. Sekolah bukan lembaga yang main-main. Ini harus diproses, diperbaiki. Kalau tidak bisa, ya dibubarkan.

Tulisan ini hanya ingin memberitahukan kepada publik, agar, suatu saat, ketika kasus ini muncul di permukaan, semua tahu persoalannya.” (jat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here