Home Wilayah Jelang Imlek, Vihara di Bandung Siapkan Lilin Sembahyang

Jelang Imlek, Vihara di Bandung Siapkan Lilin Sembahyang

25
0
SHARE

BHARATANEWS.ID I BANDUNG – Serba-serbi menjelang tahun baru Cina atau Imlek mulai terlihat di beberapa sudut di Kota Bandung. Ornamen merah menjadi ciri khas yang dipasang para warga Tionghoa menjelang imlek. Tidak hanya lampion, lilin merah juga tak pernah absen menerangi rumah dan wihara tempat umat bersembahyang.

Jadi tak usah heran jika berkunjung ke wihara di sekitar Jalan Cibadak Bandung, Anda akan melihat banyak lilin merah berukuran besar berjajar di pelataran wihara. Salah satunya Vihara Dharma Ramsi. Sudah sejak lama wihara ini memproduksi lilin sembahyang sendiri untuk para umat wihara tersebut. Ukurannya pun beragam. Ada yang berukuran kecil sekitar 30 sentimeter untuk sembahyang, ada juga yang berukuran 1,75 meter untuk dipasang saat Imlek selama 14 hari ke depan.

“Kita produksi lilin sendiri untuk umat kita. Nanti lilin-lilin ini akan dinyalakan berpasangan di pelataran. Ini merupakan tradisi kami dalam menyambut tahun baru,” ujar Asikin, 67 tahun, jemaat sekaligus pengelola Vihara Dharma Ramsi, Rabu, 18 Januari 2017.

Produksi lilin ini hanya dilakukan sesuai dengan pesanan, sehingga, menurut Asikin, tidak ada kelebihan produksi setiap tahunnya. Namun tingkat pemesanan tahun ini sedikit lebih rendah daripada tahun sebelumnya. Ia juga menyebut lilin yang dipakai wihara tersebut merupakan lilin daur ulang, sehingga ongkos produksi lebih rendah.

“Setiap tahun ada lilin dibakar di sini, hanya 14 hari, dan dinyalakan pagi sampai sore saja, jadi sisa lilin banyak. Nah, lilin-lilin tersebut kan tidak dibawa pulang oleh jemaat. Makanya kita daur ulang jadi lilin baru, jadi harga di kita lebih rendah,” kata Asikin.

Filosofi lilin adalah menerangi, sehingga keluarga yang menyalakan lilin pada saat Imlek menuju Cap Go Meh memiliki harapan agar semua hal yang dilakukan tahun depan diterangi dan diberi kemudahan. Sedangkan ukuran lilin menunjukkan tingkat keberhasilan di tahun sebelumnya.

“Terserah saja mau beli yang mana juga, itu sesuai dengan keuangan yang dimiliki. Kalau usaha atau kerjanya sukses, mereka bisa beli yang ukurannya besar. Itu disesuaikan dengan keberhasilan jemaat saja,” ucap Asikin.

(DWI RENJANI/tempo.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here