POTRET WISATA INDONESIA DI ‘TANAH DEWA’

76
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BUDAYA DAN PARIWISATA – Berbicara soal wisata Indonesia, satu hal yang langsung terlintas adalah Bali. Bahkan, saking populernya, publik internasional jauh lebih mengenal Bali dibanding Indonesia.

“Bali lebih dikenal daripada Indonesia,” kata Olla Chas, petinggi Indonesian Community of New England atau ICONE, saat berkorespondensi dengan CNNIndonesia.com, Oktober lalu.

Soal masyarakat dunia yang lebih mengenal Bali, sebenarnya wajar saja. Panorama alam Pulau Dewata itu memang indah, kental budaya lokal, masyarakatnya pun ramah pada pendatang. Bukan hal yang aneh juga bila banyak yang ketagihan datang ke Bali, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Namun, jalan Bali jadi pusat wisata di Indonesia tidaklah mudah. Industri pariwisata di Bali sudah dibangun jauh sebelum Indonesia merdeka.

Akulturasi budaya lokal dengan agama Hindu dan penyatuan Nusantara oleh Majapahit, membuat Bali memiliki keunikan budaya yang terpatri dalam tata kehidupan, agama, hingga seni.

Bali kemudian mulai dikenal orang asing sejak penaklukan Kerajaan Klungkung oleh Belanda melalui perang Puputan Badung pada 1906. Kekalahan tersebut membuat Bali jatuh di bawah penguasaan Belanda dan membuka gerbang kedatangan orang Eropa ke Tanah Para Dewa.

Pantai di Nusa Penida, Bali. Pantai ini tengah jadi primadona karena cenderung lebih tenang dan sepi dibandingkan Kuta dan Legian yang sesak oleh pengunjung. (Trubavin/Thinkstock)

Keindahan dan budaya unik Bali memukau para meneer en mevrouw Belanda. Arthur Asa Berger dalam bukunya Bali Tourism (2013) mengutip tulisan Vicker (1990) yang menyatakan Bali di kala awal 1900, sudah menarik pandangan Barat sebagai daerah yang ‘liar’.

Citra ‘liar’ Bali itulah yang membuat para pelancong Eropa penasaran. Sejarah mencatat, pada 1924 sudah ada pelayaran oleh KPM atau maskapai pelayaran kerajaan Belanda yang sengaja memperlihatkan Bali pada turis. Pelayaran tersebut bermula dari Singapura, Batavia (kini Jakarta), Semarang, Surabaya, singgah ke Buleleng (Bali), lalu lanjut ke Makassar.

Belanda bahkan membuka kantor khusus kepariwisataan di Bali saat itu. Secara rutin, badan kepariwisataan Belanda itu mencatat jumlah pelancong yang datang.

Pada 1924 sudah ada 213 pelancong berkunjung. Jumlah tersebut terus meningkat tiap tahun. Majalah Tourism in NetherlandsEast Indies edisi 8 Februari 1927 melaporkan ada 480 wisatawan datang ke Bali. Dengan kata lain, pada waktu itu, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali mengalami peningkatan hingga 225 persen, hanya dalam selang waktu 3 tahun.

Para pengunjung yang kebanyakan berasal dari Eropa dan Amerika Utara, menganggap Bali kala itu adalah ‘intisari’ Asia yang misterius.

                                   Iseh at Dawn, Walter Spies. Dok. Wikimedia Commons/Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures

Promosi wisata Bali pada waktu itu juga terbilang jor-joran. Bukan hanya lewat penawaran pelayaran, referensi wisatawan juga datang dari karya pelukis dan musikus Jerman kelahiran Rusia, Walter Spies, yang menetap di Bali pada 1927 hingga Perang Dunia II.

Spies memiliki peran besar mengenalkan daya tarik Bali lewat lukisannya, mulai dari panorama hutan dan sawah menghijau, hingga eksotisme para gadis Bali, yang terus ikonik hingga kini.

Saking banyaknya wisatawan yang datang, Bali pun mulai membangun penginapan. Tahun 1930, hotel pertama berdiri. Terletak di jantung Denpasar, Bali Hotel dibangun dengan gaya kolonial. Hotel itu kini menjadi tonggak awal dimulainya Bali sebagai lokasi tujuan wisata.

Gelap Terang Sang ‘Denpasar Moon’

Tahun 1941, saat Perang Dunia II pecah, Bali ikut merasakan dampaknya. Selama nyaris dua dekade setelah itu, pamor Bali sebagai destinasi wisata tenggelam, tergerus perang. Saat itu, Bali punya slogan tersendiri, surga terakhir.

Siapa nyana slogan itu jugalah yang membangkitkan wisata Bali. Utami Suryadarma dari Harian Merdeka, pada 3 September 1951, menulis soal Bali. Ia tertarik datang karena terpengaruh iklan reklame dan propaganda untuk wisatawan agar datang ke ‘surga terakhir’.

“Harmoni timbul dimana ada imbangan-imbangan jang sehat dalam mentjukupi kebutuhan-kebutuhan djasmani dan kebutuhan djiwa sesuatu rakjat. Sistem gotong royong terwujud dalam “bandjar”, mendjamin kebutuhan meteriel rakjat Bali, dan kebudajannja, keseniannja jang tinggi mengisi djiwanja…” tulis Utami menggambarkan kekaguman budaya Bali kala itu.

Perlahan, wisata Bali kembali hidup. Pembangunan ikut gencar. Hotel-hotel baru bermunculan, salah satunya Hotel Bali Beach berlantai 10 di Pantai Sanur, yang jadi bangunan paling tinggi di eranya.

Tidak hanya hotel, bandara pun turut dibangun. Membutuhkan waktu enam tahun, dari 1963-1969 mempersiapkan Bandar Udara Tuban, yang kemudian berganti nama menjadi Bandara I Gusti Ngurah Rai. Tidak main-main, pemerintah Indonesia mereklamasi pantai sejauh 1,5 kilometer demi membangun runway standar pelabuhan udara internasional.

Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Dok. bali-airport.com

Pembangunan juga dilakukan untuk fasilitas hunian. Hal ini berlandaskan dari kerja sama Pemerintah Indonesia dengan bantuan Program Pengembangan PBB atau UNDP pada 1971 untuk mengembangkan pariwisata Bali. Program tersebut berupa studi pembangunan yang dilaksanakan oleh SCETO, konsultan asal Perancis.

Berdasarkan rilis Bali Tourism Development Corporation (BTDC), studi tersebut menyarankan Bali untuk dibangun lebih banyak hotel taraf internasional guna menampung wisatawan asing yang terus berdatangan. Tercatat pada 1975 diperkirakan ada 1800 kamar di daerah Kuta dan Sanur, sedangkan studi menilai perlu ada 3800-4700 kamar standar internasional hingga 1980.

