Home Berita Utama Korupsi Terjadi karena Sistem Patronase

Korupsi Terjadi karena Sistem Patronase

23
0
SHARE

BHARATANEWS.COM |BOGOR – Akar dari korupsi adalah akar dari sistem patronase (model) yang sudah ada sebelumnya. Patronase itu bisa melekat pada tokoh, pemimpin atau pemerintah dan patronase mereka itulah yang menentukan nilai dan orientasi masyarakat termasuk dalam budaya korupsi.

Orang Indonesia sendiri terbiasa dengan prinsip eksternalitas, yakni terbiasa berperilaku, berpikir, dan berbuat sesuai khasanah nilai yang berlaku dalam masyarakat. Selain itu, korupsi di Indonesia menjadi subur, karena umumnya orang Indonesia tidak bisa membedakan ranah privacy dengan ranah public, sehingga ketika hendak dikontrol susah sekali.

Hal itu disampaikan mantan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Lngkungan Hidup Sarwono Kusumatmadja ketika menjadi pembicara dalam Pertemuan Nasional Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) ke-10 di Cipanas, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (26/11/2016). Dalam sesi pagi tersebut, juga tampil berbicara sebagai narasumber sosiolog dari Universitas Indonesia Prof Dr Paulus Wirutomo.

Pertemuan Nasional FMKI tersebut dibuka Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM, Jumat (25/11/2016). Acara yang akan berlangsung hingga Minggu (27/11/2016) ini bertema Memperkuat Habitus Kepemimpinan Antikorupsi bagi Keberlanjutan dan Kemajuan Peradaban Bangsa Indonesia.

Menurut Sarwono sebenarnya ide habitus (budaya) antikorupsi itu dibawa dari luar dari negara yang sebenarnya sudah mengalami pahit getirnya dampak dari korupsi. Mereka sudah mengalami penhalaman yang tidak mengenakkan atau merugikan dari praktik korupsi.

Sebab itu, habitus antikorupsi di Indonesia pun harus dilihat sebagai perjuangan panjang. Habitus itu akan tercapai setelah melewati proses panjang yang tentu saja terjadi pengorbanan.

Jepang misalnya justru lebih maju setelah negara itu dihancuran, dibom. Nah, jangan lupa untuk kasus Innesia, adalah sangat besar masalahnya, jadi mungkin fenomena seperti Ahok itu perlu agar negara ini bisa melewati krisis atau lulus ujian menjadi lebih baik seperti Jepang.(netralnews.com)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here