Akankah Kematian Castro Kembali Ubah Hubungan AS-Kuba?

47
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | INTERNASIONAL – Sesuatu yang tidak pernah terlihat dalam lebih 50 tahun, terjadi pada Juli 2015. Bendera Amerika Serikat berkibar di Kedutaan AS di Havana, Kuba, menandai berakhirnya kebekuan di antara kedua negara.

Beberapa bulan kemudian, untuk pertama kali Presiden AS Barack Obama, menginjakkan kaki di Kuba, sejak revolusi membawa Fidel Castro ke puncak kekuasaan tahun 1959.

“Saya datang ke sini untuk mengubur sisa-sisa terakhir perang dingin di benua Amerika. Saya datang ke sini untuk mengulurkan persahabatan kepada rakyat Kuba,” kata Obama kala itu.

Presiden Obama mengakui, masih ada perbedaan antara pemerintah Kuba dan AS, terutama mengenai demokrasi dan hak asasi.

Namun, cara terbaik mengatasi perbedaan-perbedaan itu adalah melalui keterlibatan.

Lalu, dimulailah pelonggaran pembatasan terhadap Kuba guna menciptakan lebih banyak peluang ekonomi.

Para pakar percaya, langkah itu penting demi kemajuan negara itu, dan dimulai semasa Fidel Castro masih hidup.

Namun para pakar pun mengakui masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Direktur Institut Kebijakan Publik pada Florida International University, Brian Fonseca, mengatakan, “kematian Fidel tidak akan memicu perubahan besar dalam hal evolusi politik di Kuba.”

Kritikus percaya seharusnya ada janji dari Kuba untuk memperbaiki catatan atas persoalan penghormatan terhadap hak asasi, sebelum AS membuat perubahan kebijakan.

Dalam kampanyenya, Presiden terpilih Donald Trump berjanji akan membatalkan perintah eksekutif Obama terkait Kuba, kecuali rezim Castro memenuhi tuntutan AS.

“Tuntutan itu akan mencakup kebebasan beragama dan berpolitik bagi rakyat Kuba, dan pembebasan tahanan politik,” ujar dia.

Dalam dua tahun ini, kebijakan AS terhadap Kuba telah berubah.

Dengan terpilihnya presiden baru dan kematian Fidel Castro, tampaknya kebijakan itu akan berubah lagi.(internasional.kompas.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here