Studi juga merekomendasikan pembanguan kesejahteraan masyarakat Bali berlandaskan pariwisata. Dengan kata lain, tidak boleh mengorbankan nilai kebudayaan serta struktur sosial kehidupan masyarakat Bali dan lingkungan hidup, mengingat hal tersebut adalah magnet wisatawan asing.

Salah satu hasil lainnya dari studi tersebut adalah dibentuknya Badan Pengembangan Rencana Induk Pariwisata Bali dan Master Plan Pariwisata Bali. Di bawah naungan PP. No 72 Tahun 1972, badan tersebut kemudian berkoordinasi dengan BTDC mengundang partisipasi hotel berjaring internasional, pengadaan festival budaya dan hiburan lainnya, serta sinkronisasi pembangunan dengan estetika lanskap Bali.

Fasilitas yang terus bertambah, promosi yang gencar, dan akses yang sudah terhubung mendorong pariwisata Bali semakin jauh. Dekade 70-80-an, Bali semakin kebanjiran wisatawan.

Berdasarkan laporan Dinas Pariwisata Bali (2006), pertumbuhan kunjungan wisatawan asing langsung ke Bali selama Repelita I (1969-1973) mencapai lebih dari 170 ribu kunjungan. Angka tersebut berkembang menjadi 500.786 pada Repelita 2 (1974-1978), kemudian jadi 748.523 pada Repelita 3 (1979-1983), dan mencapai 1,3 juta pada Repelita 4 (1984-1988), lalu melonjak lagi jadi 3,107 juta pada Repelita 5 (1989-1993).Hingga 1998, di masa Orde Baru berakhir, jumlah wisman yang datang ke Bali sebesar 5,6 juta orang atau naik 80 persen dibanding lima tahun sebelumnya.

Sejak 1980, pertumbuhan hotel di Bali terus meningkat. Kini berbagai jenis penginapan mulai hostel, losmen, hotel, villa hingga resor, mudah ditemukan di Pulau Dewata. (Reuters/Olivia Rondonuwu)

Tak heran bila kemudian pesona Bali diabadikan dalam lagu berjudul ‘Denpasar Moon’ yang dipopulerkan Maribeth di era 90an.

Daya tarik Bali yang kuat ini, tentu saja mendongkrak nilai pariwisata Indonesia. Bali secara konsisten menyumbang 22-29 persen angka kunjungan wisman ke Indonesia.

Sayangnya, situasi itu tidak bertahan lama. Wisata Bali kembali terpuruk akibat kondisi sosial-politik yang terjadi, baik di lokal Bali, Indonesia, maupun dunia.

“Setelah terpuruknya pariwisata Bali akibat krisis multidimensi tanah air (mulai tahun 1997), aksi terorisme internasional (WTC, 2001) dan berbagai tragedi yang terjadi mengakibatkan pariwisata Bali dihadapkan pada kondisi sulit dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir,” tulis Dinas Pariwisata Bali dalam laporan pada 2006 lalu.

Namun sejak saat itu, pariwisata Bali kembali diminati wisman, kendati jumlah kunjungan masih fluktuatif.

Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat kunjungan langsung wisman ke Bali pada 2006 adalah 1,2 juta, lalu meningkat jadi 2,8 juta pada 2011 dan berkembang menjadi 3,7 juta pada 2014 lalu.

Sayangnya, angka pertumbuhan rata-rata kunjungan wisman sepanjang 2006-2014 turun dibanding sebelum milenium baru atau hanya sekitar 12,2 persen setiap tahun.

Infografis: Laudy Gracivia

Butuh ‘Bali’ Baru

Turunnya kunjungan wisman ke Bali itulah yang membuat pemerintah mencari strategi baru guna meningkatkan devisa pariwisata.

Bali memang masih jadi gerbang pariwisata Indonesia. Namun, Indonesia bukan hanya Bali. Masih banyak potensi wisata yang bisa digali, mulai dari Sabang sampai Merauke.

Melihat potensi tersebut, Presiden Joko Widodo menetapkan strategi baru untuk pengembangan pariwisata Indonesia. Salah satunya adalah penetapan sepuluh destinasi baru yang tersebar di penjuru Indonesia. Jokowi berambisi menciptakan ‘Sepuluh Bali Baru’.

“Semua lokasi pariwisata pasti akan dibangun tetapi tentu ada prioritas dari sisi waktu. Untuk sekarang ada sepuluh destinasi pertama,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya usai menghadiri rapat koordinasi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, September 2015 lalu.

“Kesepuluh destinasi pertama ini sudah masuk rencana pembangunan pelabuhan, bandara, dan akses menuju ke sana. Kami harapkan orang luar tidak hanya mengenal Bali, istilahnya, menjadi Bali-Bali lainnya,” lanjut Arief.

Pulau Morotai, Maluku Utara. ANTARA FOTO/Fanny Octavianus

Tanah Lot, Bali. Thinkstock/Stevo24

Tanjung Kelayang, Belitung. Thinkstock/Mnir

Pantai Mandalika, Lombok. Thinkstock/Pilipavicius

Labuan Bajo, Lombok. Thinkstock/Maxontravel

Ide menambah ‘Bali Baru’ ini tidak datang tanpa pertimbangan. Menurut paparan strategi Pembangunan Destinasi Pariwisata Prioritas 2016-2019 milik Kementerian Pariwisata, turisme adalah sektor ‘tahan banting’ meski beberapa kali dilanda krisis.

Ini didasarkan jumlah perjalanan wisata dunia yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Data World Tourism Organization menyebut pada era 50an, terdapat 25 juta pelancong dunia. Angka itu berkembang menjadi 528 juta pelancong pada 1995, dan terus bertambah hingga 1,4 miliar orang melakukan perjalanan wisata pada 2014. Padahal dunia tidak sepi dari krisis selama enam dekade terakhir.

Kembali ke Indonesia, pada 2014 Kementerian Pariwisata mencatat pariwisata menyumbang sembilan persen pada PDB Indonesia, devisa senilai Rp140 Triliun, dan 11 juta kesempatan kerja bagi masyarakat Indonesia.

Sayangnya, dibanding negara tetangga, angka tersebut terbilang minim. Jika Indonesia dikunjungi 9 juta wisman pada 2014, Singapura punya angka kunjungan 15,1 juta, Thailand sebesar 24,8 juta dan Malaysia dikunjungi 27,4 juta wisman.

Padahal, berdasarkan indeks daya saing pariwisata World Economic Forum, Indonesia punya potensi besar. Dari aspek sumber daya alam, Indonesia berada di urutan 19 bersaing ketat dengan Thailand di peringkat 16 dan Malaysia di posisi 26. Dari aspek sumber daya budaya dan usaha bisnis, Indonesia unggul di posisi 25, Malaysia di posisi 27 dan Thailand di urutan 34.

