Riwayat Pasar Jumat dan Pasar Sabtu

19
0
SHARE

BHARATANEWS.ID I BOGOR – Salah satu pasar di Jakarta (dulu Batavia) yang ada sejak zaman VOC adalah Pasar Jumat. Disebut Pasar Jumat, karena aktivitas jual beli di masa itu hanya dilakukan di hari Jumat. Namun kini Pasar Jumat tinggal menjadi nama lokasi, tanpa hiruk pikuk jual beli sebuah pasar.

Pasar Jumat berada tak jauh dari Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan. “Pasar Jumat sekarang udah enggak ada, cuma nama jalan saja,” kata Abdilah warga Pasar Jumat, Jakarta Selatan, ketika ditemui merdeka.com, Sabtu (4/2) di lokasi.

Abdilah yang tinggal di kawasan tersebut sejak tahun 1957 menceritakan, awalnya Pasar Jumat dikenal karena hanya ramai pada hari Jumat. Di hari-hari biasa masih ada yang berjualan. Para pedagang pun hanya bermodal gubuk dengan atap bilik atau menggelar dagangannya dengan kain.

Para pedagang membawa dagangannya pikulan. Mayoritas mereka menjajakan hasil bercocok tanam yang dimiliki. Tetapi ada pula yang menjual barang pecah belah. Transportasi yang mereka gunakan hanya gerobak dan sepeda ontel. Menurut Abdilah, para pedagang tak hanya dari warga sekitar saja, ada pula warga dari Parung, Bogor, Jawa Barat.

“Dulu yang jualan banyak dari Parung, dari Tanah Kusir, yang pada punya kebon. Dagang sayuran, buah-buahan ada semuanya di sini. Waktu itu,” katanya sambil menunjukkan beberapa tempat yang kini sudah menjadi jalan raya.

Pasar Jumat kini 2017 Merdeka.com/intan

Pada 1990 semenjak ada terminal bayangan Lebak Bulus, para pedagang di pasar tersebut sudah semakin sedikit. Pada tahun 2000an sejak ada Terminal Lebak Bulus dan sekarang proyek Mass Rapid Transit (MRT) aktivitas berdagang tidak seperti biasanya. Para pedagang sudah mulai surut untuk berjualan di pasar tersebut.

“Wah pas udah ada Lebak Bulus terus sekarang udah ada MRT udah enggak ada lagi itu pasar yang pada dagang, cuma masih dikenal namanya Pasar Jumat,” kata Abdilah sambil mengenang tempat tinggalnya dulu yang berada di samping Pasar Jumat kini menjadi proyek MRT.

Beda Pasar Jumat lain cerita dengan Pasar Sabtu. Pasar Sabtu hingga kini masih ada bahkan semakin ramai, tetapi sudah berganti nama menjadi Pasar Tanah Abang. Bahkan Pasar Sabtu kini menjadi pusat perdagangan terbesar se-Asia Tenggara. Achmad Salam warga asli Tanah Abang menceritakan kepada merdeka.com.

Achmad mengaku pernah mendengar cerita dari almarhum kakeknya. “Dulu kata engkong saya, dulu ini Pasar Tanah Abang dulunya Pasar Sabtu yang buka hari Sabtu saja jadi disebutnya Pasar Sabtu,” kata Achmad Salam ketika ditemui merdeka.com di Masjid AL-Makmur, Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (1/2).

Lelaki paruh baya tersebut pun bercerita, saat itu ada beberapa tempat jagal kambing. Salah satunya yang kini menjadi pos Tanah Abang atau pos pemadam kebakaran. “Sebelah sana juga tuh yang sekarang tempat truk-truk parkir itu juga dulunya tempat parkir kuda-kuda dan delman,” kata Achmad sambil menunjukkan arah.

Pasar Jumat kini 2017 Merdeka.com/intan

Semasa Achmad masih muda, Pasar Sabtu sudah berganti menjadi Pasar Tenabang. Menurut Achmad, di tempat itu dulu terdapat Gedung Bioskop Surya. “Zamannya Haji Roma Irama tuh, darah muda kira-kira tahun 1975-76. Depannya ada tukang potong rambut ramai banget. Sekarang posisinya kira-kira dekat Blok G juga dekat jembatan yang sekarang bongkaran,” kata Achmad sambil berseloroh.

