MEMITIGASI DAMPAK NEGATIF DARI KEMAJUAN TEKNOLOGI

54
SHARE

BHARATANEWS.ID – Bukti nyata bahwa manusia merupakan makhluk berakal adalah dengan kemunculan teknologi. Rekam jejak perkembangan teknologi sejalan dengan perkembangan peradaban manusia.

Secara umum, teknologi didefinisikan sebagai entitas, benda maupun tak benda, yang diciptakan secara terpadu melalui perbuatan dan pemikiran untuk mencapai suatu nilai.

Dalam konteks ini, teknologi merujuk pada alat dan mesin yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah di dunia nyata.

Ibarat dua sisi mata uang, kemajuan pesat teknologi yang kita rasakan mulai bertransformasi menjadi bom waktu yang siap mengancam peradaban manusia.

Korelasi yang semakin kuat antara umat manusia dengan teknologi menggantikan pola hubungan manusia, menumbuhkan kedekatan atau keintiman dengan benda mati.

Dengan adanya teknologi, informasi apapun dari segala penjuru dunia bisa kita dapatkan dalam hitungan detik, hiburan dalam bentuk apapun sudah dapat kita akses tanpa batas.

Akan tetapi, ternyata kemewahan ini justru menimbulkan polemik baru yaitu, manusia dihadapkan pada permasalahan krisis moral.

Menjamurnya tontonan bahkan iklan yang tidak mendidik yang bisa setiap saat diakses semua kalangan baik tua maupun muda bahkan anak di bawah umurpun di berbagai website.

Kemajuan teknologi akan semakin memudahkan pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) karena akses mudah ke data yang mendorong manusia untuk melakukan tindakan plagiatis yang berujung pada kecurangan.

Dari sisi komunitas bisnis, saat ini hampir semua perusahaan melakukan investasi dan atau implementasi IT untuk menunjang bisnis mereka.

Perubahan dari sistem manual ke sistem komputerisasi tidak hanya menyangkut perubahan teknologi tetapi juga perubahan perilaku dan organisasional.

Sistem yang semula dimaksudkan untuk memudahkan para penggunanya berakibat fatal jika dibarengi dengan kecerobohan bahkan intensi untuk melakukan moral hazard dalam menjalankan sistem tersebut.

Iklim persaingan yang sangat ketat dapat membuat Organisasi memanipulasi laporan keuangan hanya untuk memperoleh kucuran modal dari stockholder, pebisnis secara sadar menyimpan kekayaannya di negara lain demi menghindari pajak negara, berbagai kasus pembobolan bank yang dilakukan oleh para cracking, menjadi saksi betapa krisis moral perlu mendapatkan perhatian khusus bagi siapa saja.

Melihat hal tersebut, tentu saja pemerintah tidak berdiam diri. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk memitigasi dampak negatif dari kemajuan teknologi.

Dari hasil pemikiran ini lahir dua undang-undang, yaitu Undang-Undang Hak Cipta (UUHC) dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUITE).

Sebenarnya tanpa UUHC dan UUITE kita telah memiliki etika penggunaan komputer. Etika ini dinamakan “Sepuluh Kode Et

ik Penggunaan Komputer” atau The Ten Commandments of Computer Ethics. Etika ini dikeluarkan oleh Computer Ethics Institute.

Bila pengguna benar-benar menerapkannya maka dampak negatif dari pemakaian komputer dapat dicegah.

Selain itu, Pemerintah juga mengeluarkan Undang-Undang Hak Cipta (UUHC) dalam bentuk Undang-Undang nomor 19 tahun 2002 dan Undang-Undang ITE. Namun, masyarakat lebih akrab dengan istilah Undang-Undang Cybercrime.

Dengan ancaman hukuman dan denda yang cukup tinggi diharapkan agar pelanggaran di dunia maya tidak terjadi lagi.

Bila penanggulangan dampak negatif kemajuan teknologi hanya menjadi PR bagi pemerintah, rasanya tidak adil dan tidak akan mungkin terselesaikan.

Alangkah lebih baik bila masalah krisis moral ini dijadikan PR bagi kita bersama.

Di dalam keluarga, Orangtua memiliki kewajiban untuk menanamkan pendidikan moral kepada anak sedari dini, lebih selektif dalam memilih hiburan dan tontonan yang layak dikonsumsi serta lebih protektif lagi terhadap keselamatan anak terhadap pengaruh dunia maya.

Dari sisi dunia pendidikan, pihak akademisi harus lebih banyak lagi menyelipkan pembelajaran etika ke dalam kurikulum.

Tak lupa pula kita sebagai individu harus memiliki filter diri yang cukup kuat untuk menolak pengaruh – pengaruh internal maupun eksternal yang mengancam rusaknya moral pribadi.

Mulailah dari hal terkecil yang dapat kita lakukan. Karena menurut pepatah orang bijak, Hal besar berasal dari sekumpulan hal – hal yang kecil, bukan?(*/jat)

Ditulis oleh : WULAN RAHMAWATI

Mahasiswi Program Magister Sains Akuntansi FEB UGM Yogyakarta.