Kementerian Pariwisata mencatat, kelemahan Indonesia adalah dari aspek keamanan dan keselamatan, kebersihan dan higienitas, tekonologi informasi, keberlanjutan lingkungan hidup, infrastruktur darat dan laut, serta infrastruktur penunjang jasa pariwisata.

Hingga saat ini, hanya beberapa destinasi di Indonesia yang terbilang ramah pada wisatawan. Sisanya, masih banyak terkendala akses dan infrastruktur.

Oleh karena itulah pembangunan di Sepuluh Bali Baru terus digenjot.

Kesepuluh destinasi ini menyebar dari barat hingga timur Indonesia. Mulai dari Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Kelayang di Bangka Belitung, Kepulauan Seribu di DKI Jakarta, Tanjung Lesung di Banten, Borobudur di Jawa Tengah, Kawasan Gunung Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, Morotai di Maluku Utara, dan Wakatobi di Sulawesi Tenggara.

Lewat Sepuluh Bali Baru itu, targetnya adalah mencapai angka 20 juta kedatangan wisatawan mancanegara dan 275 juta perjalanan wisatawan domestik pada 2019 nanti. Tujuannya agar pariwisata Indonesia bisa berkontribusi terhadap PDB sebesar 15 persen, mendatangkan devisa hingga Rp280 triliun, dan menghadirkan 13 juta lapangan pekerjaan.

BALI BARU ITU BERNAMA WAKATOBI

Penulis: Endro Priherdityo | Editor: Lesthia Kertopati.

Sinar matahari terik terasa ketika keluar dari pesawat ATR 75 asal Makassar dan mendarat di Bandara Matahora, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Untuk kali pertama, saya menginjakkan kaki di lokasi yang disebut surga bahari itu.

Kondisi Bandara Matahora seperti melihat Bandara Ngurah Rai versi kecil, modern dan tampak baru.

Bandara ini diperbaharui semenjak Wakatobi menjadi salah satu destinasi prioritas untuk dikembangkan. Wakatobi merupakan satu dari Sepuluh Bali Baru yang dikembangkan pemerintah. Dengan kata lain, ‘Bali’ dari Sulawesi.

Cara menjangkau kepulauan ini sebagian besar menggunakan perjalanan udara. Semua penerbangan baik dari Soekarno-Hatta maupun Ngurah Rai harus menuju Makassar terlebih dahulu, kemudian bisa langsung ke Wakatobi dengan transit sesaat di Kendari.

Perjalanan ke Wakatobi dari Jakarta memakan waktu sekitar 5 jam, dengan dua kali transit di Makassar dan Kendari. Dari Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, perjalanan udara menuju Wangi-Wangi, pulau terbesar di Wakatobi, membutuhkan waktu 2,5 jam, termasuk transit sejenak di Kendari.

Akses lain menuju Wakatobi bisa melalui laut. Lebih ramah bagi dompet, namun tentu membutuhkan waktu perjalanan yang lebih panjang.

Jika memilih jalur laut, pelancong bisa menggunakan kapal PELNI dari Makassar menuju Bau-bau. Dari ibu kota Pulau Buton tersebut, Wakatobi dapat dicapai dengan menumpang kapal nelayan menuju Wangi-wangi, atau pulau lainnya di Wakatobi, semua tergantung keinginan sang pelancong.

Sementara, mereka yang ingin melakukan perjalanan darat, rute dapat dimulai dari Kota Kendari, dilanjutkan ke Raha lalu ke Bau-bau, baru kemudian menggunakan kapal ke Wangi-wangi.

Wakatobi terletak di ujung tenggara Sulawesi. Bila dilihat dari peta Indonesia, kepulauan ini ibarat berada di ujung kaki pulau Sulawesi, dan tidak tampak secara jelas di peta.

Infografis: Laudy Astari Kusumawardhani.

Uniknya, Wakatobi bukanlah nama satu pulau, melainkan singkatan dari pulau-pulau yang menyusunnya.

Wakatobi terdiri dari empat pulau utama, yaitu Wangi-wangi yang juga bertindak sebagai lokasi Bandara Matahora dan Wanci, ibu kota kabupaten, kemudian ada Pulau Kaledupa, Pulau Tomia, dan paling ujung adalah Pulau Binongko.

Keempat pulau tersebut berderet diagonal dan terpisah lautan. Di sekeliling empat pulau tersebut, menyebar pulau-pulau kecil yang menyimpan ‘surga’ berupa pemandangan alam bawah laut menakjubkan.

Tapi, Wakatobi tidak hanya punya wisata bahari. Kepulauan itu juga kaya akan khasanah budaya yang merupakan akulturasi dari berbagai budaya. Hal ini tak lepas dari jejak sejarah Wakatobi yang tercatat dimulai sejak abad ke-15.

Budaya Wakatobi sendiri masih memiliki garis hubungan dengan Majapahit kuno, hingga kemudian, Wakatobi bergabung dengan Kerajaan Buton yang memiliki pengaruh budaya dari Persia dan Mongol. Pengaruh berbagai kebudayaan ini kemudian membentuk budaya masyarakat yang masih eksis hingga kini.

Surga Biru di Kaki Sulawesi

“Sayang bila ke Wakatobi tidak snorkeling atau diving,” kalimat itulah yang selalu terdengar sebelum seseorang berangkat ke Wakatobi. Wajar, karena daerah ini terkenal di kalangan pehobi selam dan snorkeling.

Keindahan alam bawah laut Wakatobi dikenang dunia melalui ungkapan seorang aktivis konservasi, pembuat film, sekaligus penyelam legendaris asal Perancis Jacques Cousteau. Dia menyebut Wakatobi ‘Underwater Nirvana’ setelah mampir dan melihat di balik ombak lautan Wakatobi.

“Sayang bila ke Wakatobi tidak snorkeling atau diving.”

Perairan di bawah pulau Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko memang memiliki kekayaan luar biasa. Air yang cenderung tenang bagai cermin membuat pelancong mudah menyaksikan keindahan koral dan ikan berwarna-warni.

Terletak di antara dua laut dalam Indonesia, Flores dan Banda, Wakatobi dianugerahi jadi jalur utama paus, lumba-lumba, serta tuna. Wakatobi juga masuk dalam pusat kawasan segi tiga karang dunia yang meliputi Indonesia, Serawak Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, hingga Timor Leste.

Sebuah penelitian yang dilakukan Operation Wallacea, yang berbasis di London, menemukan bahwa Wakatobi adalah daerah dengan keanekaragaman hayati bawah laut terkaya di dunia. Tercatat, di Wakatobi terdapat 942 jenis ikan, serta 750 dari 850 jenis terumbu karang.

