Sebulan, Penghasilan Pengemis di Puncak Mencapai 15 Juta

500
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Kawasan puncak tak hanya identik dengan panorama alam yang sejuk serta kemacetan arus lalulintas, namun keberadaan para pengemis pun ikut menghiasi wilayah paling selatan di Kabupaten Bogor ini. Disekitar lampu merah Gadog hingga tanjakan selarong misalnya, mereka (pengemis,red) seolah berbaris mengadahkan tangan dengan muka memelas berharap belas kasih pengendara yang melintas. Penampilannya pun mengundang iba, tak hanya berbekal anggota tubuh yang tidak lengkap, para pengemis juga sebagian membawa bayi mungil yang dekil dalam gendongan untuk mendapat selembar uang seribuan atau dua ribuan. Benarkah para pengemis yang setiap hari berderet di jalur puncak dan jumlahnya bertambah setiap akhir pekan itu hidup dibawah garis kemiskinan?

Kabid Rehabilitasi Dinas Sosial Kabupaten Bogor, Dian Mulyadiansah menemukan fakta mengejutkan terkait pendapatan pengemis di beberapa lokasi di Bumi Tegar Beriman termasuk pengemis yang beroperasi di kawasan puncak. Ia menyebutkan, bahwa rata-rata pendapatan pengemis dalam sehari berkisar antara Rp250 ribu hingga Rp500 ribu. Artinya, dalam satu bulan pengemis dapat mengantongi pendapatan hingga Rp15 juta.

“Kalau yang paling tinggi pendapatannya biasanya didapat pengemis dengan tingkat kekasihanan yang sangat sangat kasihan. Seperti pengemis kakek-kakek atau ibu-ibu yang mengemis dengan membawa anaknya,” ungkapnya.

Kalau untuk pengemis dengan tingkat kasihan yang standar atau biasa saja, kata dia lagi, dalam sehari bisa mendapatkan sekitar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu saja. Pihaknya pun telah berupaya menekan angka pengemis maupun anak jalanan dengan cara menggelar razia yang melibatkan Satpol PP dan unsur lainnya, namun setelah diberikan pembinaan tetap kembali mengemis dijalanan.

” Sudah sering dirazia, tapi karena faktor kebutuhan dan penghasilan yang tinggi mereka kembali mengemis,” imbuhnya.

Menurut dia, dikarenakan pendapatan yang terbilang fantastis itulah, para pengemis enggan beralih profesi sebab hanya cukup bermodal tampang memelas, tanpa skill apapun mereka bisa dapat uang banyak dengan mudah. Dana pembinaan yang diberikan bagi pengemis yang terjaring razia, sambungnya, hanya bisa dipergunakan untuk bertahan hidup selama satu atau dua bulan, dan meskipun telah diberikan berbagai pelatihan di tempat rehabilitasi namun jarang dipergunakan untuk mencari usaha yang lain.

” Pelatihan tentu diberikan saat berada di lokasi rehabilitasi tapi tidak dimanfaatkan, bantuan permodalan untuk membuka usaha pun dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah itu mereka kembali mengemis,” tuturnya.

Ia juga memaparkan, hasil pendataan dilapangan, para pengemis yang kian hari semakin bertambah jumlahnya terlebih setelah lebaran itu mayoritas berasal dari luar daerah.

” Ada juga yang berasal dari Bogor tapi jumlahnya sedikit, mayoritas mereka berasal dari luar kota,” tandasnya. (Rif)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here