Operasi pasar direncanakan melalui pedagang

115
SHARE

BHARATANEWS.ID IBOGOR – “Operasi Pasar, tidak lagi di depan pasar. OP akan diserahkan langsung ke pedagang, dan mereka juga untung. Untung boleh, tapi jangan berlebihan”

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyiapkan skema operasi pasar (OP) langsung ke pedagang dan tidak lagi membuka kios khusus di depan pasar-pasar tradisional seperti waktu sebelumnya. Hal itu disampaikan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam sambutannya pada Peresmian Pasar Induk Batang, Kamis (22/12/2016)

Meski skema operasi pasar tersebut langsung diberikan ke pedagang, namun menurutnya pemerintah akan tetap mengawasi dan menentukan harga yang dijual “Operasi Pasar, tidak lagi di depan pasar. OP akan diserahkan langsung ke pedagang, dan mereka juga untung. Untung boleh, tapi jangan berlebihan,” kata Enggartiasto seperti dikutip Antara.

Skema tersebut akan dilakukan pemerintah apabila ada kenaikan harga yang dinilai tidak wajar. Pemerintah akan mencari informasi apa penyebab kenaikan harga tersebut, dan kemudian menggelontorkan pasokan ke para pedagang dengan harga jual yang ditetapkan pemerintah.

“Saat harga perolehan tinggi, kami akan pasok. Dijual dengan harga yang lebih murah, ada batas kenaikan harga akan tetapi jangan berlebihan,” ujar Enggartiasto, berharap.

Sejauh ini, pemerintah masuh belum berencana untuk melakukan skema operasi pasar tersebut dikarenakan kondisi harga kebutuh pokok masih dalam kisaran stabil. Meski ada kenaikan sedikit untuk minyak goreng, namun itu masih dalam batas kewajaran.

Tercatat, dalam Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, rata-rata harga beras nasional sebesar Rp10.400 per kilogram, harga daging sapi RpRp114.500 per kilogram, minyak goreng Rp11.700 per liter dan gula pasir Rp14.000 per kilogram.

Dalam upaya menjalankan skema tersebut saat diperlukan, pemerintah telah menemui beberapa distributor bahan pokok penting untuk menjamin adanya pasokan. Beberapa yang ditemui oleh pemerintah adalah pengusaha daging, beras, minyak goreng dan gula.

Salah satu langkah yang diambil pemerintah dalam pengendalian harga daging sapi adalah, Kementerian Perdagangan memfasilitasi penandatanganan nota kesepahaman kemitraan pendistribusian daging antara Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) dengan Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI).

Dengan adanya kerja sama tersebut, diharapkan harga daging sapi di pasar rakyat bisa turun hingga level Rp80.000 per kilogram.

Upaya stabilisasi harga daging untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Perum Bulog akan berperan sebagai penyedia stok daging dan ADDI sebagai pelaku distribusi. Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan antara Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti dengan Ketua Umum ADDI Ahmad Hadi pada Rabu (21/12).

Dalam nota kesepahaman tersebut, disepakati bahwa Perum Bulog dan ADDI akan menyediakan dan mendistribusikan daging sapi untuk pasar rakyat di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) dengan harga tertinggi di tingkat konsumen sebesar Rp80.000 per kilograam.

Sementara untuk beras kualitas medium, pemerintah menjamin bahwa stok beras kebutuhan masyarakat dalam kondisi aman atau masih mencukupi hingga Mei 2017.

Tercatat, jumlah stok beras yang dimiliki oleh pedagang kurang lebih sebanyak 15-18 juta ton yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga Mei 2017, sementara yang ada di Perum Bulog hingga saat ini sebanyak 1,75 juta ton.

(PU/merdeka.com)