Laut Wakatobi menyimpan keanekaragaman hayati luar biasa, terdapat 942 jenis ikan, serta 750 dari 850 jenis terumbu karang di seluruh dunia. (Dok. www.wakatobitourism.com)

Jumlah tersebut, jauh melebihi keanekaragaman hayati di pusat terumbu karang dunia lainnya, seperti Karibia yang hanya punya 50 jenis terumbu karang dan Laut Merah, Mesir, yang punya 300 jenis.

Itulah sebabnya Wakatobi diganjar status Cagar Biosfer Bumi oleh Badan Dunia untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya (UNESCO) pada 2012 lalu.

Soal keindahan taman laut, Wakatobi yang merupakan Taman Nasional ke-dua di Indonesia, punya 100 titik penyelaman. Salah satunya, Sombu yang berlokasi di Wangi-Wangi. Sombu merupakan titik penyelaman paling favorit di pulau tersebut.

Letaknya dekat dengan Wanci, ibu kota Wakatobi, yakni sekitar 20 menit perjalanan dengan kendaraan beroda empat. Oleh karena itu, Sombu jadi pilihan terjangkau bagi mereka yang ingin bebas menyelam. Fasilitas di tempat ini juga sudah memadai, baik untuk penyelam amatir maupun profesional.

Beberapa klub selam terletak tak jauh dari Sombu, seperti Dinis Cemara Diving Centre (DCDC) yang memiliki fasilitas lebih komplet.

Adapun, waktu terbaik untuk menyelam adalah pada pagi hari karena cahaya yang mengenai koral, membuat pemandangan jauh lebih indah. Meskipun demikian, menyelam di siang hari pun tak masalah, Wakatobi tetap menawarkan pemandangan penuh warna.

Beberapa ikan hias dapat ditemukan dengan mudah bermain di antara koral, seperti peacock grouper (Cephalopholus argus), spotted rabbitfish (Siganus guttatus), ikan Napoleon, serta humphead wrasse (Cheilinus undulates).

Bagi para pencinta pantai, Wakatobi punya banyak hal untuk ditawarkan. Salah satunya, Pantai Hongaha dan Hu’untete di Pulau Tomia.

Menuju ke pantai cantik ini memang butuh usaha, Anda harus berjalan kaki menuruni savana berbukit dan karang selama satu-dua jam. Bisa juga menggunakan mobil. Namun, harus bersiap dengan kontur jalanan yang bergelombang dan penuh guncangan.

Tapi, usaha tersebut terbayar dengan pemandangan indah. Pantai yang terletak dekat dengan Desa Wisata Kulati itu memang tidak lebar dan landai seperti Bali, namun punya tebing karang yang tampak liar dan garang, berlatar laut biru membentang.

Sementara, Hongaha yang berjarak 30 menit dari Hu’untete, berbentuk mirip bulan sabit dengan pantai yang lebih lebar.

Infografis: Laudy Gracivia

Tidak perlu khawatir kepanasan, pasalnya pantai di Wakatobi dilengkapi hutan rimbun dengan pohon kelapa yang condong tumbuh ke arah laut. Pasirnya pun lembut dan hangat saat dipijak. Bonus lainnya, ombak pantai ini tidak besar, sehingga ramah bagi mereka yang ingin berenang.

Sementara, mereka yang butuh tantangan lebih, bisa menjajal Pulau Nda’a, yakni pulau pasir yang terbentuk secara alami di tengah laut. Namun pasir yang ‘muncul’ dari bawah laut ini sudah ditumbuhi sejumlah tanaman sejenis mangrove hingga membentuk hutan mini.

Pulau sejauh 30-40 menit perjalanan perahu dari Hongaha ini juga punya pasir nan lembut. Istimewanya, saat tersiram air laut, warna pasir sekilas berubah menjadi agak merah muda.

Pantai Hu’untete di pulau Tomia selama ini hanya digunakan nelayan untuk menepikan kapal guna mengangkut pelancong ke pulau Nda’a atau menyusur karang menuju Pantai Hongaha. CNN Indonesia/Endro Priherdityo

Kawasan pesisir pulau Tomia dari desa Kulati. Pulau ketiga terbesar di Wakatobi ini memiliki sejumlah pantai dan lokasi selam favorit para penyelam.

CNN Indonesia/Endro Priherdityo

Pantai Hongaha tampak dari desa Kulati, pulau Tomia. Pantai Hongaha adalah satu dari pantai yang memukau di pulau Tomia.

CNN Indonesia/Endro Priherdityo

Pemandangan salah satu sudut pantai di pulau Nda’a. Pulau ini adalah daratan pasir yang muncul di tengah laut, seberang pulau Tomia.

CNN Indonesia/Endro Priherdityo

Pantai Hongaha di pulau Tomia masih memiliki nuansa alami karena belum ada penduduk yang menetap di tepi pantai.

CNN Indonesia/Endro Priherdityo

Mencicipi Soami, Salamu dan Bulu Babi

Memiliki kondisi alam yang beralaskan karang dan kapur berimbas pada kondisi tanah yang tandus. Hanya ada satu tanaman pangan bisa ditemukan di seluruh penjuru Wakatobi: singkong.

Saking banyaknya, singkong bahkan tumbuh di antara kapur dan karang. Cara menanamnya pun mudah, yakni dengan menaruh batang singkong di antara celah karang dan menimbun dengan sampah daun.

“Sampah daun akan menjadi tanah dan singkong dapat tumbuh hingga besar,” kata Muhamad Riadi, anggota kelompok pengelola pariwisata Liya Togo, September lalu.

Riadi menambahkan, penduduk Wakatobi sudah mengembangkan pola budidaya tersebut dari generasi ke generasi. Tujuannya satu: demi bertahan hidup.

Di Wakatobi, singkong yang merupakan makanan pokok, diolah menjadi beragam masakan. Namun, yang paling populer adalah soami.

Soami makanan khas wakatobi. CNNIndonesia/Endro Priherdityo

Soami ini punya beragam bentuk, mulai dari belah ketupat hingga silinder seperti tabung. Rasanya seperti lontong atau ketupat dengan tekstur legit khas singkong. Biasanya, soami dimakan bersama sayur atau lauk khas Wakatobi, seperti parende atau sop ikan yang diolah menggunakan bumbu kunyit, asam muda, dan serai.

Menu lainnya yang lebih menantang adalah gumba-gumba nu kukure yang terbuat dari bulu babi. Bukan bulu babi pada umumnya, jenis makanan ini dibuat dari bulu babi berduri pendek yang memang umum dikonsumsi.

Tidak ada bumbu khas pada masakan ini, bulu babi hanya dikoyak bagian tempurungnya dan daging halus didalamnya, yang mirip daging tiram, langsung dimakan. Bagi mereka yang kurang gandrung hidangan amis, gumba-gumba nu kukure sebaiknya dihindari.

