Peran Perawat Belum Optimal

224
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | KESEHATAN  – Pemerintah belum mengoptimalkan peran profesi perawat untuk pembangunan kesehatan. Padahal, dengan kompetensinya, para perawat bisa turut mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan untuk sektor kesehatan. Namun, itu perlu kebijakan perencanaan sumber daya manusia bidang keperawatan.

Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Junaiti Sahar menilai, Kementerian Kesehatan kurang memperhatikan pengembangan profesi keperawatan.

“Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan dihilangkan di struktur Kemenkes sehingga arah kebijakan perawat kurang tajam,” ujarnya, di sela The First International Nursing Scholars Congress 2016, di Depok, Jawa Barat, Selasa (15/11).

Arah kebijakan yang diperlukan yakni ketersediaan perawat demi memperkuat promotif dan preventif. Lulusan perawat berpendidikan diploma 3 (D-3) lebih banyak dibanding ners (berpendidikan strata 1 dan profesi). Kini 500-an institusi pendidikan vokasional keperawatan menghasilkan lulusan D-3 dan 200-an institusi menghasilkan S1-Ners.

Pemenuhan kebutuhan perawat di daerah tak cukup dengan perawat D-3 karena belum punya kemampuan komprehensif menuntaskan masalah. Pemerintah perlu menempatkan spesialis keperawatan keahlian di atas ners di kabupaten atau kota.

Prof Catherine Fowler, pengajar Keperawatan Kesehatan Anak dan Keluarga University of Technology Sydney, Australia, menjelaskan, perawat lebih paham kondisi kesehatan pasien dan komunitas dibandingkan profesi kesehatan lain. Namun, perawat kurang dilibatkan dalam memutuskan terapi atau strategi kesehatan komunitas.

Padahal, menurut Presiden Asosiasi Pendidikan Keperawatan Taiwan Prof Mei-Chih Huang, perawat berperan penting menangani dan mencegah penyakit, termasuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), misalnya menekan angka kematian bayi. (JOG)(htthealth.kompas.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here