Sidang Kasus Tol Bocimi Hadirkan Saksi Korban

191
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Pengadilan Negeri (PN) Cibinong kembali menggelar sidang kasus penipuan dan penggelapan atau pungli dalam pembebasan lahan tol Bocimi di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor dengan terdakwa mantan Kaur Kesra Desa Wates Jaya, Anita binti Duloh dan salah seorang Ketua RT bernama Engkus, pada Selasa (28/08/2017).

Sidang kasus yang sempat menjadi isu Nasional itu dipimpin Hakim Ketua Rio D dan digelar di ruang Kusumah Atmadja dengan agenda mendengarkan keterangan para saksi korban yang berjumlah sembilang orang, namun hanya tiga saksi yang berhasil memberikan keterangan sedangkan sisanya dijadwalkan akan memberikan keterangan pada sidang lanjutan pada tanggal 5 September nanti.

Dalam keterangannya dihadapan majelis hakim, salah seorang saksi korban Asep Golek menuturkan bahwa alasan dirinya mencabut pelaporan dikarenakan merasa iba serta dijanjikan duit pembayaran ganti rugi yang dipotong terdakwa Engkus senilai Rp25 juta akan dikembalikan.

” Saya merasa iba jadi ikhlas dipotong senilai Rp25 juta dari total pembayaran Rp1 Miliar, makanya mencabut laporan dan dijanjikan duit yang dipotong akan dikembalikan,” ungkapnya.

Pernyataan Asep pun langsung mendapat reaksi baik dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), kuasa hukum terdakwa hingga Hakim Ketua karena dianggap tidak sesuai dengan hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) penyidik Satreskrim Polres Bogor.

” Kalau merasa iba, kenapa membuat laporan polisi? Isi dari BAP penyidik jelas anda merasa dirugikan, tapi kenapa sekarang mengaku sudah ikhlas dan apakah anda berada dalam tekanan?,” ujar JPU, Anita Dian Wardhani SH.

Ditempat yang sama, saksi korban lainnya bernama Herman menegaskan dirinya tidak pernah mencabut pelaporan karena merasa dirugikan oleh terdakwa Anita bin Duloh dengan potongan mencapai 10 persen yakni Rp37 juta saat menerima uang ganti rugi. Ia juga mengatakan, saat proses pembebasan lahan terdakwa mengaku sebagai kordinator lapangan serta bisa mempercepat proses pembayaran bilamana pengurusan melalui dirinya (Anita bin Duloh,red).

” Saya melaporkan atas kuasa dari orangtua karena merasa dirugikan, dan terdakwa mengaku kordinator makanya kami percaya. Setelah mengetahui bahwa yang bersangkutan bukan kordinator juga proses pengurusan tidak dipungut biaya apapun hanya bersifat sukarela dengan besaran 2,5 persen, langsung membuat pelaporan ke polisi,” bebernya.

Sementara saksi korban H Hidayat menuturkan, dirinya mencabut laporan karena didatangi terdakwa Engkus yang memohon serta mengaku menyesali perbuatannya. Meski begitu, ia membenarkan telah terjadi pemotongan dana ganti rugi sebesar 10 persen serta merasa dirugikan meskipun atas dasar rasa kasian lalu ikut mencabut pelaporan dan sidang lanjutan dengan agenda yang sama kembali akan digelar 5 September nanti.

” Sidang dilanjutkan minggu depan, untuk mendengarkan keterangan saksi korban lainnya,” pungkas Hakim Ketua, Rio D SH.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here