Sisa Kelompok Teroris Santoso Dinilai, Hambat Pembangunan di Poso

67
0
SHARE

BHARATANEWS.ID ISULAWESI – Keberadaan sisa-sisa kelompok teroris Santoso di pegunungan Poso Pesisir dan sekitarnya selama ini, ditenggarai telah menghambat pembangunan Poso secara umum.

Karenanya warga Poso meminta pemerintah pusat segera melenyapkan sisa-sisa kelompok Santoso yang masih berkeliaran di sana dengan menggempurnya secara massif.

Hal itu dikatakan tokoh pemuda Poso, Rizal Calvary Marimbo dalam keterangan pers, yang diterima Warta Kota, Rabu (21/12/2016).

Apalagi, kata Rizal, dalam kontak senjata antara Tim Nanggala 8 Satuan Tugas Tinombala dengan kelompok teroris tersebut di Kampung Maros, Desa Maranda, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Selasa (20/12/2016) lalu, telah kembali menewaskan satu prajurit TNI.

“Intensitas pemberantasan kelompok mereka ini jangan menurun. Pemerintah pusat harus tetap memrioritaskan penangkapan seluruh sisa-sisa pengikut Santoso dihutan-hutan itu. Harus digempur secara besar-besaran. Jangan kelamaan. Sebab Poso mau membangun, dan masalah yang muncul itu-itu saja. Poso kembali ke titik nol karena ini,” kata Rizal.

Ia mengatakan, setelah Santoso tertangkap dan tewas, semestinya diikuti operasi besar-besaran untuk menumpas kelompok ini, sehingga menyelesaikan masalah keamanan di Poso.

Sebab kelompok teroris ini pasti melemah dan kehilangan motivasi, setelah tewasnya Santoso.

Namun, nyatanya sisa kelompok Santoso sempat melakukan konsolidasi dan menguat. Penyebabnya ada ruang gerak terbuka untuk itu sehingga terus mengadakan perlawanan.

Rizal mengatakan, Poso akan segera tancap gas untuk membangun, setelah menunggu selama 20 tahun.

Menurutnya konflik horisontal di Poso sebelumnya, telah menghancurkan perekonomian masyarakat dan hampir seluruh sendi-sendi kehidupan di sana. Sehingga Kabupaten Poso, kini menjadi kabupaten termiskin kedua di Sulawesi Tengah.

“Padahal sebelum konflik, Poso merupakan episentrum perkembangan ekonomi dan pembangunan di Sulawesi Tengah. Dulu, sebanyak 40 persen Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah datang dari Kabupaten Poso. Sekarang Kabupaten Poso menjadi termiskin kedua dan masuk daerah tertinggal,” kata Rizal.

Karenanya ia meminta pemerintah pusat benar-benar memahami perasaan rakyat Poso.

Sebab, masyarakat Poso merasa penumpasan Kelompok Santoso ini terlalu memakan waktu yang lama atau hampir satu dekade.

“Padahal, dulu, pemerintah pusat menumpas DII/TII Kahar Muzakar di Sulawesi tak butuh waktu lebih dari lima tahun meski dengan peralatan perang yang terbatas. Tetapi ini kok lama sekali?,” kata Marimbo.

Karenanya ia dan masyarakat Poso berharap penumpasan sisa-sisa kelompok Santoso, bisa tuntas dalam waktu dekat dan tak terlalu lama lagi. “Itu yang diharapkan masyarakat Poso. Karena Poso ingin membangun,” katanya.(wartakota.tribunnews.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here