PR Unik dari Guru: Mengerjakan Pekerjaan Rumah

43
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | UNIKĀ – Selamat Hari Guru, untuk seluruh pahlawan tanpa tanda jasa dengan pengabdian tanpa batas! Apa yang paling kamu ingat dari sosok pengajar di kelas? Caranya mengajar atau justru PR yang menggunung?

Memang sih, guru dikenal sering memberi PR dari buku yang banyak, tapi enggak untuk guru Sekolah Dasar di SDN Harapan II Bandung ini. Ia justru memberi PR anak untuk mencuci piring, membantu orang tua, bahkan makan! Semuanya harus dilaporkan lewat aplikasi WhatsApp. Kok begitu, ya?

Ia adalah Sisilia Herjanti, yang sudah mengabdikan diri sejak 1996 menjadi guru di Sekolah Dasar. Setiap tahun dan setiap kelas, diajarkan beberapa pendidikan dasar yang sering diabaikan. Salah satunya komunikasi antara guru dan murid.

“Yang menjadi poin pentingnya itu berkomunikasi dengan guru, karena saya ingin anak bisa bercerita. ingin anak aktif berbicara,” jelas Lia, biasa ia disapa, saat dihubungi CNN Student.

Cara ini sudah dipakai sejak ia mengajar di SDN Harapan II. Awalnya, Lia memakai perantara surat, lalu bergeser ke sosial media Facebook di tahun 2009.

Murid diajak membuat akun Facebook untuk mengabarkan pada guru, apa yang dilakukan sehari-sehari di rumah. Namun, cara ini enggak semulus yang dibayangkan. Banyak anak yang justru menyalahgunakan dengan menulis status kata-kata kasar.

“Pas saya lihat seperti itu, besoknya ditatar di kelas kalau memakai sosial media harus hati-hati. sopan, meski kelihatannya tidak dibaca orang, tapi sebenarnya semua orang bisa membaca. Pokoknya saya kasih arahan,” cerita guru kelas 3 sampai 6 ini.

Penggunaan sosial media enggak begitu lama, lalu beralih ke SMS. Lia mengajak orang tua dan murid untuk melaporkan selama di rumah melakukan apa saja. Sampai akhirnya saat ini memakai aplikasi WhatsApp.

Menurut Lia, pengalihan mengerjakan PR dari buku ke pekerjaan rumah mendorong anak untuk menanamkan budi pekerti. Bahkan, ada orang tua yang bercerita padanya, kalau anaknya susah makan.

“Ada orang tua murid yang cerita kalau anaknya susah makan. Lalu saya buatkan PR makan di rumah, harus difoto dan dikirim ke WhatsApp,” katanya sambil tertawa. Cara ini dipakai untuk siswa kelas 3 SD.

Seperti gayung bersambut, cara yang selama dilakukan sejak 20 tahun ini tertuang pada kurikulum 2013. Anak lebih digiatkan dalam kegiatan mengutarakan pendapat, ditampilkan, melihat pekerjaan orang lalu dilakukan sendiri.

“Tapi memang terbentur pada kebiasaan kita yang pasif, malu, takut, salah. memang enggak mudah, tapi 2013 ini memfasilitasi,” katanya.

Cara unik memberi PR ini bisa menjadi inspirasi kan? Selamat Hari Guru!(cnnindonesia.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here