Cokelat vs sayuran: mana yang sebenarnya lebih ramah lingkungan?

73
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | KESEHATAN – Ketika berbicara tentang emisi karbon, sejumlah makanan yang selama ini kerap dinilai ‘tidak sehat’, ternyata berdampak baik bagi lingkungan.

Saat menghadapi ancaman pemanasan global, kita mulai sadar berbagai hal yang kita gemari dan suka lakukan ternyata memiliki dampak tersendiri pada lingkungan. Terutama makanan yang kita konsumsi.

Pertanian, proses produksi di pabrik dan pemindahan produk semuanya menggunakan bahan bakar fosil dan menghasilkan gas rumah kaca yang akan memerangkap panas di atmosfer bumi. Ilmuan mengukur dampak ini sebagai “jejak karbon”, yang memperlihatkan volume karbon dioksida yang diproduksi untuk setiap 100gr makanan yang disajikan.

Dengan jejak karbon, kita akhirnya bisa membuat piramida makanan berdasarkan dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan. Daging dan produk susu berada di bagian paling bawah piramida, menghasilkan dampak buruk terbesar pada lingkungan. Sementara buah-buahan dan sayur, paling ramah lingkungan. Makanan berbahan dasar biji-bijian seperti pasta dan roti berada di tengah-tengah piramida.

Namun, metode ini tidak mempertimbangkan berapa banyak energi yang kita peroleh dari makanan-makanan tersebut. Anda harus memakan banyak sekali sayur-mayur supaya mendapat kalori yang setara dengan selembar dendeng babi, misalnya. Sebuah studi bahkan memperlihatkan dengan memakan jauh lebih banyak sayur, gas rumah kaca yang dikeluarkan ternyata meningkat tiga kali lipat. Akan lebih buruk lagi dampaknya kalau Anda memakan sayur yang sudah diproses atau yang diimpor dari luar negeri.

Dalam sebuah jurnal terkait nutrisi, Adam Drewnoski dari Universitas Washington di Seatte, berusaha memasukkan variabel makanan sehat tapi berdampak buruk terhadap lingkungan itu dalam penelitiannya. Dia pun kemudian menghitung emisi karbon yang dikeluarkan untuk setiap 100 kalori yang dihasilkan berbagai makanan.

Dengan cara seperti ini, piramida pun berubah terbalik. Sekarang, cokelat dan kue memiliki jejak karbon hanya sepersepuluh dari sayuran kaleng. Daging sapi memproduksi separuh dari total emisi karbon telur.

Namun, hasil penelitiannya ini bukan berarti pembenaran bagi Anda yang gemar memakan makanan yang sebelumnya dinilai tidak sehat. Tetap ada bukti bahwa, misalnya mengkonsumsi gula berlebih, bisa berujung pada berbagai masalah kesehatan, termasuk diabetes dan penyakit jantung.

Dan sayuran segar, yang berasal dari kebun sekitar, masih merupakan pilihan terbaik bagi lingkungan dan kesehatan kita sendiri. Namun, data pada gambar-gambar di bawah, mungkin bisa membantu memberi pertimbangan bagi Anda, dalam menentukan diet yang seimbang untuk kesehatan tubuh, tetapi juga ramah lingkungan.

Olivia HowittImage copyrightOLIVIA HOWITT
Image captionRoti menghasilkan 50 gram karbon dioksida untuk setiap 100 kalori yang dikonsumsi.
BBCImage copyrightOLIVIA HEWITT
Image captionKue menghasilkan 81 gram karbon dioksida untuk setiap 100 kalori yang dikonsumsi.
cokelatImage copyrightOLIVIA HEWITT
Image captionCokelat menghasilkan 59 gram karbon dioksida untuk setiap 100 kalori yang dikonsumsi.
telurImage copyrightOLIVIA HEWITT
Image captionTelur menghasilkan 440 gram karbon dioksida untuk setiap 100 kalori yang dikonsumsi.
bbcImage copyrightOLIVIA HEWITT
Image captionSusu menghasilkan 351 gram karbon dioksida untuk setiap 100 kalori yang dikonsumsi.
bbcImage copyrightOLIVIA HEWITT
Image captionDaging menghasilkan 248 gram karbon dioksida untuk setiap 100 kalori yang dikonsumsi.
makanan kalengImage copyrightOLIVIA HEWITT
Image captionMakanan kaleng menghasilkan 787 gram karbon dioksida untuk setiap 100 kalori yang dikonsumsi.
(bbc.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here