LIPSUS IMLEK: Makanan Khas China Ngo Hiang yang Jadi Ikon Kota Hujan

2908
0
SHARE

BHARATANEWS.ID IBOGOR – Siapakah yang tak mengenal makanan legendaris khas Bogor ini? Chinese food yang berupa daging gulung goreng yang disajikan dengan tahu, kentang, acar lobak dengan kuah kacang ini merupakan salah satu alasan terbesar orang-orang dari berbagai daerah untuk datang dan menginjakkan kaki di Bogor ini.

Banyak sekali kuliner asli negeri China yang menjadi makanan khas daerah–daerah di Indonesia. Salah satu contohnya adalah loempia.

Di Semarang, kuliner asal China tersebut telah disesuaikan dengan selera masyarakat, akhirnya menjadi ciri khas kota tersebut. Nah, Bogor juga mempunyai kuliner asal China yang menjadi identitas kota hujan.

Namanya ngo hiang. Kuliner ini terbuat dari daging yang digulung dan digoreng dengan tepung. Gulungan daging ini biasanya panjang, sehingga saat dihidangkan akan dipotong-potong terlebih dahulu.

Daging yang digunakan adalah daging babi. Ngo Hiang goreng disajikan bersama saus khusus.

Rupanya, rumah makan yang menjual ngo hiang ini hanya ada tiga di seluruh Bogor, yaitu Ngohiang Siliwangi, Ngohiang Gg. Aut, dan Ngohiang Khas Bogor.

Hebatnya, ketiga warung ngo hiang tersebut dimiliki oleh tiga kakak beradik, karena merupakan warisan peninggalan kedua orang tua mereka.

Owner Ngo Hiang Khas Bogor Gedung Dalem, salah satu toko yang paling dekat dengan Pasar Bogor dibandingkan kedua lainnya, Firman Cahyadi, mengatakan, sudah sejak dulu Ngo Hiang peninggalan kedua orangtuanya menjadi laris manis diincar para wisatawan, utamanya Tiongkok.

Ngo hiang merupakan makanan khas China yang terbuat dari daging babi gulung yang dibalut dengan kulit khusus seperti kulit lumpia.

Penyajiannya, berdampingan dengan acar, tahu dan kentang.

“Bumbunya ini bumbu khusus, tidak beda dari apa yang dibuat oleh orangtua saya, kekonsistenan itulah yang membuat banyak wisata selalu kembali untuk makan di sini,” katanya kepada Radar Bogor.

Menurut Firman, tidak hanya pemiliknya yang turun temurun, pengunjung atau penikmat ngo hiang sejak dulu juga turun temurun.

“Jadi waktu dulu ibu bapaknya sama anak-anaknya, nah, beberapa tahun kemudian, anak-anaknya ke sini bawa anak mereka masing-masing, terus aja begitu, kalau saya perhatiin,” ungkap Firman.

Tidak banyak inovasi yang ia atau saudara-saudaranya lakukan dalam mempertahankan usaha turun temurun itu.

“Asal konsisten, dari rasa paling utama, itu yang menarik konsumen balik lagi,” pungkasnya.

(radar bogor/ran/c/.pojoksatu.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here