Festival Bocah Cilik 2016, Tanamkan Revolusi Mental Sejak Dini

35
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BUDAYA DAN PARIWISATA –  Dalam rangka perayaan ulang tahun  keempat, Komunitas Jendela Jakarta berkerja sama dengan Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Republik Indonesia dan mitra terkait lainnya, menggelar Festival Bocah Cilik, Minggu, 30 Oktober 2016.

Acara yang diselenggarakan di Bumi Perkemahan dan Taman Wisata Cibubur, Taman Lalu Lintas – Taman Daihatsu, itu hadir sebagai wadah mengenalkan kembali anak dengan permainan tradisional yang efektif untuk mempertemukan anak-anak sehingga melatih kemampuan interaksi sosial.

Penampilan Polisi Cilik binaan Daihatsu yang sangat mahir dalam hal baris-berbaris membuka rangkaian acara dan menambah semangat para peserta di lokasi. Para peserta berasal dari komunitas baca perpustakaan di Jakarta, komunitas anak, para pelajar, dan masyarakat umum dengan rata-rata umur 5 hingga 12 tahun.

Festival yang mengangkat tema Revolusi Mental Dimulai Sejak Dini itu berisi rangkaian kegiatan edukatif dan menarik. Acara dilanjutkan dengan talk show Revolusi Mental yang menghadirkan narasumber Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kemenko PMK, Dr Haswan Yunaz, MM, Msi, Kak Taufan, dari Komunitas Jendela serta Kang Umam dari Kompas.

Dr Haswan Yunaz menyampaikan bahwa Gerakan Nasional Revolusi Mental berawal dari keinginan berubah, perubahan cara berpikir, cara bersikap, cara berperilaku dan menjadi pribadi dengan ciri berintegritas tinggi, etos kerja yang baik, serta gotong royong.

“Ciri dari mereka yang berevolusi mental itu, pertama, dia memiliki integritas yang tinggi, dapat dipercaya, jujur, memiliki rasa hormat yang tinggi serta disenangi oleh teman-temannya. Kedua, etos kerja yang baik. Maksudnya adalah semangat belajarnya tinggi dan pantang menyerah. Ciri terakhir ialah mampu bergotong royong, bekerja sama untuk kebaikan bersama pula,” jelasnya.

Di sela-sela talk show, Haswan menanyakan kepada peserta yang berumur 5 hingga 12 tahun tentang cita-cita mereka pada masa mendatang.

“Siapa yang mau jadi pemimpin di masa depan? Ingin jadi presiden? Mau jadi menteri? Mau jadi insinyur? Mau jadi dokter? Mau jadi pengusaha?” ucap Haswan, bertanya. Sontak peserta menjawab dengan penuh semangat, “Saya, saya, saya.”

Haswan kembali melanjutkan bahwa semua yang mereka cita-citakan itu harus diwujudkan. Sebab, siapa yang bermimpi dan berani bermimpi, dia pasti bisa mengerjakan dan mencapainya.

“Siapa yang bermimpi, berarti itu satu petunjuk bahwa dia bisa mencapai mimpinya. Maka dari itu, adik-adik harus bermimpi setinggi langit,” kata Haswan, memotivasi.

Inti dari revolusi mental yakni harus ada perubahan dalam diri seseorang. “Kita harus menjadi agen perubahan. Berubah dari pasif menjadi aktif, dari mengeluh menjadi pemberi solusi. Dari malu-malu menjadi berani, dari malas menjadi rajin, dari tidak mau belajar menjadi rajin belajar, dari tidak berprestasi menjadi berprestasi. Ke depannya, hari ke hari hidup harus menjadi lebih baik,” tutur Haswan.

Kak Taufan dari Komunitas Jendela melanjutkan bahwa Revolusi Mental mudah untuk dilakukan dan dapat dimulai dari membaca buku.

“Dengan baca buku, kita akan banyak ilmu, dengan banyak ilmu kita bisa menilai untuk merubah diri kita, keluarga kita hingga bangsa kita menjadi lebih baik lagi. Kita harus berbuat apa pun yang baik untuk sesama,” tambahnya.

Kang Umam menyampaikan materi tentang Revolusi Mental ini dengan cara yang unik, melalui permainan hompimpa dan lagu ampar-ampar pisang. “Hompimpa dan ampar-ampar pisang berbicara mengenai hubungan batin dengan Tuhan dan orang tua. Harus ada komunikasi yang baik dengan Tuhan dan tentunya dengan orang tua, karena peran orang tua sangat berdampak pada pembentukan mental anak-anak. Umur anak-anak adalah umur bermain. Bermain tapi tak main-main. Bermain untuk membentuk skill dan karakter yang baik,” ujarnya.

Harapan ketiga narasumber tersebut adalah anak-anak Indonesia tumbuh menjadi agen perubahan yang menjunjung tinggi nilai revolusi mental yaitu integritas, kerja keras, dan gotong royong dan menjadi generasi yang berjuang menjadikan Indonesia menjadi lebih baik.

Anak-anak selama acara hingga selesai diajak untuk tidak membuang sampah sembarangan, karena membuang sampah pada tempatnya merupakan praktik dari semangat revolusi mental. Pribadi yang revolusi mental harus memahami dan menghargai hak dan kewajiban untuk menjaga kebersihan dan tertib berlalu lintas.

Selain talk show interaktif mengenai revolusi mental, Festival Bocah Cilik juga menyuguhkan acara tak kalah seru, seperti Dolanan Tradisional, Lomba Mewarnai, Lomba Fashion Show, Lomba Puzzle, Mendongeng, Workshop Layang-layang, Workshop Membatik, Pameran Foto Jendela, serta Daur Ulang Sampah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here