Ih Ngeri, Penderita Penyakit Kronis di Bogor Meningkat

118
0
SHARE

BOGOR – Resiko penyakit kronis yang dihadapi masyarakat semakin tinggi. Sehingga, diperlukan adanya deteksi dini.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan meluncurkkan fitur mobile screening.

Kepala Cabang BPJS Kesehatan Cibinong, dr Parasamya Dewi Cipta menjelaskan, diabetes melitus hipertensi, ginjal kronik, dan jantung koroner merupakan beberapa penyakit kronis yang gejalanya sering diabaikan masyarakat.

Menurutnya, aplikasi yang ada diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengelola resiko penyakit kronis tersebut sejak dini.

Ia menambahkan, screening riwayat kesehatan tersebut merupakan penambahan fitur pada aplikasi BPJS Kesehatan Mobile.

Lebih lanjut ia mengatakan, sebelumnya peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN KIS) hanya dapat melakukan screening riwayat kesehatan secara manual.

“Sekarang cukup mudah, bisa melihat potensi cukup dengan melakukan screening riwayat kesehatan melalui fitur aplikasi BPJS kesehatan Mobile yang bisa diakses di handphone,” katanya kepada Radar Bogor di Aula Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Rabu(01/02/2017).

Menurutnya, para peserta dapat mengunduh aplikasi BPJS Kesehatan mobile di google play store.

Kemudian, dapat melakukan registrasi dengan mengisi data diri setelah terdaftar kemudian mengklik tombol log in, peserta dapat memilih menu screening riwayat kesehatan.

Menurutnya, para peserta dapat mengunduh aplikasi BPJS Kesehatan mobile di google play store.

Kemudian, dapat melakukan registrasi dengan mengisi data diri setelah terdaftar kemudian mengklik tombol log in, peserta dapat memilih menu screening riwayat kesehatan.

Selanjutnya, peserta akan diminta mengisi 47 pertanyaan yang terdiri atas kebiasaan dan aktivitas sehari-harinya, penyakit yang pernah diidap, riwayat penyakit dalam keluarga peserta, pola makan peserta.

Apabia pertanyaan tersebut telah dijawab, maka peserta akan memperoleh hasil screening riwayat kesehatan pada saat itu juga.

Jika peserta memliki risiko rendah, akan disarankan untuk menjaga pola hidup sehat dan melakukan latihan fisik minimal 30 menit setiap hari.

Namun, apabila dari hasil screening peserta terdeteksi memiliki potensi sedang atau tinggi diabetes melitus, maka mereka akan memperoleh nomor legalisasi dan diarahkan untuk mengunjungi fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).

Setelah itu, memperoleh tindak lanjut serta melakukan pengecekan gula darah puasa dan gula darah post prandial.

Jika peserta terdeteksi memiliki potensi penyakit lain hypertensi, ginjal kronik, dan jantung koroner, prinsipnya sama, peserta disarankan agar melakukan konsultasi ke FKTP.

Apabila sebuah FKTP ditemukan banyak peserta dengan risiko mengidap diabetes melitus yang tergolong dalam kategori sedang atau tinggi maka FKTP tersebut dapat melaksanakan edukasi kesehatan pembentukan klub risiko tinggi (rist) kepada sejumlah peserta JKN-KIS yang bersangkutan.

“Sepanjang tahun 2016, BPJS Kesehatan telah melakukan screening riwayat kesehatan kepada peserta seluruh Indonesia. Hasilnya, untuk kategori penyakit diabetes terdapat 702.944 peserta berisiko rendah, 36.225 peserta berisiko sedang, dan 651 peserta beresiko tinggi,” ucapnya.

Sementara untuk kategori penyakit hipertensi, 632.760 peserta berisiko rendah 104.967 peserta beresiko sedang, dan 2.093 peserta berisiko tinggi.

Di kategori ginjal kronik, ada 715.682 peserta didiagnosa memiliki resiko rendah, 23.307 peserta berisiko sedang, dan 831 peserta beresiko tinggi.

Terakhir, kategori jantung koroner, sebanyak 680.172 peserta berisiko rendah, 57.692 berisiko sedang, dan 1.956 berisiko tinggi.

(radar bogor/ded/pojoksatu.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here