Waspada, di Bogor Banyak Jembatan Rawan Ambruk

121
0
SHARE

BOGOR – Insiden ambruknya Jembatan Cipamingkis, Jonggol, Kabupaten Bogor, patut menjadi pelajaran. Selayaknya pemerintah daerah mulai berinisiatif melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap semua jembatan yang ada di Bogor. Itu untuk mengantisipasi insiden serupa dan jatuhnya korban.

Jembatan dengan kondisi nyaris serupa Cipamingkis banyak terdapat di pedalaman Kabupaten Bogor. Sebut saja jembatan Sikeng, yang menjadi pembatas antara Kecamatan Parungpanjang dan Cigudeg, di Kampung Sikeng, RT 03/04, Desa Dago, Parungpanjang. Lalu Jembatan di Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamakmur, yang ambrol awal April.

Sebagai informasi, jumlah jembatan di Kabupaten Bogor lebih kurang sebanyak 700 buah. Terdiri dari jembatan negara, jembatan provinsi, dan jembatan kabupaten dengan total panjang sekitar 6.000 meter. Tingginya tonase kendaraan yang melintas serta frekuensi bencana alam membuat jembatan-jembatan ini dalam kondisi labil.

Kondisi tak jauh beda juga terjadi di Kota Bogor. Semisal kasus robohnya jembatan di Kampung Babakan Sukamantri Cibalagung RT 04/07, Kelurahan Pasir Kuda, Bogor Barat. Meski tidak ada korban jiwa, insiden itu membuktikan kondisi jembatan di Kota Bogor tidak aman.
Belum lama ini, Forum Pemerhati Jasa Konstruksi dan Pembangunan (FPJKP) Bogor juga pernah melakukan penelitian terhadap jembatan Satu Duit dan jembatan Sempur. Faktanya, telah terjadi penurunan as pada kedua jembatan tersebut.

Selain karena terus dilalui kendaraan bertonase berat, rapuhnya jembatan-jembatan di Bogor juga musabab curah hujan yang tinggi. Curah hujan itu pula yang membuat banyaknya kejadian bencana di Tanah Air. Hingga awal April 2017 saja, sudah 882 kejadian bencana terjadi.
Guna meminimalisir jumlah korban, pemerintah berencana menambah jumlah kampung siaga bencana (KSB). Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial (Kemensos) Harry Hikmat menyampaikan, pembentukan KSB ini perlu untuk daerah-daerah rawan bencana. KSB memastikan warganya lebih siap dalam menghadapi ancaman yang ada.

”Tentu kewaspadaan berlaku untuk seluruh masyarakat. Namun, bagi mereka yang beresiko tinggi ini perlu disiapkan,” ujarnya kemarin.
Harry menjelaskan, konsep KSB adalah melatih masyarakat yang tinggal didaerah rawan untuk paham tentang tanggap bencana. Baik itu tata cara evakuasi diri sendiri maupun masyarakat sekitar. Apalagi, daerah-daerah yang pernah terjadi bencana sangat rawan untuk kembali diterjang bencana yang sama. Dengan begitu, bisa meminimalisir adanya korban.

”Nanti bagaimana masyarakat bisa tahu kondisi-kondisi genting, tata cara penyelamatan, membuat jalur evakuasi hingga menyiapkan lumbung sosial untuk antisipasi,” tuturnya.

Saat ini, pihaknya sudah membentuk 456 KSB di seluruh Indonesia. Jumlah ini rencananya akan terus dikembangkan hingga mencapai angka 1000 KSB secara bertahap. Pada 2017 sendiri, pemerintah berencana membangun 100 KSB baru.

Harry berharap, selain dari pemerintah pusat, ada gerakan yang sama dari pemerintah daerah. Pasalnya, biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan KSB tidaklah sedikit. Menurutnya, setiap pembentukan KSB dialokasikan dana sebesar Rp109 juta rupiah. Anggaran tersebut diperuntukkan guna menyiapkan lapangan, pelatihan pengurus dan simulasi penanganan bencana dan juga menyiakpan gudang logistic lokal.

Sepanjang 2017 sendiri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah kejadian bencana sebanyak 882 kejadian. Musibah tersebut menyebabkan 103 orang tewas, 961.440 mengungsi, 11.559 unit rumah rusak (1.889 rusak berat, 2.033 rusak sedang, 7.637 rusak ringan), dan 406 unit fasilitas umum rusak. ”Lebih dari 95 persen merupakan bencana hidrometeorologi yang didominasi oleh Banjir, Puting beliung, dan longsor. Namun longsor menjadi bencana paling mematikan,” ungkap Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.
Sementara di Bogor, akhir pekan kemarin satu keluarga tersambar petir di Kampung Pasir Munding RT03/04, Desa Cipayung Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Nyawa korban selamat setelah dilarikan ke Puskesmas setempat. Di tempat terpisah hujan deras yang mengguyur Bogor juga mengakibatkan tanah longsor di Kampung Gadog RT04/3, Kampung Rawa, RT04/02, Desa Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Ketua Pusdalops BPBD Kabupaten Bogor, Kumalasari, mengatakan, longsor juga membuat dua rumah tertimbun tanah seluas 400 meter dari ketinggian empat meter.

Sedangkan di Kota Bogor, Kepala BPBD Kota Bogor Ganjar Gunawan mencatat telah terjadi empat longsor di empat titik berturut-turut.  Pukul 15.30 WI bencana longsor  menjebol tembok dinding bagian kamar milik warga Kampung Lebak Sari RT 04/RW 05, Kelurhan Muarasari, Kecamatan Bogor Selatan.

Setengah jam kemudian atau pukul 16.00 WIB longsor terjadi di Kampung Batakal RT 02/10, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan. Tak jauh dari lokasi pertama, tepatnya di Kampung Rawajamun RT 05/04 Kelurahan Muarasari, longsor tebingan menimbun rumah warga bernama Dedi. Rumah yang dihuni tiga jiwa ini mengancam  rumah kontrakan di bawahnya yang dihuni Juriah.

Sebanyak dua keluarga dengan 12 jiwa orang terancam. “Longsoran tebingan dengan panjang 20 meter dan tinggi 7 meter,” sambungnya.
Terakhir, di kecamatan yang sama sekitar pukul 17.00 WIB longsoran bahkan memutus akses warga. Tepatnya di Kampung Sawah  RT 01/06 Kelurahan Batutulis Kecamatan Bogor Selatan. “Longsor karena curah hujan yang sangat tinggi dan mengakibatkan pergeseran tanah,” imbuhnya.

Ganjar menjelaskan, longsoran selebar 15 meter dan tinggi 6 meter ini mengakibatkan mobilitas warga terganggu. Sedangkan, akses hanya dapat dilalui sepeda motor. (PJ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here