Sunat dari Sudut Kesehatan

81
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | KESEHATAN – Sunat dianggap tindakan bedah terencana paling tua. Sebuah gua di Mesir yang diperkirakan 1360 Sebelum Masehi (SM), telah menggambarkan proses sunat.

Tidak diketahui persis alasan tindakan tersebut, namun diperkirakan merupakan bagian dari ritual. Dan sunat pun tidak lekang oleh zaman.

Kini, kesadaran untuk bersunat atau khitan, tidak lagi dihubungkan dengan faktor sosial dan agama saja. Namun demi alasan kesehatan.

Data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2007 diperkirakan ada sepertiga laki-laki berusia diatas 15 tahun di seluruh dunia yang disunat.

Dari angka tersebut, 70 persen memang dilakukan atas latar belakang agama. Tapi sisanya, dilatarbelakangi kesehatan dan adanya indikasi medis yang menyebabkan pasien dianjurkan untuk segera dilakukan sunat atau khitan.

Sunat atau sirkumsisi merupakan tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup depan dari penis. Teknik sunat pun terus berubah demi mengurangi rasa sakit dan kenyamanan.

Jika dulu sunat dilakukan oleh dukun sunat secara tradisional, menggunakan bambu, tulang, batu bahkan golok. Kini masyarakat bisa memilih untuk menyunatkan anaknya ke mantri atau dokter. Menggunakan teknik sunat konvensional ataupun teknik sunat modern (klem).

Menurut dr Mahdian Nur Nasution SpBS, secara umum, tindakan sunat bisa dilakukan segera, dan terencana. Harus dilakukan segera, biasanya dikarenakan penyakit bawaan sejak bayi yang solusinya dengan disunat. Sementara terencana bisa dilakukan kapan saja.

“Penyakit bisa timbul kapan saja tanpa terikat waktu. Ada yang sejak lahir atau setelah dewasa. Begitu halnya dengan sunat. Pria yang tidak disunat akan lebih mudah terjangkit berbagai macam penyakit. Namun ada juga penyakit-penyakit yang mengharuskan pria segera disunat,” kata Mahdian kepada wartawan saat Media Gathering dengan tema Penyakit-penyakit yang Harus Segera Disunat di Restaurant Mbok Berek Tebet, Selasa (13/12/2016).

Dari sisi kesehatan, penyakit HIV lebih dari 80 persen tertular dari penis yang tidak disunat. Pria yang tidak disunat memiliki risiko dua kali lebih besar terkena kanker prostat.

“Bila tidak disunat, ketika berhubungan seksual akan lebih mudah lecet. Lecet membuat nyeri, lama-lama inflamasi (radang, Red), lalu infeksi. Jika radang berulang bisa berpotensi menjadi keganasan, atau kanker penis,” katanya.

Dengan kesadaran kesehatan inilah, pria dewasa ingin melakukan sunat. Baik keinginan pribadi, dan tidak sedikit juga karena permintaan istri.

“Biasanya bila tidak disunat, penis mengeluarkan aroma yang tidak sedap karena faktor higienisnya,” ujar dokter Mahdian.

Bahkan di negara-negara maju, kesadaran untuk sunat tidak lagi sekedar kesehatan, tapi juga estetika dari penis. Bila saat bayi sunat dirasakan tidak sesuai estetikanya, saat dewasa, dapat diperbaiki bentuk penisnya.

“Ketika mereka menganggap hasil sunat sebelumnya kurang keren, misalnya ada bekas jahitan, agak miring tidak simetris. Hal-hal yang bersifat kosmetik di negara maju sudah jadi keluhan. Kondisi tersebut di Indonesia masih belum. Pria dewasa banyak yang ingin disunat tapi masih merasa malu. Tapi kedepan, kesadaran dari segi kosmetikpun lambat laun bisa juga terjadi di Indonesia,” papar dokter Mahdian.

Saat bayi
Di Indonesia dan kebanyakan negara di wilayah ASEAN, rata-rata disunat saat anak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Banyak orangtua merasa tidak tega kalau anak harus disunat saat bayi.

Padahal bila dilakukan saat usia SD, berisiko terjadinya trauma. Ditandai anak menangis kencang saat disunat.

“Sampai sekarang masih banyak menemukan bapaknya mengantar anaknya sunat, tapi bapaknya yang pingsan. Sepertinya bapaknya trauma dengan sunat,” kata pemilik Rumah Sunatan ini.

Dengan alasan menghindari trauma itulah, di negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, dan di Arab Saudi, anak disunat ketika dibawah usia 1 bulan. Bila bayi sudah diatas satu bulan, belum disunat juga, berarti kalaupun ingin disunat harus saat dewasa ketika anak sudah bisa menentukan apakah mau disunat atau tidak.

“Bagi mereka, bertambahnya usia akan membuat anak menjadi trauma psikis dan merupakan bentuk kekerasan pada anak,” ujar dokter Mahdian.

Secara pribadi, Mahdian menyarankan sebaiknya sunat dilakukan sebelum bayi berusia enam bulan atau belum tengkurap. Banyak manfaat mengapa sunat sebaiknya dilakukan saat bayi. Pada saat usia 0-6 bulan, proses penyembuhan luka sangat cepat. Hal ini karena diperiode tersebut, pertumbuhan sel juga sangat cepat. Selain itu untuk menghindari beberapa penyakit bawaan, terutama fimosis.

Fimosis merupakan keadaan di mana didapatkan konstriksi/penyempitan dari ujung kulit depan (foreskin) penis. Fimosis ditemukan karena faktor genetik (bawaan sejak lahir) atau bisa akibat peradangan lubang pada kulit penis.

Kasus fimosis ini cukup banyak, antara 20-40 persen bayi laki-laki mengalami ini. Risikonya anak mengalami infeksi. Ditandai anak sering demam.

“Anak sering demam, dikasih antibiotik demam hilang tapi muncul lagi. Biasanya dilihat tenggorokan ada batuk pilek, jarang yang melihat penis anak. Pada fimosis, cairan kencing jadi mengendap dan mengkristal. Gampang berkumpul kuman sehingga infeksi. Awalnya infeksi di kulit dan kepala penis lalu lam-lama di saluran kemih yang membuat anak sakit ketika berkemih,” papar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.(tribunnews.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here