Pemerintah Gelar ICB Berkelanjutan Untuk Bahas Isu Biomassa

132
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Hasil bumi kelapa sawit yang dimiliki Indonesia, kini menjadi perbincangan dan isu tingkat dunia. Sebab, kelapa sawit di Indonesia dapat menghasilkan sumber energi biomassa dan menjadi bahan industri.

Untuk membahas isu tersebut, Pemerintah melalui Kementerian ESDM menggelar International Conference on Biomass (ICB) ke 2. Kegiatas ICB ini, merupakan kegiatan lanjutan setelah sukses pada tahun lalu yang diikuti lebih dari 200 peserta yang terdiri dari Indonesia, Jepang, Malaysia, Kamboja dan USA.

Perwakilan Kementerian ESDM RI, Dadan Gustiana mengatakan, berbicara potensi kelapa sawit di Indonesia tentu sangat besar sekali. Hal itu, didukung dengan alamnya yang tropis dan juga luas lahan yang masih terpenuhi untuk perkebunan kelapa sawit.

“Pemerintah mencatat, sejak 2015 lalu luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 11,3 juta hektar dan mampu menghasilkan produksi minyak sawit sebanyak 37,5 juta ton. Dengan angka tersebut tentu banyak negara lain yang ingin memanfaatkan kesempatan itu, karena bisa dijadikan bahan bakar,” kata Dadan saat jumpa pers di acara ICB ke- 2, di Hotel Salak Tower Bogor, Senin (23/7/2017).

Oleh karen itu, lanjut Dadan, masyarakat Indonesia harus bisa memanfaatkannya dengan baik. Sebab, limbahnya saja bisa dijadikan sumber energi dan pupuk kompos. Tak hanya itu, cangkang saja bisa menjadi penghasilan ekonomi yang cukup luar biasa, karena per tonnya bisa mencapai 80 US dolar.

“Bayangkan saja, dari luas 11,3 hektar cangkangnya bisa mencapai 8 juta ton, kalau dihitung maka perekonomian di Indonesia bisa meningkat. Belum lagi, limbah batang tua yang mencapai 34 juta ton, ditambah lagi pelepah 124 juta ton dan lain-lain,” jelasnya.

Sementara Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit, Eko Wibowo menambahkan, kedepan potensi biomassa minyak sawit menjadi hal penting dalam kebutuhan dibidang industri, karena sifatnya yang terbarukan, ramah lingkungan dan mampu mengurangi emisi.

Mengingat potensi biomassa yang sangat besar, maka inovasi dan teknologi perlu dikembangkan, agar isu berkelanjutan  ini dapat dipertahankan dengan baik. Di tahun 2025, Pemerintah berkomitmen untuk mengembangkan bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) minimal 23 persen. Hal itu mengacu pada PP Nomor 74, Tahun 2014 dimana kemandirian energi dan ketahanan energi nasional dicapai dengan mewujudkan salah satunya sebagai modal pembangunan nasional.

“Melalui ICB ke dua ini diharapkan muncul inovasi dan solusi terkait dengan pemanfaatannya untuk energi dan aplikasi industri,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here