Adapun makanan khas Wakatobi yang membuat banyak orang jatuh cinta adalah salamu. Hidangan mirip suwiran daging ini terbuat dari ikan pari atau buntal yang diasap semalaman, kemudian disuwir dan diberi bumbu kelapa sangrai.

Rasa gurih berpadu aroma ikan asap dipastikan bisa membuat pelancong ingin terus menambah porsi, terlebih bila disantap usai menyelam atau snorkeling. Ditambah segarnya air kelapa muda yang langsung dipetik dari pohon, salamudan soami jelas jadi primadona kuliner di Wakatobi.

Salamu. CNN Indonesia/Endro Priherdityo

Adat Warisan Majapahit

Wakatobi bukan hanya punya wisata bahari, melainkan juga sejarah dan kebudayaan yang kaya. Anda dapat menemukan kekayaan tersebut ketika berkunjung ke desa adat, saat perayaan Barata Kahedupa tengah dilaksanakan.

Liya Togo adalah desa adat yang terletak di pulau Wangi-Wangi. Desa ini merupakan salah satu pemukiman pertama yang ada di Wakatobi dan memiliki benteng karang berusia lebih dari 800 tahun.

“Benteng ini sudah ada sejak awal abad ke-12, konon yang mendirikan adalah keluarga Majapahit yang melarikan diri ke timur karena konflik, kemudian untuk menghindari serangan tentara Mongol dan perompak dari arah Ternate, maka dibuat benteng pertahanan,” kata Muhamad Riadi, anggota kelompok pengelola pariwisata Liya Togo, September lalu.

Begitu masuk Liya Togo, pelancong akan disambut gerbang berupa tumpukan batu karang beratapkan kayu mirip gerbang benteng. Di dalamnya, terdapat lapangan dan masjid yang sudah berdiir sejak 1546 Masehi.

Alkisah, kelompok pelarian Majapahit membangun benteng tersebut dan membentuk sebuah kerajaan kecil. Sayangnya, mereka kemudian ditaklukkan Kesultanan Buton yang tengag berada di barat Wangi-wangi. Penaklukan tersebut ditandai dengan pendirian masjid yang menjadi pusat penyebaran agama Islam di kawasan tersebut.

Masjid bernama Mubarok itu menghadap lapangan desa di timur. Menurut Riadi, fondasi masjid tersebut hanya terdiri dari tumpukan batu karang dan putih telur, dan belum pernah diganti hingga kini.

Lambang masuknya Islam itu sempat direnovasi pada 1923, namun hanya sekedar mengganti dinding dari papan dengan batu bata agar lebih kokoh. Sisanya masih asli.

Masjid Mubarok Liya, Wakatobi. CNNIndonesia/Endro Priherdityo

Ada maksud tersendiri dari posisi bangunan yang sangat spesifik di sekeliling lapangan, yakni masjid di sebelah barat, makam keluarga raja di sebelah utara, balai desa di sebelah timur, dan pemukiman warga di sebelah selatan.

“Kuburan dan pemukiman yang berseberangan bermakna sebagai pengingat akan alam baka dan dunia. Sedangkan masjid dan balai desa menunjukkan hubungan antara Tuhan dan sesama manusia,” kata Riadi. “Semua mencerminkan keseimbangan.”

Wakatobi pun memiliki ritual adat tahunan bernama Festival Barata Kahedupa. Acara ini merupakan rangkaian prosesi adat warga Wakatobi yang bermakna ungkapan kegembiraan untuk memasuki masa dewasa bagi anak-anak.

Barata Kahedupa mengambil nama senada dari dinasti kerajaan yang pernah menguasai Wakatobi pada 1635 hingga 1958 Masehi. Sebelumnya, dinasti yang memegang kendali di Wakatobi adalah Kahedupa pada 1260-1635 Masehi. Kedua dinasti ini masuk dalam kekuasaan Kesultanan Buton.

“Festival ini juga bermakna kemenangan para pejuang Islam. Sebelumnya, biasa dilakukan ketika momentum akil baligh anak raja atau Meantu’u, atau keluarga bangsawan,” kata La Ode Abdul Fattah, anggota dewan adat di Pulau Wangi-wangi, usai menyiapkan putrinya mengikuti arak-arak atau Karia.

Setidaknya ada sepuluh prosesi yang sudah berlangsung sejak 40 hari sebelum digelarnya Karia. Usai Karia, masih ada tiga prosesi lainnya yang berakhir dengan buang bala di laut.

Ada pembedaan waktu arak-arakan bagi remaja putra dan putri. Para putra diarak setelah dikhitan, sedangkan arak-arakan remaja putri dilakukan sehari setelahnya. Di festival ini, anak perempuan didandani dengan pakaian dan dandanan khas Wakatobi, berupa cepol rambut dan hiasan kepala yang memiliki makna lambang kerajaan Kahedupa.

Saking sakralnya upacara ini, anak-anak itu harus dipingit selama tujuh hari, kemudian diarak di atas tandu menuju lapangan. Saat Karia, anak-anak diarak, sementara orang tua dan pengiring meneriakkan ‘Lego’ sebagai ungkapan kegembiraan.

Di lapangan, anak-anak melakukan prosesi landa suuta atau injak tanah dan pengusapan kaki dengan kunyit serta tanah yang diambil di tiang utama rumah, ritual dilanjutkan dengan proses gunti’a (potong rambut), dan pasali(pemberian bingkisan kepada undangan adat). Acara kemudian dilanjutkan dengan tarian tradisional lariangi yang dimainkan oleh 12 wanita muda. Mereka bergerak perlahan mengikuti iringan lagu berbahasa lokal, bermakna pujian kepada Tuhan, nasihat dan makna kehidupan, mengikuti irama tepukan rebana.

Video: Ranny Virginia Utami, Endro Priherdityo.

MENGGANTUNGKAN HIDUP DI WAKATOBI

Penulis: Endro Priherdityo | Editor: Yuliawati.

Selepas azan subuh ketika dingin masih menggigit, kesibukan sudah tampak di dapur milik Pak Haji La Sanuu. Istri dan putri semata wayang, bahu- membahu memasak nasi goreng untuk porsi belasan orang. Pak Haji, sapaan akrabnya, membantu mempersiapkan piring-piring untuk sajian makanan.

Pak Haji adalah pemilik hotel Abi Jaya, yang terletak di pulau Tomia, Wakatobi. Pertengahan September lalu, dia kedatangan 11 tamu dari Jakarta. Kamar hotel melati yang memang hanya berjumlah sebelas itu, habis disewa.

“Pagi, silakan menikmati sajiannya,” sapa pak Haji kepada para tamu yang menunggu sarapan. Mereka mengisi perut sebelum berangkat dengan kapal untuk menyambangi pulau lainnya.

