Infrastruktur “Pasar Produk Pertanian” : Mungkinkah ?

219
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BISNIS – Di Indonesia semua orang ingin kita sebagai Bangsa memiliki Industri Pertanian, Perkebunan dan Perikanan yang tangguh dan kuat. Semua bertekad kita jadi Bangsa mandiri yang mampu berswasembada.

Swasembada bukan berarti tak ada impor produk sama sekali. Melainkan dominasi pasar dalam negeri atas produk pertanian, perkebunan dan perikanan ada ditangan Bangsa sendiri. Tentu produk pertanian yang tidak mampu diproduksi dan tidak dapat tumbuh di Indonesia perlu didatangkan dari luar negeri.

Tak mungkin kita mengisolasi diri dan menutup diri pada produk buah buahan yang berasal dari luar misalnya. Akan tetapi kekuatan petani dan nelayan serta pekerja kebun di Indonesia diharapkan tumbuh kembali.

Agriculture product menjadi unggulan kekuatan. Tak mungkin kita makan software atau makan komputer, handphone ataupun mobil. Bahan kebutuhan pokok perlu diproduksi sendiri. Salah satu masalah terbesar yang akan dihadapi oleh kita dimasa depan adalah kelangkaan bahan makanan, air bersih dan energi. Presiden Jokowi telah mengatakan bahwa semua Bangsa didunia akan berebut Pangan, Air dan Energi. Food, Energy and Water Security.

Salah satu mekanisme yang mampu menumbuh kembangkan produk pertanian adalah pembangunan infastruktur pasar tradisional maupun pasar modern. Kekuatan pasar Induk di Jakarta, atau Pasar Tanah Abang dan Pasar Klewer di Solo mislnya perlu direvitalisasi.

Pagi ini, kebetulan saya baru menonton acara tv channel History. Ada contoh yang menarik untuk diketengahkan. Yakni Pasar Central de Abasto. Pasar tradisional ini adalah salah satu dari dua pasar grosir besar di Mexico City. Pasar lain adalah Nueva Viga, yang mengkhususkan diri pada ikan dan makanan laut.

Fasilitas pasar ini merupakan bangunan terbuka yang terletak di sebuah kompleks properti.Luasnya mencapai 328 hektar bangunan. Lebih dari 2.000 toko pedagang grosir berjualan disini. Terutama buah, sayuran. Daging dan beberapa makanan olahan di bangunan utama seluas 85 hektare.

Proyek ini dirancang oleh arsitek Abraham Zabludovsky. Dia merancang sebuah bangunan segi enam (Hexagon) yang berukuran 2.250 meter persegi. Pintu masuk dan pintu keluar terletak di ujung bangunan yang berlawanan.

Selain itu, ada lebih dari enam puluh instalasi cold storage, warehouse di properti dengan layanan seperti pendinginan, pengiriman melalui sistem logistik yang baik. Setiap hari Pusat penjualan grosir ini mengkomersialisasikan lebih dari 30.000 ton produk makanan setiap hari. Mewakili 80% konsumsi 20 juta orang di wilayah metropolitan Mexico City.

Central de Abasto dan pasar Nueva Viga adalah dua pasar terbesar di Iztapalapa. Pasar menciptakan 70.000 lapangan pekerjaan secara langsung. Dan lebih dari 300.000 orang per hari yang mendapatkan income dari pergerakan penjualan di pasar ini. Jaringan distribusinya terhubung dengan lebih dari 1.500 tempat penjualan, termasuk 380 perusahaan yang terkait dengan lima belas toko rantai serta pusat komersial jenis lainnya.

Central de Abasto adalah gudang makanan dan distribusi terpenting di Meksiko dan institusi terbesar di dunia.Meskipun sebagian besar bisnis dilakukan di lokasi adalah antara pedagang grosir dan pengecer, penjualan ritel masih memainkan peran penting

Mungkin selain jalan, pelabuhan dan bandara yang dikembangkan alangkah indahnya juga jika kita membangun pasar pasar penggerak transaksi diantara petani, nelayan dan pekebun buah buahan di Indonesia. Agar Industri Pertanian, Perkebunan dan Perikanan kita kembali menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Dan tentu tidak kalah penting, ada baiknya juga jika “lahan lahan subur” yang berada di pulau jawa dan pulau lainnya tidak semua dikonversikan menjadi bangunan perumahan dan perkantoran. Pertanian dan perkebunan memerlukan lahan yang subur. Jika tidak ada lahan dimana durian, mangga, pisang, jambu ditanam. DImana pula cabe, bawang, terung dan ketimun disemai dan dipetik. Apa begitu ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here