Mengenal Talasemia, Penyakit Penghancur Sel Darah Merah

61
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | KESEHATAN – Indonesia masuk dalam kelompok negara berisiko tinggi talasemia. Data resmi terakhir talasemia di Indonesia menunjukkan jumlah penderitanya sudah lebih dari 6.000 orang. Angka ini terus meningkat setiap tahun. Prevalensi talasemia bawaan di negara kita 3-8 persen. Jika persentasenya lima persen saja, diperkirakan sekitar 3.000 bayi penderita talasemia lahir di Indonesia tiap tahun.

Talasemia merupakan penyakit kelainan genetik yang mengganggu produksi hemoglobin. Akibatnya sel darah merah menjadi mudah rusak atau berumur lebih pendek dari rata-rata. Sel darah normal umumnya mencapai umur 120 hari, sementara sel darah merah penderita talasemia hanya 23 hari. Ini menyebabkan penderita talasemia mengalami anemia.

Demikian dikutip dari Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan, Senin (31/10/2016).

Lebih parah lagi, penderita talasemia mayor harus menggantungkan hidupnya pada transfusi darah seumur hidup. Talasemia mayor terjadi jika kedua orang tua mempunyai pembawa sifat talasemia. Biaya transfusi darah tentu saja tidak murah. Dalam satu bulan, penderita talasemia mayor rata-rata harus mengeluarkan biaya Rp 7-10 juta untuk pengobatannya.

“Sebetulnya, ada jalan untuk mencegah bertambahnya jumlah penderita talasemia baru, yakni lewat screening darah. Pemerintah di sejumlah negara, seperti Italia dan Yunani, bahkan telah menjadikan screening ini sebagai syarat wajib untuk menikah,” jelas keterangan itu.

Jika salah satu atau kedua pasangan terdeteksi membawa sifat talasemia, sebaiknya mereka tidak menikah untuk memutus rantai penyebaran talasemia Namun jika tetap menikah dan sang istri kemudian hamil, kehamilannya perlu diperiksa pada usia 12-14 minggu. Jika janin yang dikandung ternyata sakit atau memiliki sifat pembawa, keputusan diserahkan kepada orang tuanya, apakah tetap akan dipertahankan atau tidak.

Di Indonesia sendiri, meski belum diwajibkan pemerintah, screening ini mulai digalakkan, terutama pada peringatan Hari Talasemia Sedunia yang jatuh tiap 8 Mei. Pada peringatan tahun lalu misalnya, sekitar 150 anak suspect talasemia di Aceh mendapat screening darah. Aceh merupakan provinsi dengan prevalensi thalassaemia tertinggi di Indonesia, diikuti oleh DKI Jakarta, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, dan Gorontalo.

Talasemia (bahasa Inggeris: Thalassaemia) adalah penyakit kecacatan darah. Talasemia merupakan keadaan yang diwarisi, iaitu diwariskan dari keluarga kepada anak. Kecacatan gen menyebabkan hemoglobin dalam sel darah merah menjadi tidak normal.

Mereka yang mempunyai penyakit Talasemia tidak dapat menghasilkan hemoglobin yang mencukupi dalam darah mereka.

Hemoglobin adalah bahagian sel darah merah yang mengangkut oksigen daripada paru-paru keseluruh tubuh. Semua tisu tubuh manusia memerlukan oksigen. Akibat kekurangan sel darah merah yang normal akan menyebabkan pesakit kelihatan pucat kerana paras hemoglobin (Hb) yang rendah (anemia).(netralnews.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here