Raskin Jadi Rastra Bagaikan Simalakama di Kota Depok

50
0
SHARE

BHARATANEWS.ID I DEPOK – Kepu tus an Pemerintah Pusat melalui Kementerian Sosial (Kemensos) dengan merubah istilah beras miskin (raskin) menjadi beras untuk keluarga sejahtera (rastra) mulai 2017, ibarat buah simalakama.

Di satu sisi, Pemerintah Pusat ingin memperbaiki penyaluran raskin. Namun di bagian lain, Pemerintah Daerah rupanya belum siap dengan kebijakan ini.

Kendati di Kota Depok Rastra telah dilaunching di Balaikota Depok, beberapa waktu silam. Kebijakan ini membuat penyaluran raskin untuk bulan Januari yang seharusnya dinikmati rumah tangga sasaran (RTS), harus dihentikan.

Di atas sofa coklat yang sudah siurterkelupas lapisan kulitnya di beberapa bagian, Mursid (57), masih menantikan kabar apakah dirinya masih masuk kuota RTS untuk program voucer pangan (Rastra) atau tidak.

Bapak enam orang anak yang kesehariannya berprofesi sebagai buruh serabutan ini menjelaskan, selama ini jatah Raskin yang diterima setiap bulan sebanyak 15 kilogram itu pun tidak lantas ditebus tiap bulan.

Dengan penghasilan yang tidak tetap, dirinya tidak memiliki uang untuk mengambil Raskin. Terkadang, Mursid harus patungan bersama tetangga untuk menebus Raskin.

Bahkan, ketika mampu membeli Raskin yang disediakan, pernah suatu waktu ia mendapat beras yang kualitasnya buruk.

Suami Junah (54) ini mengaku dirinya memiliki kartu Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Kartu Indonesia Sejahtera (KIS), tetapi itu belum mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Ia mentaksir penghasilan per minggu sekitar Rp400 ribu, tapi kadang habis untuk membayar hutang di warung dan membiayai dua orang anaknya yang masih bersekolah.

“Saya belum tahu apa masih dapat atau tidak, untuk Raskin di Januari ini saja belum turun,” kata warga RT01/RW16 Kelurahan Tapos, Kecamatan Tapos, ini.

Terkait informasi voucer pangan sebagai pengganti Raskin, Mursid belum mengetahui. Kendati demikian, ia berharap agar dirinya mendapatkan voucer tersebut, sehingga membantu kehidupan keluargannya.

“Tadi baru dikasih tahu sama anak karang taruna, katanya tidak pakai nebus-nebus lagi ya. Kalau itu saya mau dan berharap sekali dapat,” ujar Mursid.

Harapan yang sama disampaikan Nasiyah, warga RT09/RW09 Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Cimanggis. Kiranya program voucer pangan tersebut sampai pada dirinya.

Nasiyah sendiri merupakan janda yang rumahnya baru mendapatkan bantuan rehabilitasi. Ia mengharapkan agar program baru pemerintah dapat menyentuh lapisan masyarakat bawah dan tepat sasaran.

“Semoga saya dapat bantuan itu juga,” harap Nasiyah.

Terkait adanya perubahan keputusan ini, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Cimanggis, Buyung Sugiarto, mengatakan, di Januari memang tidak mendapat jatah Raskin lagi.

“Pertengahan Januari ada revisi dan validasi, agar tidak salah sasaran. Ini baru rencana, bulan Februari baru turun, revisi sudah jalan semua. Saat ini memang belum dilakukan sosialisasi,” kata Buyung.

Menurutnya, program voucer pangan membuat RTS diuntungkan, karena mereka bisa dapat langsung tanpa membayar. Sedangkan yang bukan RTS tidak akan mendapatkan.

Indikator atau kriteria yang menjadi RTS, berpenghasilan di bawah Rp1,5 juta per bulan, rumahnya tidak layak huni, listrik tempat tinggal di bawah 900 watt.

“Waktu Raskin di kelurahan alhamdulillah merata, orang yang tidak menjadi RTS mereka bisa mencicipi, tapi bukan gratis dan masih dengan harga dari pemerintah. Contohnya, orangg yang sejahtera, warganya orang tidak mampu membeli beras raskin. Bukan digratiskan yang penting dibayar dulu, jadi saling membantu,” tutur Buyung.

(radar depok/cky/pojoksatu.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here