Belajar Etika dari Kasus JP Morgan Chase

76
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | KRIMINAL – Quid pro quo. Kata-kata itu tiba-tiba menjadi populer kembali sejak harian New York Times, Agustus 2013 lalu membocorkan dokumen rahasia tentang investigasi Otoritas terhadap pola rekrutmen pegawai berbau “KKN” yang dilakukan oleh anak perusahaan JP Morgan Chase di Hong Kong untuk operasinya di Tiongkok. Dalam praksis politik ada kredo “give me your vote, I’ll give you mine”. Saling menguntungkan, bukan? Lalu, kenapa dipermasalahkan?

Kata “katabelece” sangat populer di sini. Rekomendasi atau permintaan dari pejabat yang berada dalam posisi pengambil-keputusan kepada perusahaan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu untuk keuntungan sang pemberi rekomendasi.

Walaupun penerima “bisikan manis” mungkin tidak memperoleh manfaat sama sekali, namun tetap dengan terpaksa memenuhi permintaan sang penguasa. Kasus JP Morgan Chase (JPMC) di Tiongkok lebih halus dari model bisikan manis ala pejabat Indonesia. Toh bukan hanya dipermasalahkan secara etika, tapi juga dianggap sebagai pelanggaran oleh penegak hukum di Amerika Serikat.

Substansinya: JPMC merekrut anak-anak petinggi Tiongkok, terutama eksekutif puncak perusahaan negara, untuk tujuan memuluskan transaksi bisnis. Dari sudut pandang bisnis, hal ini merupakan win-win deal. Keluarga ruling elite di Tiongkok memperoleh banyak keuntungan dari menitipkan anak atau keluarganya bekerja di bank investasi raksasa semacam JPMC.

Selain gaji yang tinggi, mengerek citra organisasi di kalangan bisnis di dalam negeri, juga secara langsung mengangkat citra pekerja yang dititipkan bekerja di situ. JPMC, di sisi lain, memperolah keuntungan bisnis yang luar biasa. Kehadiran anak-anak dari pemimpin atau eksekutif puncak BUMN membuka lahan bisnis yang lukratif.

Rekrutmen Mr. Tang, anak chairman China Everbright Group, misalnya, membuktikan hal itu. Sebelum merekrut Mr. Tang, JPMC hampir tak memiliki hubungan bisnis apapun dengan grup tersebut. Namun, setelah Mr. Tang berada di JPMC, China Everbright menjadi salah satu klien utama perusahaan. US Securities & Exchange Commission juga memeriksa dokumen Zhang Xixi. Wanita ini adalah puteri dari Zhang Shuguang, mantan Chief Engineer of China’s Railway Ministry.

Walaupun Kementerian Kereta Api tidak pernah secara langsung memakai jasa JPMC, tapi China Railway Group, yang bekerja untuk pemerintah, kemudian menggunakan JPMC sebagai penasihat dan penjamin emisinya ketika melakukan IPO pada tahun 2007.

JPMC secara terbuka menyebut rekrutmen anak-anak pejabat sebagai Sons and Daughters program itu, dimotivasi oleh target bisnis. Mereka menyebutnya directly attributable linkage to business opportunity dan a tool to influence senior officials. JPMC Hong Kong bahkan membuat catatan khusus yang digunakan untuk menelusuri kinerja bisnis, jumlah pendapatan, yang berhasil diperoleh secara langsung dari setiap rekrutmen.

Dalam kurun waktu tujuh tahun, JPMC telah merekrut tidak kurang dari 200 tenaga, baik pegawai penuh maupun kontrak atas permintaan klien dan calon klien. Lebih dari separuhnya berasal dari referensi pejabat pemerintah dan petinggi BUMN Tiongkok. Sebagian mereka memang memiliki latar belakang akademis yang memadai –Ms. Zhang lulusan Standford University–, tapi tidak kurang juga yang hanya sebagai petugas fotocopy, atau lulusan universitas tapi dengan nilai yang buruk dan catatan perilaku yang buruk pula.

US Department of Justice menyebut perilaku bisnis JPMC dalam rekrutmen tersebut sebagai “sweetening the deal that crossed a legal line. Signs of hidden bribery“.

Kepala Divisi Kriminal Department of Justice Leslie R. Caldwell bahkan menyebutnya sebagai “bribery by another name”. Tidak ada tuntutan pelanggaran kriminal kepada JPMC. Penyelesaian kasus ini sepenuhnya dilakukan dengan hukuman denda. JPMC selain mengakui kelalaiannya, sangat kooperatif dalam investigasi, juga telah memecat enam eksekutifnya yang terbukti terlibat dalam skema Sons and Daughters program tesebut. Kamis, 17 November, minggu lalu, JPMC menyatakan setuju untuk membayar denda sebesar US$ 264 juta.

Denda sebesar itu berasal dari tiga lembaga: SEC menetapkan denda sebesar US$ 130 juta, Divisi kriminal Department of Justice di Washington menetapkan denda sebesar US$ 72 juta, sementara Federal Reserve mendenda US$ 62 juta. Denda itu kembali menempatkan bank raksasa ini sebagai pembayar denda raksasa pula. Jumlah US$ 264 juta sejatinya relatif kecil dibandingkan dengan denda yang telah dibayarkan

JPMC dalam kasus sebelumnya, seperti skandal perdagangan ikan paus di London sebesar US$ 6 miliar dan miss selling mortgage back securities –yang menjadi pemicu krisis keuangan tahun 2008—sebesar US$ 13 miliar, beberapa waktu lalu. Dari kacamata penegakan peraturan, kasus rekrutmen JPMC membuka jalan bagi investigasi bank-bank raksasa lain yang melakukan praktik serupa di Tiongkok, seperti HSBC,

Goldman Sachs, dan Deutsche Bank. Namun dari perspektif politik, kelanjutan investigasi pada bankbank lain akan ditentukan pula oleh pergantian presiden AS. Dilantiknya Donald Trump sebagai Presiden, Januari 2017 mendatang, sedikit banyak akan memengaruhi kebijakan Pemerintah Federal dalam kasus ini. Mr. Ceresney yang memimpin Tim Investigasi dan beberapa angggota lainnya akan mengakhiri jabatannya, pada akhir bulan ini.

Apakah kasus ini memiliki makna bagi perkembangan pasar modal di Indonesia? Biarlah pertanyaan itu kita jawab masing-masing. Sebagai seorang yang menghabiskan seluruh usia kerja di pasar modal, saya telah menuliskan keyakinan saya belasan kali bahwa integritas merupakan faktor kritikal bagi system keuangan yang terpercaya.

Ada ucapan John Pierpont “J. P.” Morgan Sr, pendiri JP Morgan, yang telah meninggal lebih dari 100 tahun lalu yang pernah saya baca: “Go as far as you can see; when you get there you’ll be able to see farther”. Agresivitas dalam mengembangkan usaha perlu. Tapi hasilnya akan lebih indah bila dihiasi dengan etika.

*) Hasan Zein Mahmud, Tim Ekselensi Learning Center, Pengajar pada Kwik KIan Gie School of Business

(beritasatu.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here