Banyak Remaja Merokok untuk Menurunkan Berat Badan

43
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | KESEHATAN – Dokter dan ahli kesehatan masyarakat menganggap bahwa orang menjadi perokok karena kecanduan nikotin. Namun, di kalangan remaja Amerika Serikat yang kecanduan rokok , 46 persen anak perempuan dan 30 persen anak laki-laki merokok untuk mengontrol berat badannya.

Merokok secara bermakna lebih umum dilakukan di antara remaja yang merasa perlu melangsingkan tubuh. Dalam survei, anak perempuan yang mengatakan ia “terlalu gemuk” hampir 225 persen lebih cenderung menjadi prokok untuk menurunkan berat badan dibandingkan dengan anak perempuan yang mengatakan berat badannya tidak bermasalah.

Untuk anak laki-laki, kelebihan berat badan kurang menyebabkan ia merokok, mungkin karena anak laki-laki lebih sedikit mendapat tekanan dari masyarakat untuk menurunkan berat badan dibandingkan dengan anak perempuan. Walaupun begitu, anak laki-laki yang mengatakan ia “terlalu gemuk” hampir 145 persen lebih cenderung merokok untuk menurunkan berat badan dibandingkan dengan anak laki-laki yang mengatakan berat badannya tidak bermasalah.

“Hal ini membantu kita lebih memahami mengapa orang memilih terlibat dalam perilaku kesehatan yang berisiko,” kata John Cawley, profesor analisis kebijakan dan manajemen di Universitas Cornell. “Merokok tidak selalu langsung untuk kesenangan atau kenikmatan; kadang rokok adalah sarana untuk mencapai tujuan lain.”

Remaja yang merokok adalah masalah kesehatan masyarakat yang sangat mengkhawatirkan, karena orang yang mulai merokok pada awal usia 20 tahun cenderung terus merokok di usia dewasa, dan tembakau adalah penyebab kematian No. 1 di Amerika Serikat yang dapat dicegah.

“Seratus tahun yang lalu, sebagian besar orang meninggal karena penyakit menular, seperti tuberkulosis dan influenza. Sekarang orang meninggal karena pilihannya sendiri,” kata Cawley. “Di semua tingkat pemerintahan, telah menyadari perlunya ditemukan cara untuk menghentikan remaja melakukan kebiasaan buruk untuk kesehatan.”

Untuk penelitian, yang diterbitkan dalam jurnal Ekonomi Kesehatan, peneliti menerapkan konsep ekonomi yang terkenal—adanya permintaan—untuk merokok di usia remaja. Permintaan akan sesuatu jika tidak hanya untuk kesenangan, berarti menjadi sarana seseorang mencapai tujuan lain; misalnya, seseorang minta  suntikan flu bukan karena merasa senang disuntik tetapi untuk mendapatkan perlindungan terhadap penyakit flu.

“Awalnya, remaja tidak menikmati merokok sama sekali. Namun  mereka tetap merokok dengan maksud tertentu, seperti menurunkan berat badan. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa pada kenyataannya rokok meningkatkan metabolisme dan menurunkan nafsu makan. Andaikata hal ini tidak benar, orang-orang tetap mempercayainya, dari sinilah permintaan untuk merokok berasal,” kata Cawley.

Kunci untuk penelitian adalah dataset (kumpulan dari beberapa tabel)—survei Perilaku Kesehatan Anak di Usia Sekolah—untuk pertama kalinya secara langsung bertanya kepada peserta penelitian apakah mereka menjadi perokok untuk menurunkan berat badan. “Ini adalah data rinci pertama mengenai motivasi orang menjadi perokok sebagai sampel perwakilan nasional dari remaja Amerika Serikat,” kata John Cawley.

Peneliti menganalisis data survei tahun 2001-2002 dan 2005-2006 terhadap hampir 10.500 anak sekolah yang berusia 11 tahun, 13 tahun atau 15 tahun di Amerika Serikat. Anak-anak tersebut diukur tinggi dan beratnya, yang digunakan peneliti untuk menghitung indeks massa tubuh mereka. Anak-anak tersebut juga diminta melaporkan perkiraan berat badannya. Ketika anak-anak tersebut ditanya “Apakah anda pikir tubuh anda …,” mereka menjawab “terlalu kurus,” “agak kurus,” “sudah ideal,” “agak gemuk” atau “terlalu gemuk.” Pada survei ini, ditanyakan pada anak-anak apakah mereka telah melakukan sesuatu untuk menurunkan berat badan, tindakan apa itu, dan apakah mereka merokok dan seberapa sering mereka merokok.

Remaja kulit putih dua kali lebih cenderung menjadi perokok untuk menurunkan berat badan dibandingkan dengan remaja blasteran Afrika-Amerika.

John Cawley berkata bahwa temuan ini berpengaruh terhadap kebijakan anti- rokok. Misalnya, FDA (BPOM-AS) melarang perusahaan rokok untuk mengiklankan bahwa rokok dapat membantu seseorang untuk menurunkan berat badan.( Cornell University/Vivi)(erabaru.net)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here