Home Berita Utama Angklung Pride 6, Kelestarian Angklung Jadi Tanggung Jawab Bersama

Angklung Pride 6, Kelestarian Angklung Jadi Tanggung Jawab Bersama

27
0
SHARE

BHARATANEWS.ID |BANDUNG – Memeringati Hari Angklung dan 50 tahun Saung Angklung Udjo (SAU), puncak pergelaran “Angklung Pride 6” dihelat Minggu, 27 November 2016. Kegiatan ini berlangsung di kawasan Kebon Awi Cijaringao yang berjarak sekitar dua kilometer dari SAU. Dengan konsep memasyarakatkan angklung, “Angklung Pride 6” menampilkan antara lain upacara helaran, aksi angklung keluarga besar SAU bersama masyarakat, adu ketangkasan domba, pasar rakyat, dan dimeriahkan penampilan seniman antara lain Doel Sumbang serta Egga Robot Percussion.

Taufik menyebutkan, suasana yang dihadirkan adalah suasana alam yang bersahaja. Hal ini diperkuat dengan penampilan instrumen angklung dari angklung buhun sampai angklung yang termutakhir. Intinya, kata Taufik, melibatkan masyarakat setempat karena angklung sudah masuk ke semua kalangan. Dengan tema kebersamaan, SAU ingin menegaskan bahwa angklung tidak hanya dimiliki perajin, pemain angklung, atau budayawan semata. Akan tetapi, angklung adalah milik, tanggung jawab, dan kebanggaan bersama dari Indonesia untuk dunia. Kegiatan ‘Angklung Pride’, kata Taufik, menjadi upaya bersama dalam rangka memelihara, melindungi, mempromosikan, dan meregenerasi angklung.

Pada perjalanannya, Angklung telah disahkan UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity sejak 16 November 2010. Kegiatan “Angklung Pride” menjadi bagian untuk memaknai hari istimewa tersebut. Tahun lalu, SAU diberi kehormatan sebagai perwakilan komunitas angklung untuk tampil pada perhelatan lima tahun pengesahan Angklung di kota Paris, Prancis. “SAU didirikan dengan cita-cita tinggi, yaitu menjadi pelestari di bidang seni, budaya, dan lingkungan. Melalui ‘Angklung Pride 6’, kami ingin kembali memperkuat kontribusi dalam merespons isu-isu di masyarakat saat ini melalui kebesaran nilai filosofi dan kearifan lokal angklung,” tutur Taufik.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengatakan, gelar dari Unesco akan dicabut jika tak ada pembuatan dan tidak ada yang memainkan angklung selama 10 tahun. Untuk itulah, Deddy senang karena SAU mengembangkan budidaya bambu di Cijaringao.

“Seandainya satu sekolah di Jabar punya satu set angklung, cukup enggak bambunya. Makanya harus ditanam dulu. Di Cijaringao ini tanahnya empat hektar yang bisa ditanami bambu. Dengan budidaya bambu, berarti menjaga alam juga karena akan mencegah banjir dan longsor,” ujar Deddy.***(pikiran-rakyat.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here