Home Wilayah Bogor Roti Tan Ek Tjoan Belum Mati.“Walaupun saya enggak ngerti roti, saya lihat...

Roti Tan Ek Tjoan Belum Mati.“Walaupun saya enggak ngerti roti, saya lihat bisnis ini bisa gede.”

75
0
SHARE

BHARATANEWS.ID I BOGOR – Suatu hari seorang teknisi mesin dari Belanda datang mengunjungi pabrik roti Tan Ek Tjoan di Ciputat, Tangerang Selatan. Menurut data arsip perusahaan tempat pria ini bekerja, Tan Ek Tjoan pernah memesan sebuah mesin proofer untuk mengembangkan adonan roti. Dia mengutarakan maksud dan tujuannya kepada Josey R. Darwin, pemilik roti Tan Ek Tjoan, untuk mengecek keberadaan mesin tersebut.

Menurut Josey, mesin-mesin asal Negeri Oranye yang digunakan pabrik roti Tan Ek Tjoan ini sudah amat langka. Maka tak mengherankan jika seri tahun pembuatan pada mesin proofer roti ini sudah tak dapat dikenali. Betapa takjubnya sang teknisi, mesin yang dikira sudah waktunya masuk gudang itu ternyata masih dapat bekerja dengan baik. Dia menyarankan Josey memuseumkan mesin ini karena sudah masuk kategori barang antik.

“Saya jawab saja, jangankan bikin museum, bikin perusahaan survive saja sudah setengah mati. Kalau ini benar-benar antik, bawa saja ke Belanda dan gantiin dengan dua biji mesin baru kayak gini. Iya, dong. Kan barang antik, harganya pasti mahal,” Josey bercanda.

Mesin pembuat roti Tan Ek Tjoan memang sudah uzur. Maklum saja, roti Tan Ek Tjoan berdiri sebelum Indonesia merdeka. Tepatnya didirikan oleh Tan Ek Tjoan pada 1921 di Bogor. Meski Josey kini berstatus sebagai pemilik roti Tan Ek Tjoan, ia tak memiliki hubungan darah dengan pendiri asli. Cucu Tan Ek Tjoan, Alexandra Tamara, yang meminta Josey untuk mengambil alih perusahaan tua itu sejak tujuh tahun silam.

Pada mulanya Tan Ek Tjoan merintis usaha roti di Bogor. Istrinya, Phia Lin Nio, pandai membuat roti. Sedangkan Tan Ek Tjoan membantu penjualan roti dari segi bisnis. Kala itu banyak orang Belanda yang menjadi pelanggan sehingga roti Tan Ek Tjoan juga dapat cepat berkembang. Bahkan, ketika Tan Ek Tjoan meninggal, usaha rotinya semakin maju. “Istrinya itu di tahun 1950 buka cabang baru di Cikini. Dari sana justru makin besar bisnis rotinya,” cerita Josey.

 

 

Apalagi Tan Ek Tjoan dalam bayangan saya jualan roti dengan gerobak. Duitnya ada di mana?”

Sepeninggal Phia Lin Nio, roti Tan Ek Tjoan diwariskan kepada kedua anaknya: Tan Bok Nio dan Kim Tamara alias Tan Kim Thay. Cabang Jakarta diberikan kepada Kim Thay, sementara Tan Bok Nio memegang roti Tan Ek Tjoan Bogor. Kedua usaha memiliki manajemen yang terpisah.

Di bawah kepengurusan Tan Kim Thay, roti Tan Ek Tjoan mulai menggunakan jasa pedagang gerobak untuk pemasaran. Kim Thay menikah dengan warga Belanda, Elisabeth Tamara Arts. Dari pernikahannya, lahir Robert dan Alexandra Salinah Tamara, yang merupakan teman Josey. Alexandra dan Robert tumbuh besar dan lebih banyak menghabiskan waktu di negeri Belanda sehingga tak banyak ikut campur dengan bisnis roti keluarga.

“Waktu ayah Alexandra meninggal, usaha roti ini juga diserahkan kepada pegawainya yang sudah kerja lama, sementara mereka tinggal di Belanda. Jadi benar-benar enggak terurus,” kata Josey, 58 tahun.

