Kasus Pencabulan Di TK Negeri Mexindo Tak Kunjung Usai, Polisi Panggil Ibu Korban Untuk Lakukan BAP Tambahan

291
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Kasus pencabulan di TK Negeri Mexindo (Mexico – Indonesia) Kota Bogor masih belum membuahkan hasil.

Pasalnya sudah nyaris 3 bulan QS (4) Korban pencabulan yang diduga dilakukan oleh terlapor U, seorang penjaga sekolah di TK Negeri Mexindo belum juga mendapatkan kejelasan hukum.

Rabu (02/08) MF ibunda korban dipanggil pihak kepolisian unit PPA guna melakukan BAP tambahan.

Prastyo Tomo Tim Advokasi Sang Pembela mengatakan pada saat BAP lanjutan, dirinya meminta hak pelapor yaitu Ibu Korban untuk meminta surat bukti penyerahan barang bukti, karena saat pertama kali memberikan barang bukti, pihak pelapor tidak menerima surat pernyataan bahwa barang bukti sudah diserahkan ke penyidik.

“Ya, kami meminta surat tanda bukti bahwa pelapor sudah memberikan barang bukti ke penyidik, karena berdasarkan Peraturan Kapolri (Perkap), seharusnya tanda terima barang bukti diperoleh oleh pelapor saat itu juga. Kalau tidak, potensi barang bukti dihilangkan itu besar”, ujarnya kepada bharatanews.

Prastyo menuturkan bahwa selama hampir 3 bulan, pelapor sama sekali belum menerima SP2HP dari pihak kepolisian.

“SP2HP itu hak pelapor dalam bentuk surat, bukan secara lisan. Karena kanit Frida bilang dirinya sudah memberitahukan perkembangan kasus kepada kuasa hukum MF sebelum kami secara lisan”, tuturnya.

“Kalau bicara secara lisan oke, tetapi dalam Perkap 2012 itu harus dalam bentuk surat. Kami dari Tim Advokasi Hukum tidak terima kalau pelapor tidak mendapatkan haknya”, tambahnya.

Ia juga mengatakan bahwa mekanisme pengawasan perlindungan anak harus benar – benar diperhatikan.

“Ini kasus anak loh, masa ga dikasih. Jangan – jangan perkara ini gak berjalan, dari mana kita tahu kalau perkara ini jalan kalau pelapor tidak diberi SP2HP. Kami menuntut profesionalisme penyidik”, imbuhnya.

Langkah selanjutnya dari Tim Advokasi Sang Pembela dalam menangani kasus pencabulan yang sudah nyaris 3 bulan belum terungkap akan mengajukan permohonan untuk Komnas Perlindungan Anak.

“Kami akan mengajukan permohonan ke Komnas PAI agar pihaknya memastikan penyelenggaraan perlindungan anak ini berjalan dengan pengawasan yang maksimal. Sebenarnya sudah kami kirimkan suratnya tapi belum ada jawaban. Kemungkinan besok kita akan datang kesana untuk memastikan”, ujar Prastyo.

Ia juga mengatakan bahwa dirinya bersama Tim Advokasi Sang Pembela akan melaporkan kasus tersebut kepada Mabes Polri dan Pengawas Penyidik jika kasus tersebut masih tidak ada perkembangan.

Selain itu ia juga akan meminta pihak Dinas Pendidikan dan pihak Sekolah bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa QS.

“Ini kan kejadian di Sekolah, kami juga akan meminta pertanggung jawaban atas kejadian ini. Karena undang – undang perlindungan anak menegaskan tenaga pendidikan berkewajiban melaksanakan perlindungan kepada anak”, jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, IptuĀ Frida Hidayanti, Kanit PPA Polresta Bogor memebenarkan bahwa penyidik belum memberikan SP2HP kepada korban karena pada saat itu masih dalam tahap Sidik.

“Selama kita masih lidik kita tidak bisa memberikan SP2HP, kami hanya memberikan SP2HP sekali pada saat pertama kali pelapor di BAP”, jelasnya.

Ia juga mengatakan saat ini tahap penyidikan sudah naik tingkat dari tahap lidik menjadi sidik.

“Intinya sekarang sudah naik tahap dari lidik ke sidik, dan hari ini akan diberikan SP2HP kepada pelapor”, tuturnya.

Selain itu ia menjelaskan mengapa kasus tersebut bisa sampai berlarut, karena untuk mengumpulkan barang bukti seperti hasil pemeriksaan psikolog terlapor dari rumah sakit tidak sebentar.

“Kita 2 bulan menunggu hasil dari rumah sakit, hasil sementaranya saja baru keluar sebulan lebih. Untuk hasilnya sekarang belum turun, masih baru hasil sementara. Sebelumnya kita ke RS marzuki Mahdi tetapi tidak bisa karena alatnya tidak lengkap, akhirnya ke RSCM”, jelasnya.

Ia pun menjelaskan kendala dalam menangani kasus tersebut dikarenakan dari hasil keterangan saksi pihak Sekolah dan pihak korban berbeda – beda.

“Kendalanya hanya persesuaian. Antara saksi satu dengan yang lain, kita lakukan persesuaian”, tandasnya. (ry/jat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here