Politik Kuliner dan Diplomasi di Atas Meja Makan

62
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BUDAYA DAN PARIWISATA – “Seseorang,” kata Virginia Woolf, “tak akan bisa berpikir jernih, mencintai dengan tulus, juga tidur nyenyak, jika mereka perut mereka kosong.”

Ada banyak studi dan kajian yang menyatakan bahwa gastronomi itu amatlah penting. Sama seperti musik yang bisa membawa pesan politik, begitu pula makanan. Di dunia politik, ada istilah culinary diplomacy. Diplomasi kuliner adalah cabang diplomasi yang mengkaji bagaimana makanan bisa digunakan sebagai alat untuk membangun hubungan antar negara, kerja sama, juga alat untuk mencapai perdamaian.

Menurut Sam Chapple-Sokol, mantan chef pastry di Gedung Putih dan pendiri situs Culinary Diplomacy, ada tiga jenis diplomasi kuliner. Pertama adalah Track I Culinary Diplomacy, yang dia sebut sebagai jamuan makan antar pemerintah. Entah itu antara Presiden dengan para Menteri. Atau Presiden dengan Ketua DPR atau ketua partai. Begitu pula dengan makan malam dengan pemerintah negara lain.

Sedangkan yang kedua, adalah Gastrodiplomacy. Secara sederhana, ini melibatkan kerja pemerintah untuk publik luar negeri. Tujuannya antara lain: membangun soft power sebuah negara, mempromosikan perdagangan dan pariwisata, juga mendorong pertukaran budaya.

“Yang juga masuk dalam ranah ini adalah usaha pemerintah supaya hidangan dari negaranya masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO,” tulis Sam dalam situsnya.

Contoh yang paling ambisius adalah saat Thailand mengkampanyekan Global Thai, sebuah usaha untuk menyebarkan restoran dan makanan Thailand ke seluruh penjuru dunia. Ini adalah usaha untuk mempopulerkan makanan Thai ke publik yang selama ini nyaris asing. Usaha ini membuahkan hasil manis. Pada 2002, ada sekitar 5.500 restoran Thailand di seluruh dunia. Setahun kemudian, jumlah itu melonjak sekitar 8.000 restoran. Kini, menurut situs Thai Select, ada sekitar 15.000 restoran Thailand di seluruh dunia.

Karena sudah dikenal di seluruh penjuru dunia, maka wajar kala CNN membuat polling World’s 50 Most Delicious Foods, Thailand memiliki jumlah makanan terbanyak yang masuk dalam daftar. Yakni tom yum (peringkat 4), pad Thai (5), som tam (6), kari massaman (10), kari hijau (19), nasi goreng Thai (24), dan moo nam tok (36).

Kategori ketiga adalah Citizen Culinary Diplomacy. Dari namanya saja, terlihat kalau ini adalah jamuan makan-makan yang diadakan antara pemerintah dan warga negara. Tujuannya ada banyak. Mulai memecahkan persoalan di tingkat kelurahan hingga nasional, juga mendengarkan ide dan aspirasi warga negara.

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, adalah salah satu pemimpin dunia yang paling sering menggunakan diplomasi kuliner ini. Bahkan Obama, yang memang selalu tampak kasual dan luwes, sering menjamu pemerintah luar negeri di gerai burger. Misalkan saat dia menjamu Presiden Rusia Dmitry Medvedev di Ray’s Hell Burger, di Arlington, Virginia. Obama memesan cheese burgers, sedangkan Medvedev memesan cheese burger dengan tambahan cabai jalapeno, jamur, dan bawang bombay.

Obama memang menyenangi makanan kasual yang bisa disantap sembari ngobrol santai. Saat mengunjungi Vietnam, penggemar musisi Al Green ini menyempatkan diri makan siang bersama juru masak terkenal, Anthony Bourdain di Hanoi. Mereka mendatangi sebuah warung sederhana, dengan kursi plastik dan tanpa pendingin udara, dan menyantap bun cha, hidangan babi panggang dan bihun yang disantap dengan kuah.

Apakah perjamuan diplomasi kuliner ini efektif dan bisa berhasil?

“Jelas bisa. Di acara makan-makan itu, Obama dan Medvedev menegosiasikan soal pelucutan nuklir,” kata Mohamad Rosyidin, pengajar Hubungan Internasional di Universitas Diponegoro, Semarang.

Di Indonesia, Jokowi adalah tokoh politik yang menjalankan diplomasi kuliner dengan baik. Bahkan dia sudah menjalankannya sejak masih menjabat sebagai Wali Kota Solo. Yang paling terkenal tentu saat dia menjamu ratusan pedagang kaki lima yang menempati area Monumen 45 Banjarsari. Makan siang itu dilakukan hingga 54 kali. Di pertemuan terakhir itulah, Jokowi baru mengungkapkan keinginannya: merelokasi pedagang ke lokasi yang baru.

Dialog terjadi. Dari sana, terlihat apa kebutuhan para pedagang, dan apa solusi dari Jokowi. Maka tercapailah relokasi yang sama sekali tanpa kekerasan. Tanpa makan siang, tentu proses relokasi ini akan berjalan lebih alot.

Langkah diplomasi kuliner ini masih tetap dijalankan oleh Jokowi ketika menjadi Presiden. Terakhir, Jokowi mengundang beberapa Ketua Umum Partai untuk bersantap di Istana Negara dalam kesempatan terpisah.

Jokowi mengundang Prabowo pada 17 November. Ini juga merupakan kunjungan balasan, setelah sebelumnya Jokowi berkunjung ke rumah Prabowo, di Desa Bojong Koneng, Bogor. Di Istana, Jokowi menjamu Prabowo dengan hidangan ikan bakar. Setelahnya, Presiden mengundang Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri (21 November). Sehari kemudian, Jokowi mengundang Ketua Umum Partai Nasional Demokrat Surya Paloh, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan, Muhammad Romahurmuziy, dan Ketua Umum Golkar Setya Novanto dalam waktu yang berbeda.

Hidangannya berbeda-beda. Megawati sempat membawakan mi rebus dan mi goreng, sedangkan Istana menjamu dengan udang goreng, ikan bakar, cumi, tempe goreng, dan sambal. Sedangkan Surya Paloh dijamu dengan bubur, mi Aceh, dan pisang kepok rebus sebagai kudapan. Romahurmuziy dijamu dengan ikan bakar dan coto Makassar. Sedangkan Novanto makan sore dengan hidangan tempe goreng dan berbagai masakan tumis.

Rosyidin melihat usaha Jokowi ini adalah pertunjukan keahlian Jokowi dalam memakai kooptasi, soft power, dalam berpolitik. Di atas meja makan itu, Jokowi memastikan kekuatan penting politik di Indonesia akan sejalan dengan misi-misi pemerintahannya. Terutama terkait gejolak politik belakangan ini.

“Dan harus kita akui, Jokowi itu lihai berpolitik,” kata Rosyidin.

Dulu langkah Jokowi menjamu para pedagang berakhir dengan manis. Apakah langkah Jokowi kali ini juga berakhir manis pula? Jawabannya tentu klasik: mari kita tunggu sama-sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here