Josey kenal Alexandra, cucu Tan Ek Tjoan, di acara reuni sekolah dasar. Meski keduanya keturunan Tionghoa, Josey dan Tamara sempat menempuh pendidikan sekolah Belanda di Jakarta. Josey sudah lama berbisnis properti dan tambang. Makanya dia ragu saat Alexandra menawarinya untuk mengelola roti Tan Ek Tjoan. Bisnis roti jadoel tak pernah terlintas di pikirannya. “Apalagi Tan Ek Tjoan dalam bayangan saya jualan roti dengan gerobak. Duitnya ada di mana?” kata Josey.

Lantaran diminta Alexandra, Josey memeriksa pengelolaan pabrik roti Tan Ek Tjoan. Josey penasaran mengapa, sejak diurus oleh pegawainya, roti Tan Ek Tjoan lebih banyak buntung daripada untung. Rupanya manajemen yang diterapkan sang pegawai memang amburadul. Tambah diperparah lagi banyak pegawai yang korupsi.

“Ya, ini kenyataan yang saya sampaikan kepada Alexandra. Tapi, saat memeriksa kondisi Tan Ek Tjoan, saya mulai tertarik. Walaupun saya enggak ngerti roti, saya lihat bisnis ini bisa gede,” Josey menjelaskan pertimbangannya menerima tawaran Alexandra untuk mengambil alih roti Tan Ek Tjoan.

Bertahun-tahun Josey harus pontang-panting mengembalikan kejayaan roti Tan Ek Tjoan. Roti Tan Ek Tjoan bukan lagi Tan Ek Tjoan zaman dulu. Sudah lama Tan Ek Tjoan “turun kelas”. Dengan masih mengandalkan gerobak sebagai ujung tombak penjualan, pelanggannya sekarang kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke bawah. Padahal dulu roti Tan Ek Tjoan masih dinikmati oleh orang Belanda dan kebanyakan kalangan berduit.

Presiden Sukarno termasuk salah satu yang pernah mencicipi roti yang memiliki ciri khas bertekstur keras itu. Seperti dikisahkan Mangil Martowidjojo dalam buku Kesaksian tentang Bung Karno, Bung Hatta menyempatkan diri berhenti di depan toko roti Tan Ek Tjoan di Bogor. Ia menyuruh Sardi, pengawal Bung Karno, untuk membeli roti. Uang Rp 5 diberikannya, sementara Sardi membeli roti seharga Rp 3,75.

“Tan Ek Tjoan sekarang ini malah keberatan di nama. Jujur saja ya, kalau saya enggak ada usaha lain, enggak bisa makan. Bisa jalan tapi belum bisa dikatakan menghasilkan untung. Karena kadang dia untung, kadang rugi karena masih menjaga peralatan,” kata Josey. Menurutnya, produksi roti Tan Ek Tjoan sekitar 9.000 roti per hari masih jauh di bawah produksi optimum.

Josey bercerita, meski produksi roti kalah jauh dari perusahaan roti modern, masih ada pelanggan yang setia pada roti Tan Ek Tjoan. Ia bahkan pernah kena omel karena mengubah resep roti gambang. Roti yang terbuat dari gula aren ini identik dengan tekstur kerasnya. Pelanggan itu marah karena Josey justru membuat roti gambang jadi lebih empuk.

“Kami ditelepon, dimarah-marahin, mengapa rotinya jadi begini. Tapi komplain itulah yang bikin saya senang dan makin terpacu. Berarti mereka perhatiin. Mau enggak mau, kualitas kita enggak bisa begini,” kata Josey.

Roti Tan Ek Tjoan memang tak bisa lepas dari kesan roti jadoel. Namun mempertahankan kualitas roti jadoel malah sulit. Josey mengaku belum puas dengan kualitas roti Tan Ek Tjoan yang ia buat. Meski resep yang digunakan masih sama, terdapat beberapa perubahan takaran bahan baku. Salah satu penyebabnya adalah harga jual menjadi tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat roti jadoel Tan Ek Tjoan seperti aslinya dulu.

“Kalau bicara jujur, quality is the price dan ini masih jomplang. Saya sih bangga bisa punya Tan Ek Tjoan, tapi bangga doang enggak cukup. Jadi, selama masih bisa bertahan hidup, ya happy happy sajalah,” katanya. Untuk menaikkan “kelas” roti Tan Ek Tjoan seperti dulu, Josey berencana membuat produk baru untuk pasar menengah-bawah.  (x.detik.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here