Sebelum tahun 1984, Achmad menceritakan sudah ada blok A,B,C. Lalu pada tahun 2012, Pasar Tanah Abang terbagi menjadi tiga wilayah. Dia menyebutkan beberapa wilayah yaitu Tanah Abang Metro, Tanah Abang Lama dan Tanah Abang AURI. Tanah Abang Lama kata Achmad, terdiri dari beberapa blok, antara lain blok A, B dan F. Sementara Tanah Abang AURI memiliki blok yang lebih banyak, yaitu A, B, C, D, E, F, AA, BB dan CC.

Yerdi, pedagang tekstil yang meneruskan usaha keluarganya sejak tahun 1950 sedikit tahu kisah Pasar Tanah Abang. Yerdi yang sudah lama tinggal dan berdagang di Pasar Tanah Abang mengaku hanya tahu Pasar Tanah Abang berasal dari Tenabang.

“Kalau dulu setahu saya Pasar Tanah Abang ya namanya pasar Tenabang cuma dulu bedanya bangunannya saja,” kata Yerdi.

Yerdi yang berdarah Sulawesi juga mengatakan dahulu pasar tersebut terkenal dengan Pasar kelontongan. Para pedagang yang tidak memiliki toko tetap, mereka memikul dagangannya. Yerdi pun sedikit bernostalgia menceritakan Pasar Tanah Abang saat masih di bangunan lama. Toko milik orang tuanya dulu terletak di kawasan yang kini sudah menjadi blok G.

“Dulu orang tua saya langsung beli toko. Zaman SD saya masih bisa main layangan di dekat toko,” kata Yerdi sambil tersenyum mengenang masa itu.

PKL Pasar Tanah Abang 2014 Merdeka.com/Imam Buhori

Yerdi mengatakan kawasan yang kini dibangun Blok A, dulunya adalah tempat para pedagang tukang jahit busa untuk tas dan bahan-bahan kulit. Kini bangunan lama sudah tidak ada yang tersisa. Seperti, Blok G dahulunya adalah pasar sayuran yang terkenal dengan sebutan pasar atas dan pasar bawah.

“Pasar melati juga ada di situ, ada terminal juga,” kata Yerdi sambil menunjukkan beberapa posisi yang sudah berubah.

Pengamat Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra menjelaskan Pasar Jumat sampai saat ini masih ada namun aktivitasnya saja yang sudah tidak seperti dulu. Awalnya kata Yahya, Pasar Jumat seperti pasar kaget.

“Pasar Jumat itu kan bukanya hari Jumat, kalau kita tahu hari Jumat itu hari yang sangat singkat. Jadi bukanya dari beduk Subuh sampai beduk Dzuhur saja,” kata Yahya.

Menurut Yahya, saat itu Pasar Jumat tidak hanya menjual hasil bumi seperti sayuran dan buah-buahan. Ada pula pedagang dari Jakarta Utara yang menjajakan dagangannya. “Barang pecah belah juga ada di sana, tapi ya kebanyakan jual buah-buahan,” kata Yahya.

Pasar Jumat pada masa itu masih satu jalur dengan Pasar Sabtu yang kini menjadi Pasar Tanah Abang. Kata Yahya, Pasar Sabtu, didirikan oleh seorang tuan tanah berdarah Belanda yaitu Yustinus Vinck pada 1735. Yustinus Vinck membangun dua pasar yaitu Pasar Senen dan Pasar Sabtu dengan fungsi yang berbeda-beda.

“Kalau dulu Pasar Tanah Abang jadi Pasar Sabtu, soalnya bukanya hari Sabtu aja. Kalau di Pasar Sabtu kebanyakan jual tekstil ada juga jagal kambing di sana,” ungkap Yahya.

Pada saat itu, Pasar Sabtu, kata Yahya para pedagang berjualan barang kelontong dan tekstil. Kemudian, pada 1740 terjadi peristiwa Chineezenmoord banyak pembantaian orang-orang Tiongkok dan Pasar Sabtu terbakar. Kemudian, kata Yahya, Tahun 1881 bangunan pasar sudah berbeda, sudah ada dinding bambu dan papan lalu pakai atap rumbia. Menurut Yahya pergantian nama dari Pasar Sabtu menjadi pasar Tanah Abang juga menjadi acuan strategi berdagang.

Pasar Tanah Abang 2013 Merdeka.com

(merdeka.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here