Pak Haji adalah salah seorang penduduk asli Wakatobi yang mendapatkan cuan dari perkembangan pariwisata di pulau itu. Selama dua puluhan tahun, Pak Haji membuat dapurnya terus mengepul lewat bisnis penginapan.

Dia juga merupakan orang pertama yang membangun penginapan di pulau Tomia. Pak Haji memulai bisnis hotelnya sejak 1992, ketika Wakatobi masih menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Buton. Pada masa itu, masih sedikit turis yang datang.  Sebagian besar berasal dari Buton, mereka berkunjung untuk menikmati keindahan pantai.

Meski masih sepi, Pak Haji sudah melihat peluang bisnis lewat usaha penginapan.

“Saat itu belum ada sama sekali hotel di Tomia. Sehingga saya berinisiatif membuka hotel, karena saya berpikir sudah ada turis pasti butuh hotel, meskipun turis masih sedikit sekali,” kata dia.

Hotel Abi Jaya, Tomia, Wakatobi. CNN Indonesia/Endro Priherdityo.

Awalnya hotel milik Pak Haji hanya ada empat kamar, hasil perluasan rumahnya.  Pada masa itu dia memasang tarif sewa Rp 10 ribu per malam.

“Dahulu segitu sudah lumayan, rupiah masih berharga,”

Pada 2006, Pak Haji memperluas hotelnya dengan meminjam uang di bank, sebesar Rp60 juta. Modal pinjaman ini digunakan Pak Haji untuk membangun hotelnya menjadi berlantai dua.

“Sudah balik modal sekarang.”

Keputusan Pak Haji menambah kamar karena seringkali tamu yang datang tak tertampung di hotelnya. Saat itu Wakatobi mulai banyak dikenal orang, terutama sejak terpisah dari Buton dan menjadi kabupaten sendiri.

Meski masih sederhana, tempat penginapan Abi Jaya ini cukup nyaman. Kamar ukuran besar (5 x 5 meter) memuat dua tempat tidur, sedangkan kamar kecil dengan satu tempat tidur, berukuran sekitar 2 x 3 meter. Tiap kamar terdapat kamar mandi.

Hampir setiap hari kamar hotel Abi Jaya disambangi wisatawan. Setiap bulannya, ada sekitar 50 tamu yang menginap, dengan rata-rata masa menginap tiga hari.

Snorkeling adalah aktivitas favorit para turis di Wakatobi, selain menyelam atau sekadar menikmati pantai. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)

Kini, Pak Haji memasang tarif hotel antara Rp350 ribu hingga Rp1 juta per kamar. Selain cukup nyaman, pasokan listrik di tempat penginapan ini tersedia 24 jam non stop. Sementara di daerah pelosok pulau Tomia, listrik seringkali byar pet.

“Kebanyakan mereka sih tujuannya untuk diving, tapi banyak juga urusan lain seperti penelitian, atau kunjungan saja,” kata dia.

Saat ini sudah banyak hotel dan penginapan yang bermunculan di Wakatobi, termasuk di pulau Tomia. Menurut data dari Forum Tata Kelola Pariwisata (FTKP) 2016, kini ada 15 hotel dan satu resor di Wangi-wangi, serta dua resor dan empat hotel di Kaledupa.

Sedangkan di pulau Tomia sekarang ada enam hotel tersebar di Desa Waha, Petipelong, Tee Moane, dan satu resor di pulau Tolandona.

Meskipun banyak hotel baru, Pak Haji merasa dia tak menghadapi persaingan.

Bahkan dia seringkali mendorong rencana pemodal yang hendak membangun hotel. Alasannya, jumlah hotel yang tersedia belum memenuhi kebutuhan saat musim lonjakan wisatawan, sehingga seringkali turis tidak mendapatkan penginapan.

“Sekarang aja masih ada kok, kadang turis nggak kebagian kamar,” kata Pak Haji.

Menurutnya, bahkan sejak tiga bulan terakhir, turis perlu memesan hotel beberapa hari sebelumnya.  Kondisi berbeda apabila datang musim angin kencang, biasanya pada Januari. Saat itu hampir tidak ada turis yang datang.

Pemandangan bukit Kahianga. CNN Indonesia/Endro Priherdityo

Mendulang Uang dari Laut

Bukan cuma para pengusaha hotel yang mendapatkan keuntungan dari perkembangan pariwisata Wakatobi. Banyak peselam yang menggantungkan kehidupannya dari kegiatan pariwisata Wakatobi. Salah satunya Boy Sagita, 30 tahun.

Boy telah tiga tahun meninggalkan istri dan anaknya di Kendari, Sulawesi Tenggara. Ia merantau ke Wangi-wangi dan bekerja sebagai pemandu selam bagi para turis.

“Di sini lebih ada peluang ekonomi walau harus jauh dari istri dan anak,” kata Boy.

Sebagai pemandu selam, Boy menetapkan tarif sekitar Rp400 ribu per orang per sekali selam. Itu di luar penyewaan alat selam.

Selain pemandu selam, Boy juga menyewakan mobil untuk para turis dengan tarif Rp500 ribu per hari. Saat mengantarkan turis, Boy biasa mengajak berkeliling pulau.

Banyaknya turis yang membutuhkan jasa pemandu dan juru selam, menarik minat Amal Hermawan. Berbeda dengan Boy, Amal adalah pria kelahiran Tomia yang memilih kembali ke kampung kelahirannya, setelah merasakan kehidupan rantau di pulau Jawa.

“Dekat dengan keluarga dan sahabat menjadi alasan saya kembali ke Tomia,” kata Amal.

Sebagai anak pulau sudah yang akrab dengan laut, Amal terbiasa menyelam dan memilih profesi sebagai pemandu selam. Sudah dua tahun Amal menjalani profesi sebagai pemandu para tamu pemerintah daerah di Wakatobi.

Ia menjadi saksi pariwisata Wakatobi  yang terus tumbuh dan berkembang. Salah satu tolak ukurnya, banyak kegiatan dan acara di Wakatobi dengan para pengunjung yang datang hilir mudik.

Sekarang kerjaan dan acara-acara nambah banyak, dan makin banyak pengunjung lagi,” kata Amal sembari tertawa.”

“Sekarang kerjaan dan acara-acara nambah banyak, dan makin banyak pengunjung lagi,” kata Amal sembari tertawa.

Amal tentu mendukung perkembangan pariwisata yang semakin baik di Wakatobi. Namun, dia mengingatkan agar pembangunan dan pengelolaan pariwisata tak sebatas pembangunan fisik.

Senada dengan pendapat Amal, hasil analisis dari survei yang terangkum dalam laporan Rencana Pengelolaan Pariwisata Wakatobi pada 2014 lalu, menyebutkan pembangunan pariwisata mesti berpacu pada sumber daya alam dan manusia setempat.

