Bupati Bengkulu Selatan Ditangkap Diduga Rekayasa Dendam Pilkada

58
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | JAKARTA –  Bupati Bengkulu Selatan, Dirwan Mahmud, diringkus petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP), pPada 14 Mei 2016 lalu. Namun, kasus penangkapan itu diduga merupakan rekayasa dari lawan politiknya untuk menjatuhkan akibat kalah pilkada.

Hal ini karena BNNP Bengkulu mendapati benyaka kejanggalan setelah melakukan investigasi. Diduga, sutradara rekayasa penangkapan itu adalah RE (Reskan Effendi), Bupati Bengkulu Selatan yang sebelumnya. Ia sengaja memanfaatkan oknum petugas BNNP untuk melakukan penggerebekan tersebut. Para oknum, rencananya akan dibayar Rp200 juta untuk melancarkan rekayasa penangkapan tersebut.

Tujuh orang tersangka diamankan atas rekayasa kasus penangkapan tersebut. Keseluruh pelaku adalah RE, 60, mantan Bupati Bengkulu Selatan, RU, 53, mantan sekda Bupati Bengkulu Selatan, HY, 49, mantan Kabid Penindakan BNNP Bengkulu, SA, 40, anggota polri yang diperbantukan ke BNNP bengkulu. DA, 55, dan HD, 38, PNS di BNNP Bengkulu dan oknum wartawan MU, 39.

Deputi Penidakan dan Pemberantasan BNN, Irjen Pol Arman Depari mengatakan, terungkapnya kasus ini berdasarkan hasil investigasi mendalam yang dilakukan pihaknya. “Dari pemeriksaan itu, kami menemukan banyak kejanggalan dari pengungkapan yang dilakukan BNNP Bengkulu,” katanya, Kamis (23/2).

Dikatakan Arman, rekayasa kasus itu bermula dari dendam atas kekalahan pada Pilkada Bengkulu Selatan tahun 2016 lalu. Kala itu, RE sebagai bupati petahana merasa kecewa karena kalah bersaing dengan Dirwan sebagai Bupati terpilih Bengkulu Selatan. “Dari kekalahan itu, RE merencanakan sesuatu untuk menjebak Dirwan,” ujarnya.

RE yang berteman dekat dengan oknum wartawan itu mulai melancarkan aksinya. Terlebih, MU yang kenal dengan petugas BNNP, langsung menawarkan rekayasa penangkapan tersebut. “Dengan dipertemukan oleh HY yang juga diketahui menjabat Kabid pemberantasan BNNP Bengkulu, RE melakukan skenario penggerebekan,” ungkap Arman.

Usai membahas skenario penangkapan, HY merancang aksi penggerebekan. Kala itu, Dirwan dijebak dengan modus penyalahgunaan kepemilikan narkotika, yang ditemukan shabu di meja kerjanya. “Mereka juga yang menyiapkan barang bukti narkotika dan menaruhnya di meja,” tambah Arman.

Sebelum melancarkan aksinya, para pelaku dijanjikan akan mendapat upah sebesar Rp200 juta. Namun, ditahap awal, RE memberikan modal Rp10 juta, yang digunakan untuk membeli shabu kawasan Sumatera Selatan. “Kala itu mereka membeli satu paket shabu dan empat butir ekstasi,” ujar Arman.

Uang tersebut, kata Arman, dibagi kepada HY Rp4 juta, DA, Rp2 juta dan SA, Rp4juta. Sesuai perintah HY, SA diminta menggunakan sebagian uang tersebut untuk membeli narkotika berupa 1 paket shabu senilai Rp500 ribu, serta empat butir ekstasi senilai Rp1.950.000.

Semua perlengkapan dan skenario telah siap, pelaku pun mulai melancarkan aksinya. Oknum petugas BNNP itu langsung menyasar rumah Dirwan untuk melakukan penangkapan. “Peran RU yang juga menjabat sebagai mantan Sekda Bengkulu Selatan, adalah yang meletakan narkotika di meja kerja Dirwan,” ungkap Arman.

Ditambahkan Arman, terkuaknya rekayasa penangkapan itu sendiri bermula dari adanya bukti transaksi di rekening para pelaku. Hingga akhirnya, petugas akhirnya berhasil mengungkap kasus tersebut. “Untuk saat ini, para pelaku masih dalam pemeriksaan mendalam. RE dan HY diamankan di kantor BNN Cawang, lainnya di BNNP Bengkulu Selatan,” paparnya.

Ketujuh tersangka terancam pasal 114 ayat (1) dan 112 ayat (1) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup. (Pos Kota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here