Home Berita Utama Sekarang Raskin/Rastra biasa di jadikan ladang bisnis

Sekarang Raskin/Rastra biasa di jadikan ladang bisnis

37
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Penyaluran beras Raskin akhir-akhir ini sangat memperihatinkan, beras bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah itu di tebus dengan nominal tinggi . Jelas di sini terlihat tidak mengikuti standar harga beras yang bersubsidi itu, di temukan beberapa kasus di salah satu Kecamatan Rumpin tepatnya Desa Rabak , dari bebarapa penuturan informasi dilapangan, terdapat penebusan Raskin bersubsidi yang mencapai harga Rp.3000,- ,menurut salah satu warga desa Rabak Rt 3 Rw 3, Uti mengemukakan bahwa” penebusan raskin untuk per 1 liternya di hargai Rp. 3000,- yang di tebus di RT“, padahal berdasarkan petunjuk pelaksanaan dari bulog , harga tebus subsidi beras bagi masyarakat berpendapatan rendah (HTR) sebesar 1600/kg di TD (titik distribusi), menurut aturan, titik distribusi yang di tetapkan di kantor/balai desa/kelurahan atau di lokasi lain atas kesepakatan tertulis antara pemerintah kabupaten/kota dengan perum BULOG setempat.

Kenyataan di lapangan, penyaluran raskin diberikan kepada setiap keluarga dengan kisaraan 20 liter per satu kelurga yang ditebus dengan Rp. 3000,-/1liternya, dalam hal ini Desa Rabak memakai ukuran liter bukan dengan ukuran kilogram, namun ukuran 20 liter bila di koneversikan itu lebih kurang dengan 15 kg, bila suatu warga menebus 20 liter, berarti warga harus merogoh kocek sebesar Rp.60,000,- / 1 kepala keluarga dan penebusan raskin di desa rabak biasa dinikmati warga dalam kurun waktu 3 bulan sekali, bila menerapan aturan penebusan beras raskin hitungannya per 1 kepala keluarga di alokasikan 15kg di kalikan Rp.1600,- sehingga mendapatkan hasil Rp.24.000,-.
Kendati demikian bila dicermati melebihi 2 kali lipat pengeluaran mayarakat kurang mampu untuk membeli kebutuhan pangan, kerap keluh warga yang tidak bisa melakukan tindakan, hanya pasrah dengan aturan penebusan beras tersebut, tentunya kejadian tersebut sangat bertolak belakang dengan tujuan program pemertintah untuk mengurangi beban pengeluaran Rumah Tangga Sasaran -Penerimaan Manfaat (RTS-PM) dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Saat kami konfirmasi kepada pejabat setempat terkait penebusan raskin sebesar Rp.3000,- , Wawan selaku Sekertaris Desa Rabak menyangkal “ kalau desa tidak merasa melakukan itu, karena aturan dari sana pun tidak seperti itu”. Beliau pun menuturkan kalaupun misalkan “mengambil buruh angkut sih wajar saja lah!” ujarnya. Contoh model trasportasi ke cijantur, nah bila pakai ojeg kan 50 ribu satu kali balik!, buktinya!!! “ bila di lapangan kan kelihatannya enjoy aja seperti tidak ada masalah”, tandasnya Sekdes yang dituturkan dalam bahasa sunda.
Sekdes pun kembali menerangkan “Kalau saya sih sesuai peraturan yang ada, kan pengelolanya bukan saya”. Dan adapun bila ada RT yang menjual melebihi dari aturan, kami akan panggil dan mempertanyakan alasannya?”, karena kami sudah menjalankan sesuai aturan yang ada . Di takutkan, mereka bisa menjual dengan ketentuannya sendiri di luar ketentuan kami. Nanti pada akhirnya penyakitnya ke desa-desa juga, dan dianggapnya pihak desa bisa berkerja sama dengan oknum” tegasnya.
Karna Sungguh mengherankan penyelenggara Negara yang sudah menjabat 20 tahun di kelurahan rabak itu pun terkesan tidak mengetahui secara pasti soal penyaluran raskin, disaat kami meminta keterangan lebih lanjut. Adapun hanya sebatas informasi penebusan beras raskin di kecamatan untuk desa selebihnya yang lebih mengetahui adalah pihak Pengelola.”dalihnya”
Sementara itu Sandi selaku pengelola pendistribusian Raskin dan sekaligus bendahara Desa menerangkan “ untuk penyaluran Raskin kami musyawarah dan di disini saya di bantu oleh staf-staf desa baik RT dan RW yang mewakili warga. Dan karena jarak yang jauh antar kampung dan kantor desa tersebut, kami tidak bisa langsung menyalurkan kelokasi tersebut. Dan untuk masalah harga saya tidak menganjurkan penebusan raskin di angka Rp.3000,- ,bahkan bila ada informasi-informasi seperti ini ,saya akan memebicarakan baik dari sistem dan mekanismenya dengan Kepala Desa. Untuk penyaluran Raskin di Desa kami tugaskan ke RT-RT, lalu rumah tangga sasaran tersebut menembus harga Rp.2300. Kalau di angka Rp. 3000 saya cukup kaget” ucapnya.
Beliau menegaskan tiap pengambilan raskin berjarak 3 bulan sekali dengan tujuan agar satu Desa kebagian semua. Beberapa hari kebelakang desa rabak menurunkan Raskin sebanyak 45 ton, dan sudah disalurkan ke seluruh RT dan masing-masing RT mendapatkan jatah sebesar 1 ton.
” saya tidak tahu RT-RT tersebut mempunyai warga berapa?, yang penting di sini warga harus adil!, entah 10kg atau 15kg yang penting harus rata semua!” Mendistribusikan dan yang bertanggung semua dalam hal ini adalah saya” tegasnya Sandi.
Menurut informasi , dari hasil musyawarah desa, desa menyalurkan Raskin diangka Rp.2300 ,- melalui RT dalam ukuran kilogram untuk langsung di salurkan ke tangan warga. Terkait dari biaya oprasional penyaluran Raskin, Sandi pun menerangkan bila memang ada dana oprasional (bop) dari bulog, tetapi biaya oprasional tidak menentu baik nominal dan pencairannya lambat.ungkapnya
Beberapa waktu yang lalu Desa Rabak menurunkan 45 ton raskin, Adapun total penebusan Raskin sebanyak 45 ton di tebus sejumlah Rp. 72 juta. untuk biaya kuli gendong sebesar Rp.100rb. Sandi sekaligus pengelola menyatakan “dari bulog sendiri seharga Rp. 1600, tetapi di sini bila kita menjual dengan harga segitu, kita sulit untuk mendistribusikan bila kita mengunakan anggaran Rp. 1600” sangkalnya.
Di bandingkan dari anggaran yang sudah di tentukan dalam Pedoman Umum subsidi beras bagi masyarakat bepenghasilan rendah penerapan angaran sebesar Rp.1600,-/Kg terdapat selisih Rp. 700 ,-/Kg dari penebusan Rp. 2300,- /kg tegasnya Sandi selaku pengelola” kalau desa hanya menditibusikan dengan penebusan Rp,2000,-, jadi selisi Rp. 300,- itu untuk kuli dan transportasi”. Secara tidak langsung Rp.400,-/kg terindikasi masuk ke kentong pribadi.
Hal senada Sekdes dan pengelola tidak bisa menjelaskan lebih mendetil terkait sistem yang terjadi ini. Dari hasil kesimpulan kedua tanggapan yaitu kepala desa Suherman selaku kepala desa Rabak yang paling mengetahui dan sebagai penentu kebijakan yang ada.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here