Inilah Alat Penganalisa Keringat untuk Mengecek Kesehatan Anda

52
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | KESEHATAN – Sebuah alat baru yang ditempelkan di kulit, kini bisa membantu kita menjaga kesehatan di saat bekerja sampai berkeringat.

Dalam laporan di Jurnal Science Translational Medicine, tim ilmuwan internasional melaporkan berhasil mengembangkan alat yang ditempelkan di kulit untuk menganalisis keringat. Hasil analisanya berisi informasi rinci tentang dehidrasi, elektrolit, tingkat keringat, dan tingkat kelelahan.

“Keringat banyak mengandung zat kimia tubuh yang dapat memberi pemahaman mengenai kesehatan, kebugaran dan kondisi fisiologis,” kata John Rogers, profesor ilmu teknik material di Northwestern University, anggota tim peneliti yang mengembangkan perangkat ini.

“[Alat ini dapat] memonitor pola latihan, membantu orang menentukan kapan mungkin perlu untuk rehidrasi, kapan komposisi elektrolit semakin tidak seimbang, serta kapan mereka berada dalam rezim latihan anaerobik,” katanya.

Bahan kimia berkode-warna

Perangkat berbentuk bundar ini – seukuran koin 10 sen Australia – dilengkapi empat indikator yang mengukur laktat, glukosa, ion klorida dan pH keringat.

“PH merupakan indikator yang baik untuk tingkat hidrasi keseluruhan. Klorida adalah elektrolit utama yang hilang selama proses berkeringat, sehingga elektrolit itu umumnya harus diisi ulang,” jelas Dr Rogers.

Warna zat kimia dalam alat itu berubah tergantung pada komposisi dan konsentrasi bahan kimia dalam keringat seseorang.

Perubahan warna dan tingkat keringat ditunjukkan oleh perubahan di saluran alat itu yang berkelok-kelok, kemudian ditangkap dan dianalisis oleh aplikasi smartphone yang terhubung secara nirkabel.

Profesor Rogers mengatakan perangkat baru ini lebih baik daripada teknik pengukuran keringat saat ini, yang melibatkan penempelan kain kain ke tubuh, membiarkannya menyerap keringat, kemudian mengukurnya untuk mengetahui berapa banyak keringat yang diproduksi.

“Alat ini membuat proses analisis keringat lebih kuantitatif, lebih bisa direproduksi, dan dari sudut pandang individu, lebih mudah untuk dilakukan,” katanya.

Seperti kulit kedua

A circular patch with electronics inside it, stuck onto someone's inner-wrist
Alat microfluidic ini menampung keringat dan menganalisisnya.

(Foto: J. Rogers/Northwestern University)

Profesor Rogers mengatakan, timnya telah melewati sejumlah tantangan untuk menciptakan perangkat seperti saat ini. Khususnya dalam mengembangkan sesuatu yang cocok dengan kulit dan melengket selama latihan.

“Menerapkan ke bahan biokompatibel, non-iritasi dan nyaman, itulah semua yang harus kami atasi,” tambahnya.

Perangkat ini telah diuji pada 9 voluntir yang bersepeda di laboratorium serta 12 pesepeda yang berlomba menempuh jarak jauh.

Tim peneliti mendapati perangkat ini tetap menempel di kulit tanpa menimbulkan ketidaknyamanan atau iritasi.

“Kami merekayasa perangkat ini agar halus seperti kulit, cocok dan fleksibilitas. Jadi Anda tidak merasakan iritasi mekanis atau abrasi,” kata Profesor Rogers.

Diharapkan setahun bisa dipasarkan

Kendala tersebut kini telah teratasi, dan Profesor Rogers memprediksi alat ini akan segera tersedia secara komersial.

“Saya kira bukan dalam tiga sampai lima tahun. Saya harap akan lebih cepat dari itu, dalam jangka satu tahun, tapi kita lihat saja,” katanya.

Tim peneliti mendesain alat ini agar bisa murah, yang bisa sekali pakai untuk beberapa jam dan kemudian dibuang.

“Kami ingin agar harganya beberapa dollar saja, semakin murah makin baik. Jika lebih dari $1 atau $2 kegunaannya akan terkompromikan,” kata Profesor Rogers.

Sementara industri kebugaran mungkin akan jadi sasaran perangkat ini, Profesor Rogers mengatakan ada juga mungkin juga dipakai di kalangan medis.

“Kami mencoba gunakan alat ini sebagai platform medeteksi glukosa dalam keringat, kemudian memasikan hubungan glukosa dalam keringat dan glukosa dalam darah, lalu menggunakan perangkat ini sebagai pre-screen dini bagi penentuan kadar glukosa pada penderita diabetes,” katanya.

Diterbitkan Pukul 12:30 AEST 24 November 2016 oleh Farid M.(tempo.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here