Seorang Wartawan Mendapat Perlakuan Tidak Menyenangkan Dari Oknum Security P2TP2A Kota Bogor

284
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – R Seorang wartawan dari media Jabar Expose sempat bersitegang dengan oknum Security Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Bogor.

Hal tersebut terjadi ketika R memotret gambar buku tamu yang telah ia tandatangani didepan Oknum Security untuk memberikan laporan kepada pimpinannya bahwa dirinya sudah berada di lokasi P2TP2A untuk melakukan konfirmasi terkait kasus pencabulan di Kota Bogor.

Suasana P2TP2A pun menjadi tegang ketika Oknum Security tersebut melontarkan perkataan kepada R sambil membentak untuk menghapus foto tersebut dikarenakan R tidak meminta izin kepada Oknum Security untuk memfoto buku tamu yang telah ia tanda tangani.

“Itu ngapain foto – foto buku hadir ga izin dulu! gaboleh itu. Hapus!!”, tegur oknum security kepada R dengan nada keras.

Tidak terima atas perlakuan tidak menyenangkan oleh oknum Security, R pun menjelaskan dengan nada tinggi.

“Ini saya untuk laporan saya ke kantor kalau saya datang kesini, bapak ga bisa nyuruh – nyuruh saya untuk hapus foto di HP saya. Saya disini untuk konfirmasi bukan untuk ngelakuin hal – hal yang diluar tupoksi kami sebagai wartawan”, balasnya.

Menanggapi hal tersebut, salah seorang staff P2TP2A mencoba berbicara dengan R terkait kejadian antara R dengan oknum security.

“Maksudnya apa yah foto buku tamu? Anda punyankode etik, kami juga punya kode etik. Disitu kan ada daftar client kami”, tuturnya.

Setelah dijelaskan bahwa R mengambil gambar tanda tangannya di buku tamu untuk laporan kepada atasannya, akhirnya dirinya mengerti dan meminta maaf kepada R atas perlakuan oknum security tersebut.

“Kami minta maaf dan bukan melindungi security kami, kami hanya melindungi client kami”, ujarnya.

Mendengar kejadian tersebut, Ahmad Rifai Sogiri Ketua Aliansi Jurnalis Pasundan Raya sangat menyayangkan perlakuan oknum security kepada R.

Dirinya mengatakan bagi siapa saja yang melakukan kekerasan dan menghalangi wartawan dalam melaksanakan tugas peliputannya, maka si pelaku tersebut dapat dikenakan hukuman selama 2 tahun penjara dan dikenakan denda paling banyak sebesar Rp 500 juta .

“Dalam ketentuan pidana pasal 18 itu dikatakan setiap orang yang melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang dapat menghambat atau menghalangi ketentuan pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 terkait menghalang-halangi upaya media untuk mencari dan mengolah informasi, dapat di pidana dalam pidana kurungan penjara selama 2 tahun atau denda paling banyak 500 juta rupiah. Jadi ini ketentuan pidana yang diatur dalam undang-undang pers,”, tuturnya.

Ia menambahkan, dalam pasal 4 undang-undang pers menjamin kemerdekaan pers, dan pers nasional memiliki hak mencari, dan menyebarluaskannya.

Ia menilai, itu sah-sah saja sebagai bahan bagi media bahwa yang bersangkutan sudah melaksanakan salah satu kewajibannya untuk melaporkan kegiatan yang R lakukan dilapangan dalam mencari berita, termasuk dengan memberi laporan bahwa R telah mengunjungi dan menanda tangani buku tamu di P2TP2A
“Saya rasa pihak security tidak harus bersikap berlebihan dengan meminta si wartawan menghapus foto tersebut. Toh itu hanya daftar hadir saja”, tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here