Video: Artho Viando, Endro Priherdityo
Video : Credit By

“Pengembangan pariwisata Wakatobi memiliki ketergantungan yang tinggi pada konservasi sumber daya alam bawah laut maupun daratannya. Kerusakan pada sumber daya alam tentu akan sangat berdampak pada kepariwisataan wilayah ini,” tulis isi laporan tersebut.

Survei ini dikerjakan Pemerintah Kabupaten Wakatobi bekerja sama dengan Taman Nasional Wakatobi, WWF, dan Indecon.

Sebagai bahan perbandingan, pariwisata Bali dapat dianggap oleh Badan Dunia untuk Perdagangan (WTO) sebagai contoh ideal dari pariwisata budaya karena tetap mempertahankan pertumbuhan budaya sebagai warisan daerah setempat.

Bentuk konkretnya di antaranya dengan penerapan aturan untuk melarang pembangunan gedung bertingkat tidak melebihi tinggi pura di daerah tersebut.

Peraturan ini memicu menjamurnya bungalow atau penginapan-penginapan kecil yang mendorong perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Belajar dari Bali, pentingnya pariwisata di kepulauan di ‘kaki’ Sulawesi ini mengembangkan model pariwisata berkelanjutan, yang melibatkan ekosistem seperti alam, manusia, dan budaya.

Amal dan mereka yang menggantungkan hidup di Wakatobi paham benar, para turis berkunjung ke daerahnya karena keindahan alam dan wisata bahari. Apabila alam dan ekosistem tak terjaga, pupuslah wisata di Wakatobi.

MENGEJAR MIMPI MENJADI BALI

Penulis: Endro Priherdityo | Editor: Yuliawati.

Bagi mereka yang ingin menikmati pemandangan laut Wakatobi dari atas ketinggian, Bukit Kahianga di pulau Tomia adalah tempat yang sempurna. Dari ketinggian sekitar 200 meter, siapapun akan terpana melihat laut yang membentang di depan mata.

Dari atas bukit yang menjadi titik tertinggi di Wakatobi, akan terlihat Laut Flores dan deretan pulau yang bagai mengapung di atas air. Bukit ini pun menjadi incaran wisatawan yang ingin menikmati pemandangan matahari terbenam.

Bila Anda beruntung berkunjung di saat cuaca cerah, sesaat setelah matahari tenggelam, akan muncul pemandangan bulan yang luar biasa.  Purnama akan muncul samar-samar dari balik bukit, tampak lebih besar dan terang dibanding dilihat dari daratan rendah.  Pemandangan yang membuat siapapun enggan meninggalkan bukit.

Sayangnya, untuk menyambangi Bukit Kahianga ini membutuhkan perjalanan yang sedikit tidak nyaman. Sekitar tiga jam saya berkendara mobil mengelilingi pulau, jalan masih banyak berbatu kapur dan tanah bergelombang. Kalaupun beraspal, banyak jalanan yang telah rusak dan bolong.

Kondisi jalan yang tidak mulus, membuat kecepatan mobil yang kami tumpangi, hanya bisa melaju 40 kilometer per jam.

“Jalanan yang berbatu kapur ini menghambat kecepatan kendaraan,” kata supir yang memiliki nama panggilan Pak Guru.

Hampir tiap pekan Pak Guru membawa Avanza miliknya melintasi jalanan berkapur, menemani para turis yang ingin menikmati pemandangan laut dan sabana dari atas bukit.

Meskipun bukit ini makin populer, pemerintah belum memperbaiki kondisi jalan.  Padahal, sebagian besar jalanan di Tomia, juga pulau lainnya, mengandung batu kapur karena merupakan pulau karang. Pembangunan jalanan aspal lebih diutamakan di pusat pemerintahan yang dekat dengan dermaga.

Persoalan infrastruktur merupakan salah satu kendala bagi Wakatobi sebagai destinasi wisata unggulan kelas dunia, menggantikan Bali.  Meskipun Wakatobi dalam beberapa tahun terakhir giat berbenah untuk menyambut arus turis internasional, namun banyak kendala yang perlu ditambal di mana-mana.

Turis menikmati Bukit Kahianga. CNN Indonesia/Endro Priherdityo

Akses Terbatas

Perjalanan saya menuju Wakatobi dimulai dengan perjalanan udara dari Jakarta menuju Makassar setelah itu dilanjutkan ke Bandara Matahora, Wakatobi.  Penerbangan ini memakan waktu lima jam.

Tak ada rute penerbangan langsung ke Wakatobi membuat turis harus transit terlebih dahulu di Makasar atau Kendari. Layanan penerbangan ini jelas masih tertinggal dibandingkan Bali yang berstandar internasional. Penerbangan dari banyak negara dapat langsung menuju Bali, tanpa perlu singgah di kota lain.

Pemerintah menyadari pentingnya akses udara ke Wakatobi. Fasilitas Bandara Matahora pelan-pelan terus diperbaiki.  Bandara ini telah dipermak menggunakan dana APBD 2015 yang menelan biaya Rp80 miliar.

Perbaikan ini membuat bandara dapat memuat pesawat ukuran besar seperti Boeing 737-200, 300, 500, 800, dan 900 yang mengangkut lebih banyak penumpang.

“Akses itu vital, karena hampir 100 persen wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia melalui jalur udara. Hanya sebagian kecil yang melalui penyeberangan laut, terutama di Batam-Bintan dari Singapura,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya, Mei lalu.

Berbagai fasilitas pun disiapkan di Bandara Matahora seperti seperti mesin x-ray, perluasan ruang terminal penumpang yang mencapai 1524 meter persegi, dan adanya jalur khusus taksi atau taxi way.

Turis tengah melihat peta Wakatobi di Bandara Matohara, Pulau Wangi-wangi. CNN Indonesia/Endro Priherdityo

Perbaikan juga menyentuh perubahan rute penerbangan. Rencananya akan ada rute langsung ke Matahora dari Bandara Ngurah Rai Denpasar dan Soekarno-Hatta Jakarta. Diperkirakan, rute langsung ini akan memangkas durasi perjalanan dari Jakarta  menuju Matahora menjadi dua jam 20 menit.

Perjalanan yang  lebih singkat ini penting bagi turis, karena perjalanan transit yang memakan waktu hampir setengah hari, sungguh melelahkan.

Transportasi Kapal Nelayan

Setelah tiba di Bandara Matahora, saya melanjutkan perjalanan menggunakan mobil sewa menuju dermaga. Tak  ada angkutan umum  sebagai alternatif transportasi angkutan darat. Jadi bila ingin memangkas biaya transportasi selama liburan, pilihannya adalah berangkat bersama rombongan.

