Detik-Detik Ribuan Aparat ‘Serbu’ Petani Majalengka

24
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | INTERNASIONAL – Konflik antara petani dengan polisi terjadi di Desa Sukamulya, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, pada Kamis (18/11) seakan mencapai puncaknya. Kisruh tersebut melibatkan ratusan petani dan ribuan personel gabungan.

Para petani Desa Sukamulya menolak pengukuran lahan di desa mereka, sebagai bagian dari pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Aparat gabungan yang diterjunkan kemarin terdiri dari Polda Jawa Barat, Polres Majalengka, TNI dan Satpol PP, dengan jumlah sekitar 1.500 personel.

Desa Sukamulya memiliki luas sekitar 735 hektare. Kawasan itu menjadi salah satu area yang akan digunakan untuk lahan BIJB sekitar 1.800 hektare.

Dampak dari konflik tersebut, enam orang warga Sukamulya ditahan, yaitu Zaenudin, Carsiman, Tarjo, Darni, Sunardi, dan Junen. Empat di antaranya langsung dibawa ke Polda Jawa Barat.

Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Yusri Yunus sebelumnya mengatakan, enam orang itu diamankan karena membawa senjata tajam dan ketapel yang diduga untuk melukai polisi. Polisi pun lantas memberi peringatan dan mengusir dengan gas air mata.

Selain itu, menurut Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) dalam keterangan persnya, 16 orang juga mengalami luka akibat terkena serpihan material gas air mata yang ditembakan oleh polisi. Sekitar 70 hektare lahan warga turut rusak akibat terinjak-injak.

Berikut, kronologi konflik antara ribuan personel gabungan dengan ratusan petani di Majalengka berdasarkan versi KPA.

Pukul 08.25 WIB
Polisi dan warga mulai berhadap-hadapan di lahan persawahan, pintu masuk ke desa.

Pukul 10.40 WIB
Aparat kepolisian memasuki area persawahan. Masyarakat melakukan aksi penolakan pengukuran. Negosiasi terjadi di tengah sawah antara polisi dan warga.

Pukul 12.36 WIB
Terus mendapat pengadangan dari warga, polisi mulai melakukan pemukulan dan menembakkan gas air mata. Warga pun terpukul mundur dan berlarian. Akibatnya, 16 orang terluka akibat serpihan gas air mata dan enam orang ditahan.

Pukul 15.00 WIB
Polisi terus masuk ke pemukiman. Jalur masuk ke Desa Sukamulya diblokade oleh personel gabungan.

Pukul 20.00 WIB
Polisi mendirikan tenda di wilayah pemukiman warga ditemani 11 truk yang mengangkut mereka. Warga ketakutan dan memutuskan berkumpul di balai desa.

Jokowi Tak Serius

Sekretaris Jenderal KPA Dewi Kartika mengutuk keras penyerangan polisi terhadap warga yang mempertahankan desanya dari penggusuran.

“Rentetan tindakan yang dilakukan oleh aparat ini mengindikasikan bahwa pemerintah Jokowi–JK tidak pernah serius dalam menjalankan kebijakan reforma agraria yang telah ia canangkan dalam program Nawacita dan Strategi Nasional Reforma Agraria,” kata Dewi dalam keterangannya.

KPA, menurut Dewi Kartika, mendesak Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menghentikan proses pengukuran paksa hingga ada proses dialog dan mediasi yang terbuka di antara semua pihak terkait.

“Menuntut Kapolda Jawa Barat untuk segera menarik pasukan mereka yang terlibat dalam proses pengukuran paksa dan membebaskan 6 orang warga yang ditangkap,” kata Dewi.

Diketahui, bandara itu akan dikelola PT BIJB, satu BUMD yang dibentuk pada 2013 lalu. Tak hanya bandara, perusahaan itu juga akan membuat Aerocity yang diperkirakan dibangun di atas lahan 3.200 hektare.

Dalam situs resminya, PT BIJB menyatakan bandara itu diproyeksikan awalnya untuk mengangkut sekitar 5 juta penumpang per tahun. Pembangunan itu sendiri dibagi tiga fase, dan tahap pertama adalah beroperasinya landasan pacu 3.500 meter pada 2017.(rel/asa)(cnnindonesia.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here