Kampung Sawah Menjadi Miniatur Indonesia, Hidup Damai Dalam Keberagaman

8547
0
SHARE

BHARATANEWS.ID – SUASANA damai terlihat di sebuah rukun tetangga (RT) di Kampung Sawah, Kelurahan Jatimurni Kecamatan Pondokmelati, Kota Bekasi, pada Jumat pekan lalu. Masjid Al Jauhar, yang merupakan masjid terbesar di Kampung Sawah, terletak hanya 50 meter dari Gereja Kristen Pasundan dan 200 meter dari Gereja Santo Servatius, dipenuhi jamaah Salat Jumat.

Sementara warga lain, yang kelihatannnya berkulit dan tipikal wajah yang sama sibuk mengatur parkir di areal gereja, “Kami non muslim, Mas, jadi mengatur parkir,” ujar Richard Niman, 25, pemuda di sana. Kebetulan ketiga bangunan tempat ibadah yang cukup megah itu berdiri berdampingan.

Dari bangunan religi yang monumental itu, jelas terlihat bagaimana warga di sana saling menghormati dan menyayangi sesama, “Soal bagaimana warga di sini bertoleransi, lihat saat mereka merayakan hari rayanya,” ujar KH Rachmadin Afif, 72, Pengurus DKM Al Jauhar.

“Saat shalat Id, warga yang Katolik dan Kristen biasanya yang mengatur parkir dan menjaga kendaraan warga Muslim. Begitu juga sebaliknya saat Natal,” ujar KH Rachmadin Afif, yang juga besan KH Ali Mustafa Yakub (almarhum), Imam Besar Masjid Istiqlal.

Bagi Rachmadin, perbedaan tidak menjadi penghalang untuk bersilaturahim. Dalam Islam pun diajarkan mengenai pentingnya persaudaraan sesama umat Islam, persaudaraan sesama warga masyarakat, dan persaudaraan sesama makhluk hidup. Di Kampung Sawah, warga menjalankan ketiga nilai itu.

Suasana dan kondisi seperti itu, terutama saat hari raya lebaran, selalu menjadi trending topik di berbagai media, bagaima mana suasana disana. Sudah banyak media yang meliput bagaimana sikap toleransi beragama di kampung itu, bahkan ada juga yang indept dan mencari sisi lain dari sebuah sikap kemanusiaan dalam bertetangga, meski berbeda suku, agama, ras dan bahasa.
Kampung Sawah, Kelurahan Jatimurni, Pondokmelati, merupakan Kampung Betawi yang terletak di pinggiran Kota Bekasi atau sekitar 10 kilometer arah tenggara Jakarta. Di tempat ini sudah seabad lebih, masyarakatnya menjalani kehidupan bertoleransi.

 

rahmat-bb

Kegiatan keberagaman dan kerukunan umat beragama di Kota Bekasi. (saban)

Mantan Ketua Majelis Gereja Kristen Pasundan Budiman Dani berpendapat, warga berbeda keyakinan masih banyak terdapat dalam satu keluarga di Kampung Sawah. Pada umumnya, perpindahan agama terjadi karena pernikahan. Meski menganut keyakinan berbeda, warga tetap menjalani hidup dengan damai. Selain saling berkunjung, sebagian warga yang masih satu keluarga juga tetap melanggengkan tradisi mengantar makanan atau dalam bahasa Betawi Kampung Sawah disebut ngejotin.

Salah satu pimpinan Paguyuban Umat Beragama Kampung Sawah, Richardus Jacobus Napiun, menegaskan, kerukunan di Kampung Sawah berlangsung alamiah. Warga menjaga amanah para leluhur mereka mengenai pentingnya nilai-nilai toleransi yang diwariskan turun- temurun.

HETEROGEN

Saat ini kondisi Kampung Sawah, sudah bertambah dengan munculnya hunian baru di sekitarnya. Pendatang yang notabene membawa paham sendiri dan belum beradaptasi dengan daerah itu tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat dan tentunya bagi pemangku pemerintahan.

Lantas bagaiman menyikapi hal itu, menurut catatan saya ada beberapa hal yang mesti dilakukan . Yang pertama adalah memanfaatkan kemajuan teknologi informasi seputar kegiatan warga melalui website dan kalau perlu mengkoneksikan ’suara-suara’ dari masjid ke rumah-rumah warga yang beragama muslim dengan aplikasi yang didesign khusus pada telepon genggam. Demikian pula, jika diperlukan konsep yang sama dapat diterapkan bagi semua warga yang beragama lain.

Kedua, mengembangkan dialog dengan mengadakan pertemuan berjangka yang ditentukan bersama yang di inisiasi oleh kepala kampung. Dialog yang wajib dihadiri oleh seluruh warga kampung, dalam dialog ini didiskusi untuk mencari solusi mengenai persoalan-persoalan yang terjadi.

Ketiga, pelibatan. Selalu mengikutsertakan pemeluk agama lain dalam kegiatan keagamaan, sepanjang tidak terlarang oleh agama yang bersangkutan. Misalnya, mengikutsertakan warga yang beragama lain dalam kegiatan pemotongan hewan qurban pada hari raya haji, dengan cara warga yang beragama lain tersebut dapat berperan serta dalam pendistribusian hewan qurban ke warga-warga penerima.

SEREMONIAL

Meski hanya berkesan seremonial, ternyata apa yang pernah dilakukan Pemkot Beksi dengan deklarasi damai, yang diikuti puluhan ribu ribu warga Kota Bekasi dari berbagai etnis, suku dan agama berkumpul di Stadion Patriot Candrabaga, menjadi alat untuk mempererat suasana saling menghormati antar pemeluk agama.

Deklarasi, pada April tahun lalu itu disampaikan oleh pimpinan pemuka agama dan sejumlah tokoh organisasi kemasyarakatan keagamaan yang ada di Kota Bekasi, di antara isi deklarasi itu, tidak akan menyebarkan agama yang dianutnya kepada orang lain yang sudah memiliki agama.

Deklarasi juga menyinggung soal kesepakatan untuk menjadikan Kota Bekasi sebagai contoh kerukunan umat beragama di Indonesia, menjaga kesatuan bangsa di bumi patriot serta mendukung program revolusi mental dalam rangka mewujudkan toleransi antarumat bergama.

Acara yang mengusung tema ‘Kami tinggal, hidup dan berkarya di bumi Patriot, Nyok wujudkan kerukunan , mengasihi dan bertoleransi terhadap perbedaan keyakinan dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa’ itu sebagai upaya menciptakan kondisi Kota Bekasi yang kondusif.

Akhirnya, jika semua itu terwujud dan miniatur Indonesia ada di Kampung Sawah, Jatimurni, Kecamatan Pondokmelati, Kota Bekasi, maka sudah sepantasnya tidak ada lagi hingar-bingar konflik horizontal, terutama yang berkaitan dengan sentimen agama. (Pos Kota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here