Tempat penyewaan mobil ini menjamur di Wanci, ibu kota Wakatobi. Tarif untuk pemakaian sehari Rp500 ribu, belum termasuk biaya bensin dan biaya makan bagi supir.

Menyewa kendaraan ini pun sebenarnya tidak efektif karena mobil tak bisa terangkut oleh kapal bila hendak menyeberang pulau. Setiap pindah ke pulau lain, maka berganti pula jasa penyewaan mobil.

Meskipun tersedia banyak jasa penyewaan mobil, namun jumlah stasiun pengisian bahan bakar terlihat jarang. Selama sepekan di Wakatobi, saya nyaris tidak menemukan stasiun pengisian bahan bakar selain penjualan eceran oleh warga lokal di depan rumah mereka.

Harga bensin premium yang dijual eceran sekitar Rp10 ribu per liter. Harga ini lebih tinggi dari bensin premium di SPBU sebesar Rp 6500 per liter.

Dari Bandara Matahora, saya menuju Pelabuhan Mandati untuk menyambangi pulau Tomia. Kapal nelayan berjejer untuk menawarkan jasa kepada para penumpang. Menuju Tomia dari Wangi-wangi dengan waktu perjalanan 4-5 jam, tarif yang ditarik sebesar Rp75-100 ribu per orang.

Kapal adalah sarana transportasi utama di Wakatobi, terutama bila Anda ingin berkeliling ke empat pulau utama di Wakatobi. CNN Indonesia/Endro Priherdityo

Berada di wilayah kepulauan, angkutan transportasi laut di Wakatobi berperan signifikan. Sebagian besar turis mengandalkan angkutan berupa kapal nelayan. Pilihan lainnya bagi turis yang berkocek tebal dapat menggunakan kapal cepat yang disediakan resor.

Para nelayan kerap memanfaatkan kapalnya sebagai alat transportasi mengantarkan para turis ke beberapa daerah wisata, di samping sebagai kendaraan untuk mencari ikan. Waktu keberangkatan biasanya pukul 06.00 dengan durasi perjalanan 40 hingga 180 menit, tergantung rute dan jarak antar pulau.

Listrik ‘Byar Pet’

Di pulau Tomia, saya memilih menginap di Desa Kulati,  yang tengah digarap menjadi desa wisata. Desa ini diharapkan mampu menampung para wisatawan untuk berlibur dan lebih dekat dengan kehidupan Wakatobi.

Namun, menikmati homestay di desa ini seperti merasakan kehidupan di di tapal batas negeri terluar Indonesia yang minim berbagai fasilitas.

Kami di sini menggunakan mesin untuk membangkitkan listrik.”

Salah satu kendala adalah ketersediaan listrik yang belum 24 jam. Akses listrik hanya tersedia di Wangi-wangi, dan sebagian di ibu kota pulau lainnya di Wakatobi. Listrik belum masuk hingga ke desa di pelosok pulau.

“Kami di sini menggunakan mesin untuk membangkitkan listrik,” kata Dian, salah satu penduduk Desa Kulati yang jadi pemandu saya.

Menurut Dian, biasanya listrik hanya tersedia dari pukul 6 sore hingga 12 malam.

“Hanya bila ada acara khusus, mesin milik desa dinyalakan sampai pagi,” katanya sembari menunjukkan mesin diesel.

Di tengah listrik yang hanya aktif hingga pukul 12 malam, ibu-ibu di Desa Kulati, pulau Tomia Wakatobi, tetap beraktivitas tanpa merasa terhambat. CNN Indonesia/Endro Priherdityo

Namun, listrik byar pet di desa berbeda 180 derajat saat saya menginap di sebuah hotel di Tomia. Di hotel yang dekat dermaga ini, persoalan listrik tak menjadi kendala.

Bukan hanya saya, masalah listrik yang tak merata ini pun juga kerap dikeluhkan turis dan warga lokal.

“Kalau di ibu kota kabupaten Wanci, listrik sudah 24 jam. Tapi kalau di Kaledupa, Tomia, Binongko, masih giliran lampu menyala. Belum 24 jam,” kata Amal Hermawan, pemandu selam asal Tomia.

Selain listrik yang tak merata, sinyal dan akses internet pun bermasalah. Beberapa daerah Wakatobi seperti Wanci sudah memiliki jaringan 3G, namun di beberapa daerah lainnya terutama di pelosok, sinyal selular raib entah ke mana.

Infografis: Laudy Gracivia.

Mengejar ketertinggalan

Pemerintah daerah Wakatobi sudah menyadari berbagai kendala yang mereka hadapi untuk menarik wisatawan. Apalagi Wakatobi memiliki peluang tumbuh sebagai daerah wisata dengan data jumlah pengunjung yang terus menanjak.

Menurut data Dinas Pariwisata Pemerintah Kabupaten Wakatobi pada 2015, ada 6626 wisman yang berkunjung ke Wakatobi. Jumlah ini nyaris dua kali lipat dibanding jumlah 2013 yaitu 3315 orang.

“Tugas pemerintah selanjutnya adalah menata infrastruktur agar orang yang datang tidak kecewa, kemudian membangun akses yang bisa menghubungkan ke daerah lain seperti di Bali,” kata Bupati Wakatobi Arhawi Ruda ketika ditemui pada September lalu.

Sekelompok turis tengah mengunjungi Benteng Liya Togo di Pulau Wangi-wangi, Wakatobi. CNN Indonesia/Endro Priherdityo

Menurut Arhawi tahun 2017 dijadikan sebagai tahun target perbaikan infrastruktur. Prioritas pembangunan pada fasilitas dermaga yang dapat menghubungkan empat pulau di Wakatobi.

Selain mengejar pembangunan infrastruktur dan fasilitas bagi para turis, ada hal lain yang tak kalah penting.

Menurut Asri Kasim dari lembaga swadaya masyarakat Swiss Contact, selain pembangunan infrastruktur, pemerintah juga perlu memperhatikan aspek sosial budaya.

Asri mengkhawatirkan perkembangan pariwisata akan menimbulkan berbagai hal negatif, seperti yang terjadi di Bali. Dalam buku karangannya berjudul Tourisme Culturel et Culture Touristique (1992), peneliti Michael Picardmenyebutkan dampak negatif yang ditimbulkan pariwisata di Bali adalah pencemaran upacara agama, ikatan-ikatan sosial yang kendor, kebebasan seksual, dan produksi massal bermutu rendah.

“Harapan kami pariwisata menjadi alat memperkuat nilai, agama, dan budaya, bukan sebaliknya. Dengan menjaga nilai budaya, akan menjadi daya tarik bagi wisatawan,” kata Asri.

Keindahan alam dan kekayaan budaya Wakatobi adalah kunci untuk terus menarik wisatawan mancanegara datang berkunjung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here