Otak Anak dan Anestesi: Studi Menunjukan Risiko

80
SHARE

BHARATANEWS.ID | KESEHATAN – Anestesi yang diberikan selama operasi pada anak usia dini menimbulkan sedikit risiko terhadap kecerdasan dan akademik di kemudian hari, penelitian terbesar di bidang ini menunjukkan.

Hasil tersebut ditemukan dalam penelitian terhadap hampir 200.000 remaja Swedia. Prestasi nilai di sekolah hanya sedikit lebih rendah pada anak yang sebelum berusia 4 tahun pernah mengalami satu atau lebih operasi umum yang disertai dengan anestesi, dibandingkan dengan anak yang tidak pernah terpapar dengan anestesi selama awal kehidupannya.

Tidak diketahui apakah hasil tersebut berlaku untuk anak dengan sakit yang lebih parah yang harus mengalami operasi yang lebih berisiko disertai dengan anestesi. Tetapi peneliti dari Sweden’s Karolinska Institute dan dokter di tempat lain mengatakan hasil baru tersebut meyakinkan, di mana percobaan pada hewan muda menunjukkan hubungan obat anestesi dengan kerusakan otak.

Penelitian sebelumnya terhadap anak relatif lebih kecil dan memberi hasil yang bertentangan. Temuan baru yang dipublikasikan dalam JAMA Pediatrics, tidak memberikan jawaban yang pasti dan penelitian lainnya sedang berlangsung.

Penulis penelitian dan dokter lain mengatakan bahaya menunda operasi harus dipertimbangkan ketika mengevaluasi setiap potensi risiko dari anestesi pada anak.

Prosedur yang paling sering di dalam penelitian tersebut adalah perbaikan hernia; operasi telinga, hidung atau tenggorokan; dan operasi perut. Peneliti mengatakan operasi cenderung berlangsung selama satu jam atau kurang. Penelitian tersebut tidak mencakup anak dengan masalah kesehatan serius lainnya dan anak yang menjalani operasi yang lebih kompleks atau berisiko, termasuk operasi otak, jantung dan kanker.

Penelitian tersebut melibatkan sekitar 33.500 remaja yang pernah menjalani operasi sebelum usia 4 tahun dan hampir 160.000 remaja yang tidak menjalani operasi.

Nilai di sekolah pada usia 16 tahun kurang dari setengah persen lebih rendah nilai rata-rata remaja yang pernah mengalami satu operasi disertai dengan anestesi dibandingkan remaja yang belum pernah mengalami operasi. Rata-rata nilai di sekolah kurang dari 2 persen lebih rendah di kalangan remaja yang pernah mengalami dua atau lebih operasi disertai dengan anestesi.

Peneliti juga melihat tes IQ yang diberikan kepada remaja pria Swedia pada usia 18 tahun setelah bergabung militer. Skor yang hampir sama untuk remaja pria yang pernah mengalami satu operasi pada usia muda dan remaja pria yang belum pernah mengalami operasi; skor kurang dari 3 persen lebih rendah pada remaja pria yang pernah mengalami tiga atau lebih operasi pada usia muda.

Para peneliti tersebut, dipimpin oleh Dr. Pia Glatz dari Sweden’s Karolinska Institute, mencatat bahwa faktor lain selain anestesi ternyata berdampak lebih besar terhadap pengukuran nilai akademik dan kecerdasan, termasuk tingkat pendidikan ibu si anak.

Sebuah editorial jurnal mengatakan hasil tersebut tidak memberi arti bahwa terpapar obat anestesi pada usia dini akan menimbulkan risiko jangka panjang. Penelitian tersebut untuk “meyakinkan anak, orangtua dan pengasuh dan menempatkan masalah keracunan sel otak yang disebabkan oleh obat anestesi dan tumbuh kembang otak ke dalam perspektif”.(AP/Vivi)(erabaru.net)