KSP Pandawa Depok Dipasangi Garis Polisi

47
0
SHARE

BHARATANEWS.ID I DEPOK – Aparat Kepolisian Resort Kota Depok memasang garis polisi di kantor Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Mandiri Group. Pemasangan dilakukan sebagai bagian dari penyelidikan serta pengumpulan bukti – bukti terkait dugaan penipuan pengumpulan dana investasi Pandawa Group.

“Pantauan “PR”, sejumlah anggota Reskrim Polresta Depok terlihat berada di koperasi yang beralamat di Jalan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok, Kamis 26 Januari 2017 siang. Seorang polisi mengatakan‎, pemasangan garis baru dilakukan hari itu. Suasana terbilang sepi di KSP Pandawa. Tak terlihat aktivitas di sana. Sebuah kertas pengumuman yang mengatasnamakan pengurus KSP Pandawa Mandiri Group tertempel di kaca kantor. Isinya, kegiatan operasional koperasi diliburkan karena adanya persiapan rapat anggota tahunan tahun buku 2016 yang diselenggarakan pada 25 Januari 2017. Koperasi berhenti beroperasi hingga batas waktu yang akan ditentukan kemudian.

Suasana sepi juga terlihat Perumahan Palem Ganda Asri Limo. Perumahan yang berlokasi di dekat kantor koperasi itu dihuni para pimpinan Pandawa Group. Sebelumnya, banyak nasabah yang berdatangan ke perumahan tersebut guna menuntut pengembalian uang investasi yang disimpan di Pandawa Group. Palem Ganda Asri Limo ternyata bukan aset Pandawa Group. Hal itu terkonfirmasi dari baligo bertuliskan Palem Ganda Asri Limo hanya untuk disewakan yang dipasang di seputar perumahan.

Kepala Sub Bagian Humas Polresta Depok Firdaus menyatakan, pemasangan garis polisi merupakan bagian proses penyelidikan polisi. “Agar barang bukti yang ada tidak dihilangkan,” ucap Firdaus dalam pesan singkatnya, Kamis siang.

Seperti diketahui, ‎ sejumlah nasabah melaporkan Pandawa Group ke Kepolisian Resort Kota Depok terkait dugaan penipuan berkedok pengumpulan dana investasi. Polisi pun mulai mengusut perka‎ra tersebut.

Pelaporan dilakukan di Mapolresta Depok, Jalan Margonda Raya, Kota Depok, Kamis 19 Januari 2017. Total sekitar delapan nasabah yang melaporkan praktik pengumpulan uang investasi Pandawa Group.Wakil Kepala Polresta Depok Candra Kumara mengungkapkan‎, satu nasabah sudah resmi membuat laporan polisi. Tujuh lainnya didata dan membuat surat pernyataan sebagai nasabah. Menurutnya, pelaporan tak perlu banyak orang. “Cukup pelapor satu, yang lain (jadi) saksi, korban,” ucapnya. ‎Dari sejumlah nasabah yang melapor itu, kata Candra, total kerugian mencapai hampir Rp 5 miliar lebih.

Para nasabah yang melapor berasal dari wilayah di sekitar Depok.‎ Candra mengatakan, ada nasabah melapor karena tak mendapat persentase keuntungan 10 persen yang dijanjikan. “Ada (pula) yang memang sudah habis kontrak atau temponya tetapi pokoknya enggak dikembalikan, modal pokoknya,” tuturnya.‎ Menurut Candra, penanganan kasus akan dilakukan oleh Polda Metro Jaya. Korps Bhayangkara Depok hanya menerima pelaporan dan mengusut dugaan perkara penipuan‎ sebagaimana pasal 378 dan 379 a. “Nanti Polda juga memproses (terkait) Undang – Undang Perbankan maupun koperasinya,” ujar Candra. Kini, Polresta Depok mulai menindak lanjuti laporan tersebut.

“Kita minta keterangan saksi dulu, kemudian alat bukti, kalau memang cukup bukti untuk menetapkan tersangka dari pihak Pandawa, ya tetapkan tersangka,” ucap Candra.‎ Dia meminta warga tak perlu takut melapor bila menjadi korban praktik investasi Pandawa Group. Warga juga tak perlu khawatir kehilangan uang yang disimpan itu jika melapor. “Laporkan dulu saja, enggak masalah,” tuturnya.

Seperti diketahui, OJK menghentikan seluruh kegiatan pengumpulan dana yang dilakukan Pandawa Group, Kota Depok karena berpotensi merugikan masyarakat dan melanggar Undang – Undang tentang Perbankan.

Lembaga keuangan yang berlokasi di Jalan Meruyung itu telah menghimpun dana masyarakat dengan tawaran bunga investasi tinggi.”Satgas Waspada Investasi dalam rapat tersebut memutuskan menghentikan kegiatan penghimpuan dana masyarakat yang dilakukan oleh Salman Nuryanto dan/atau Pandawa Group terhitung sejak tanggal 11 November 2016,” ujar Tongam dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 15 Januari 2017. Satgas pun menegaskan, segala kegiatan penghimpuan dana tersebut ilegal. Tak hanya itu, Salman diperintahkan tidak menggunakan nama Pandawa Group dan mengganti identitasnya menjadi KSP Pandawa Mandiri Group.

Meskipun sejumlah nasabah tak merasa dirugikan, praktik pengumpulan dana oleh Pandawa Group akan menjadi bom waktu. Pasalnya, Pandawa diduga hanya memutar uang dari para anggotanya tanpa adanya investasi yang nyata.‎ Pandawa Group mengklaim akan mengembalikan uang nasabah ‎selepas Otoritas Jasa Keuangan melarang mereka beroperasi.(pikiran-rakyat.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here