Pasien BPJS Keluhkan Pelayanan Rumah Sakit Medika dan KBP

259
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Keluarga HG (inisial) Pasien BPJS keluhkan lambatnya pelayanan dan fasilitas yang tidak memadai dua rumah sakit di wilayah Dramaga Bogor yakni RS Medika dan Karya Bakti Pratiwi.

HG adalah warga Desa Dramaga RT 03 RW 06. Selama bulan Ramadhan , HG sudah 3 kali melakukan pengobatan di klinik, namun di hari raya Iidul Fitri HG mengalami pendarahan yang cukup serius di rettum (anus).

Lalu pihak keluarga membawa HG ke puskesmas. Namun dikarenakan puskesmas terdekat tidak bisa menangani HG, akhirnya pihak keluarga memutuskan membawanya ke RS Karya Bhakti Pratiwi.

Setelah di tangani di IGD Rumah Sakit KBP (Karya Bakti Pratiwi), Dokter jaga yang mendiagnosa penyakit pasien menerangkan pasien bisa dirawat tetapi harus di isolasi.

“Kalau pun harus di rawat, harus di isolasi kata dokternya”, tutur keluarga HG kepada Bharatanews.

Namun pihak KBP tidak bisa menangani dengan cepat, karena dokter ahli yang menangani sedang libur pada saat itu lalu menganjurkan kepada keluarga pasien untuk dirujuk ke RS Medika.

Menanggapi hal tersebut, Dr Audi dari RS KBP menuturkan pasien harus dirujuk ke RS medika dikarenakan dokter ahli dan alatnya tidak ada di RS KBP.

“Di kita kan sedang tidak ada tenaga medisnya dan tidak ada alatnya, kebetulan di medika ada. Jadi kita arahkan kesana”, tutur dokter KBP kepada keluarga pasien.

“Kalau ibu mau ya silahkan, kalau di kita konteksnya itu permintaan pasien, ya soalnya kita sudah kasih saran. Seandainya pasien tetap pengen di sini gak masalah, akan kami terima tapi dengan kondisi ga ada dokternya” tuturnya lagi.

Akhirnya pasien mengikuti saran dokter KBP untuk rujuk ke RS Medika dengan membawa surat rukujukan dari KBP. HG langsung ditangani di IGD Rumah Sakit Medika untuk di lakukan tindakan medis (Check lab dan rontgen), setelah beberapa jam di ruang IGD pasien tersebut di pindahkan ke kamar perawatan kelas 3 untuk menjalankan perawatan medis.

Selang 2 hari berjalan di rawat, pasien tersebut masih sempat mengalami pendarahan cukup banyak, dari hasil diagnosa dokter Rumah Sakit Medika, pasien mengalami infeksi pada usus dan harus di lakukan penanganan lebih lanjut, setelah beberapa waktu disaat pasien menjalani perawatan HG mendadak terserang badan mati rasa sebelah kiri.

Untuk mendiagnosis penyakit tersebut pihak Rumah Sakit Medika berkonsultasi dengan ahli syaraf dan menerangkan kepada keluarga pasien bahwa pasien harus di lakukan ctscan.

Namun dari pihak RS Medika menerangkan kepada keluarga pasien alat ctscan di Medika sedang rusak.

“Alat ctscann di kita lagi rusak”, ujarnya.

Pasien pun bertanya apakah untuk tindakan yang dilakukan diluar rumah sakit apa terkena biaya atau tidak. Pihak Medika mengatakan, “iya bu soalnya tindakan ini di lakukan diluar, jadi dikenakan biaya”.

Dikarenakan fasilitas Rumah Sakit medika tidak memadai, akhirnya pihak Rumah Sakit Medika pun merujuk kembali pasien ke Rumah Sakit Karya Bakti Pratiwi untuk di lakukan proses ctscann, dan pasien diharuskan mengeluarkan biaya untuk melakukan ctscan dgn alasan tindakan itu dilakukan di luar dengan membayar Rp. 900.000. Padahal seharusmya itu adalah tanggungan BPJS.

Akhirnya dengan terpaksa pasien pun melakukan ctscann yg di sarankan oleh petugas medika di RS KBP dengan membayar sejumlah uang sebanyak 900.000 rupiah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here