Kasus Pencabulan Di TK Mexindo Berlarut Hingga 4 Bulan, Kuasa Hukum Minta Polisi Segera Tetapkan Tersangka

153
0
SHARE
Kuasa Hukum Pelapor, Prastyo Utomo, S.H

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Dugaan Kasus pencabulan di TK Negeri Mexindo (Mexico – Indonesia) Kota Bogor yang diduga melibatkan U seorang terlapor oknum Penjaga Sekolah berstatus PNS di TK Negeri tersebut masih belum membuahkan hasil dan masih dalam penanganan Polresta Bogor Unit PPA.

Pasalnya sudah nyaris 4 bulan berlalu, QZA (5) yang menjadi Korban pencabulan masih belum mendapatkan Kejelasan Hukum.

Diketahui MF Ibu Korban telah melaporkan perkara tersebut ke Polresta Bogor Unit PPA pada 12 Mei.
Dalam laporannya, MF memberikan beberapa bukti berupa video pernyataan korban yang menunjuk siapa pelakunya, bukti visum, hasil Lab, dan darah pada celana dalam Korban.

Prastyo Utomo dari Tim Advokasi Sang Pembela selaku Kuasa Hukum MF, mengatakan kasus pelecehan anak tersebut sudah terlalu lama berlarut dan bukti – bukti dalam kasus pencabulan tersebut sudah lengkap untuk bisa menetapkan tersangka dan disidangkan ke Meja Hijau. Melihat perkara yang telah dilengkapi dengan hasil visum yang menyatakan ada benda tumpul yang mencoba masuk kedalam vagina korban.

“Hal tersebut sudah bisa dipastikan bahwa benar adanya telah terjadi peristiwa tindak pidana berupa kekerasan seksual kepada QZA, ditambah dengan adanya keterangan psikolog dari P2TP2A, saksi yang melihat langsung dan beberapa saksi terkait. Jadi sebenarnya kasus ini sudah dilengkapi dengan bukti yang cukup, Kami meminta Polisi untuk segera melakukan penetapan tersangka dan penahanan, agar tidak ada lagi korban selanjutnya,” ujarnya kepada bharatanews.

Hal senada dikatakan oleh Ahli Hukum Adang Waluya Nurkas sekaligus Purna Bakti dari Mahkamah Agung Republik indonesia (MARI), ia mengatakan bukti – bukti sudah cukup kuat untuk menetapkan terlapor sebagai tersangka.

“Kalau memang sudah cukup kuat bukti – bukti dugaan perbuatan Tindak Pidana yang dilakukan oleh terlapor, itu harus segera ditetapkan sebagai tersangka, dan saat itu juga tersangka harus dijemput oleh pihak Kepolisian”, tuturnya.

Selain itu, sebelumnya terlapor dikabarkan telah dilakukan pemeriksaan kelainan jiwa oleh psikiater di Marzuki Mahdi, lalu diarahkan ke RSCM Jakarta. Adang Waluya merasa pemeriksaan kejiwaan terhadap terlapor tidak diperlukan, karena alat bukti sudah cukup kuat.

“Untuk apa ada tes kejiwaan pada terlapor? Kan bukti dan saksi sudah lengkap. Apabila terlapor saat di BAP memberikan keterangan yang tidak masuk logika, artinya memberikan keterangan setiap dipertanyakan oleh penyidik, jawabannya berbeda – beda, baru diwajibkan diperiksa kejiwaannya”, tuturnya.

“Jika ternyata hasil dari pemeriksaan terlapor menunjukan bahwa ada kelainan jiwa, dan jika terlapor sudah terbukti dinyatakan bersalah, dengan sendirinya pemeriksaan U dinyatakan gugur dan tidak dapat dilakukan penyidikan lebih lanjut”, tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here